Kejahatan child grooming kerap luput dari perhatian karena prosesnya tidak instan dan jarang terlihat mencurigakan di awal.
Penulis: Tim Disko
Editor: Tim Disko

KBR, Jakarta – Kejahatan child grooming kerap luput dari perhatian karena prosesnya tidak instan dan jarang terlihat mencurigakan di awal. Tidak ada paksaan terang-terangan, semuanya dibangun lewat kedekatan emosional yang terasa wajar.
Menurut Mental Health Practitioner & Researcher Maizan Dianati, kata “sayang” dijadikan alat manipulasi untuk melakukan grooming kepada anak-anak dan remaja.
Apa Itu child grooming?
Child grooming adalah eksploitasi seksual terhadap anak atau remaja yang dilakukan orang dewasa lewat pendekatan emosional. Prosesnya bertahap, halus, dan jarang disadari korban.
“Grooming itu bukan cuma perbedaan pada usianya, tetapi ada perbedaan fundamental lainnya,” ujar Maizan dalam Podcast Disko “Diskusi Psikologi”.
Grooming terjadi karena ada ketimpangan relasi kuasa dan kontrol emosional. Pelaku biasanya punya posisi yang lebih dominan, baik secara usia, pengalaman, maupun psikologis. Perlahan korban dimanipulasi agar merasa bergantung dan sulit melepaskan diri.

Bagaimana grooming bekerja?
Proses grooming berlangsung sistematis. Pelaku memulai dengan menciptakan rasa aman, lalu memperkuat ikatan emosional sebelum akhirnya mengambil kontrol.
“Pertama akan dilakukan adalah love bombing. Pelaku karena ingin membentuk rasa trust-nya cepat sama korbannya, di awal hubungan akan kasih pujian yang banyak,” jelasnya.
Di tahap awal, pelaku mendekati korban melalui obrolan ringan, candaan, atau dukungan emosional yang konsisten. Setelah kepercayaan korban terbentuk, pelaku mulai memperkenalkan kontrol. Misalnya dengan meminta korban merahasiakan hubungan mereka, membatasi relasi korban dengan orang lain, atau membingkai relasi mereka menjadi sesuatu yang ‘spesial’.
Kenapa anak dan remaja rentan?
Anak dan remaja berada di fase perkembangan emosional dengan mencari validasi dan penerimaan. Kondisi tersebut membuat mereka gampang percaya pada sosok yang perhatian dan konsisten.
“Anak-anak yang kelihatan kurang afeksi dari lingkungan sekitarnya, pelaku akan mudah masuk, sehingga anak tersebut hanya memiliki sumber afeksi dan hubungan dengan pelaku kemudian perasaan bahagianya jadi kuat,” ucap Maizan.
Di era digital, relasi semacam ini semakin mudah terbentuk melalui media sosial, game online, dan ruang percakapan privat yang sulit dipantau orang tua.

Tanda-tanda yang sering diabaikan
Perubahan perilaku pada anak atau remaja kerap dianggap "normal" sebagai bagian dari fase tumbuh kembang. Padahal, itu bisa menjadi sinyal awal grooming.
“Kalau kita punya adik dan kita tahu dia punya relasi sama orang yang jauh lebih tua dan kalau kita tanya-tanya, kok, dia tertutup banget? Itu mungkin bisa jadi sedikit warning sign ya,” jelas Mutiara Mahari, psikolog klinis sekaligus host Podcast Disko “Diskusi Psikologi”.
Selain menjadi lebih tertutup, tanda-tanda grooming yang patut diwaspadai di antaranya, menjaga rahasia berlebihan, terlalu protektif terhadap ponsel, atau menunjukkan perubahan emosi yang drastis.
Untuk memahami child grooming secara lengkap, kamu dapat menonton Podcast Disko berikut:
Baca juga:
- Bahagia Nggak Instan, Dibangun Pelan-Pelan
- Takut Menikah? Ini Masukan Relationship Coach Lex DePraxis buat Gen Z




