indeks
Bahagia Nggak Instan, Dibangun Pelan-Pelan

Psikologi klinis Mutiara Maharini berpandangan berbagai bentuk kesenangan instan sering dipakai untuk menghindari perasaan tidak nyaman.

Penulis: Tim Disko

Editor: Tim Disko

Audio ini dihasilkan oleh AI
Google News
Ilustrasi membandingkan kebahagiaan instan yang tidak sehat dengan kebahagiaan jangka panjang yang dicapai melalui proses dan gaya hidup sehat, menekankan pentingnya kesehatan mental.
Ilustrasi kebahagiaan instan dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI)

KBR, Jakarta - Siapa sih yang nggak pengin happy? Saat lara melanda, pengin-nya cepat-cepat berlalu, langsung digantikan dengan perasaan senang, suka ria, bahagia. 

Sayangnya, karena terlampau ngebet agar bahagia itu datang segera, secepat kilat, akhirnya yang dikejar adalah kesenangan-kesenangan instan. Misalnya dengan konsumsi zat berbahaya, main judi online, atau check out barang-barang tanpa berhitung matang. Kelihatannya sih bikin efek bahagia, tetapi sejatinya semu, malah berdampak negatif.  

Menurut psikolog klinis Mutiara Maharini, banyak orang ingin kabur dari perasaan tidak nyaman seperti stres, kesepian, bosan, atau hampa, dengan mengejar berbagai bentuk kesenangan instan.

“Kita pengin senangnya sekarang, meskipun sayangnya, bisa berdampak buruk nanti,” jelas Mahari yang juga merupakan host Podcast Disko "Diskusi Psikologi".

Padahal, kesenangan instan itu meski hasilnya tampak cepat, tetapi harus dibayar mahal lewat ekses-eksesnya yang merusak kesehatan mental, relasi, dan masa depan kita sendiri.

Kabar baiknya, kebahagiaan (happiness) tetap bisa diciptakan. Tanpa perlu konsumsi zat berbahaya. Tanpa harus lari dari diri sendiri. Namun, caranya memang berbeda, lebih pelan, lebih sadar, dan lebih jujur.

Kesenangan Instan yang Begitu Menggoda


Kesenangan instan bekerja seperti tombol darurat. Saat emosi nggak enak muncul, otak langsung mencari cara tercepat untuk mematikannya. Masalahnya, tombol ini bukan solusi, tetapi hanya penunda. Perasaan nggak nyaman itu nggak benar-benar hilang, cuma ditumpuk dan suatu saat akan muncul lagi—biasanya dengan intensitas yang lebih besar.

Kata Mahari, pola ini berkaitan erat dengan impulsivitas dan risiko adiksi.

Bagaimana agar tak tergoda kesenangan instan? Mahari membagikan beberapa tips:

1. Micro-Mindfulness: 5 Detik yang Mengubah Banyak Hal


Saat dorongan tiba-tiba muncul: konsumsi zat berbahaya, buka aplikasi judol, belanja impulsif atau pelarian instan lain, cobalah jangan langsung dituruti. Beri jarak pada keinginan itu.

Berhenti.
Lima detik saja.
Tarik napas.

Lalu tanyakan dengan jujur ke diri sendiri:
Gue lagi beneran pengen, atau gue lagi stres, kesepian, capek, atau bosen?”

Pertanyaan sederhana ini penting banget. Karena sering kali yang kita kejar bukan aktivitasnya, melainkan perasaan di baliknya. Dengan menyadari trigger-nya, kamu sedang memutus sirkuit otomatis antara dorongan dan tindakan. Langkah-langkah kecil, tetapi berdampak besar.

Sebuah tangan memegang jam alarm perak klasik dengan latar belakang putih, merepresentasikan urgensi atau manajemen waktu.
Ilustrasi waktu instan vs slow release
Advertisement image

2. Slow-Release: Senang Itu Proses

Otak yang terbiasa dengan dopamin instan lama-lama “kebakar”. Otak jadi susah menikmati hal-hal sederhana. Makanya, kita perlu “rehabilitasi kecil-kecilan” lewat aktivitas slow-release.

Aktivitas slow-release adalah hal-hal yang nggak langsung bikin senang, tetapi pelan-pelan ngasih rasa puas yang lebih stabil. Olahraga, bercocok tanam, menulis, belajar skill baru, masak, atau ngerjain sesuatu dengan tangan dan fokus.

Awalnya mungkin terasa hambar. Itu normal. Justru di situ otak kamu sedang belajar ulang: bahwa kebahagiaan nggak harus datang seketika. Rasa puas yang dibangun pelan-pelan itu jauh lebih tahan lama.

3. Pasang "Hambatan Tambahan" 

Kalau sesuatu terlalu mudah diakses, otak impulsif hampir selalu menang. Maka, bantu diri sendiri dengan menambah hambatan. 

Hapus aplikasi belanja dari HP

Log out dari akun yang sering jadi pemicu

Taruh vape atau barang pemicu di tempat yang susah dijangkau

Kalau perlu, hapus m-banking sementara. 

Hambatan-hambatan ini memberi jeda agar logika masuk sebelum emosi instan sempat mengambil alih. Kadang, yang kita butuhkan cuma waktu tambahan untuk berubah pikiran.

Pasangan muda tersenyum bahagia saat memeriksa barang belanjaan dari tas bertuliskan 'SALE', menggambarkan euforia diskon dan promosi.
Ilustrasi berbelanja secara impulsif demi kesenangan sesaat
Advertisement image

4. “Dopamin Crash”: Senang Instan Itu Cuma Pinjaman

Lonjakan kesenangan instan hampir selalu diikuti fase jatuh. Setelah euforia, datang rasa kosong, hampa, atau menyesal. Ini yang disebut dopamin crash.

Pahamilah bahwa "senang instan itu cepat hilang berganti nestapa". Kamu bakal mikir dua kali sebelum mencari pelarian ke sana.

5. Cari Koneksi, Bukan Distraksi

Pelarian instan hanya menghasilkan kesenangan sekejap, sensasi sesaat, cuma distraksi.

Coba ganti dengan membangun koneksi nyata: sharing dengan teman, keluarga, bisa membantu menstabilkan emosi kamu, tanpa merusak kesehatan mental maupun menguras isi kantong.

Jika kamu suka dengan bahasan mengenai kesehatan mental seperti ini, bisa simak Podcast Disko “Diskusi Psikologi” di Youtube KBR Media. Kalau kamu punya pertanyaan, langsung aja DM di Instagram @kbrid atau WhatsApp KBR di 0812-118-8181. Formatnya pilih sesukamu, mau teks, audio, voice note, atau video. Ditunggu ya!

Baca Juga:

Takut Menikah? Ini Masukan Relationship Coach Lex DePraxis buat Gen Z

Overwhelmed sama Informasi? KBR Spill Solusi Bareng 6 Content Creators

mental health
kesehatan mental
psikolog
Podcast Disko
sedih
bahagia
whip pink
BNN
BPOM


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Loading...