NASIONAL

Menkeu: Bantuan Pangan untuk Penanganan Stunting Diprioritaskan di 12 Provinsi

""12 provinsi prioritas, yang meliputi 7 provinsi dengan prevalensi stunting yang paling tinggi di Indonesia, dan 5 provinsi dengan jumlah anak stunting terbesar.""

AUTHOR / Shafira Aurel, Astri Yuana Sari, Heru Haetami

stunting
Petugas menyalurkan bantuan untuk penanganan stunting di Malang, Jawa Timur, Selasa (16/5/2023). (Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto)

KBR, Jakarta - Pemerintah memprioritaskan penurunan prevalensi stunting (tengkes) di 12 provinsi yang memiliki angka prevalensi tinggi.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan penetapan 12 provinsi prioritas itu untuk mempercepat target penurunan stunting hingga 14 persen pada 2024.

Sri Mulyani mengatakan pemerintah terus berkomitmen dan berupaya untuk menurunkan angka stunting anak Indonesia, salah satunya dengan upaya untuk memberikan bantuan pangan yang difokuskan pada 12 provinsi prioritas.

"Untuk menurunkan prevalensi stunting, difokuskan melalui penguatan intervensi spesifik dan sensitif di 12 provinsi prioritas, yang meliputi 7 provinsi dengan prevalensi stunting yang paling tinggi di Indonesia, dan 5 provinsi dengan jumlah anak stunting terbesar," kata Sri Mulyani, dalam Rapat Paripurna DPR RI, Jakarta, Selasa (30/5/2023).

Sri Mulyani menyampaikan hal itu dalam sidang paripurna DPR dengan agenda Tanggapan Pemerintah terhadap Pandangan Fraksi atas Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM dan PPKF) RAPBN Tahun Anggaran 2024.

Badan Pangan Nasional mencatat realisasi penyaluran bantuan pangan stunting telah mencapai 81,5 persen per 25 Mei 2023. Bantuan diberikan kepada 1,4 juta Keluarga Risiko Stunting (KRS) di 7 provinsi di Indonesia.

Sebelumnya, Wakil Presiden Maruf Amin memimpin Rapat Terbatas Tingkat Menteri untuk Percepatan Penurunan Stunting Triwulan I Tahun Anggaran 2023, pada Kamis (25/5/2023).

Saat itu, Maruf Amin menginstruksikan seluruh jajarannya mencari solusi strategis percepatan penurunan angka stunting.

"Namun untuk mengejar target 14 persen tahun 2024, kita harus menurunkan stunting sebesar 7,6 persen dalam kurang dari 2 tahun ya. Untuk itu harus dilakukan intervensi strategis guna mendorong penurunan stunting lebih cepat lagi,” kata Wapres.

Menurut Wakil Presiden Maruf Amin dari pantauan di 12 provinsi prioritas, lebih dari 80 persen kabupaten-kota masih bermasalah pada aspek tata kelola pelaksanaan program, pencapaian intervensi spesifik dan sensitif.

Baca juga:


Tidak boleh terlambat

Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, penanganan stunting sebenarnya hal yang mudah, namun intervensinya tidak boleh terlambat.

Ia menjelaskan, penanganan stunting pada bayi harus diutamakan untuk bayi yang berat badannya tidak naik dalam satu bulan, berat badan turun, dan gizi kurang.

Budi Gunadi meminta agar bayi dengan ciri-ciri tersebut langsung segera 'digrebek' atau wajib langsung ditangani.

"Jangan tunggu sampai masuk stadium berikutnya. Grebeknya gimana caranya, kirim aja ke Puskesmas, nanti diperiksa dokter, dokter tahu kalau dia ada infeksi, infeksinya disembuhkan, kalau dia nggak ada infeksi, langsung dikasih makanan lokal dan sudah ada tata laksananya di sini ada berapa hari. Kalau itu nggak beres, turun lagi, kirim lagi ke Puskesmas, nanti intervensinya kasih f75, f100 kalau dia masuk ke gizi buruk. Kalau sudah masuk stunting, sudah telat," kata Menkes Budi dalam Launching Kegiatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Berbahan Pangan Lokal, Rabu (17/5/2023).

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta instruksinya disosialisasikan ke seluruh daerah, agar masyarakat juga sadar pentingnya memantau tumbuh kembang anak.

Selain itu, Budi menambahkan, intervensi juga harus dilakukan dengan memberikan makanan tambahan kepada ibu hamil. Ia menyoroti khusus pada ibu hamil dengan ukuran lingkar lengan yang rendah atau di bawah 23,5 cm, dan indeks massa tubuh di bawah 18,5.

"Yang belum jalan adalah ibu-ibunya karena kalau sampai ibu-ibunya ini kurang gizi nanti dia bayinya lahirnya kurang gizi juga bayi dengan berat lahir rendah kalau sudah begitu kemungkinan besar stunting itu determinan paling besar jadi ibunya mesti diintervensi," imbuhnya.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman

  • stunting
  • gizi buruk
  • ibu hamil
  • ibu melahirkan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!