NASIONAL

Karhutla, KLHK : 3 Provinsi Jadi Prioritas

""Ada kurang lebih tiga provinsi yang menjadi perhatian utama kami dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.""

AUTHOR / Shafira Aurel

Karhutla
Relawan Tim Cegah Api (TCA) Greenpeace Indonesia di lokasi karhutla Kabupaten Kubu Raya, Kalbar, Kamis (17/08/23). (Antara/Jessica Wuysang)

KBR, Jakarta- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memprioritaskan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tiga provinsi.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK, Thomas Nifinluri mengatakan  kini sedang fokus untuk menangani titik-titik panas di berbagai daerah. Ia menyebut ada provinsi yang menjadi prioritasnya, hal ini dikarenakan pada provinsi tersebut memiliki banyak titik panas.

Kata dia, yang menjadi kendala cukup besar dalam mengatasi karhutla ini ada pada faktor faktor cuaca yakni minimnya intensitas hujan.

“Di dalam seminggu-minggu ini, di dalam dua minggu terakhir ini ada kurang lebih tiga provinsi yang menjadi perhatian utama kami dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Khususnya dalam upaya pengendalian karhutla, yaitu di Provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah, juga di Riau. Namun saat ini di Riau kondisi cukup kondusif dengan adanya hujan dengan intensitas sedang sampai upaya teknologi modifikasi cuaca," ujar Thomas, kepada KBR, Jumat (25/8/2023).


Baca juga:

- BNPB: 1862 Bencana, Hampir 3 Juta Warga Mengungsi

- BMKG Peringatkan Bencana Kekeringan di Semester II 2023

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK, Thomas Nifinluri menambahkan  melakukan teknologi modifikasi cuaca (TMC) atau hujan buatan sebagai upaya mengatasi kebakaran hutan dan lahan. Ia menuturkan upaya ini cukup efektif untuk meredam titik panas.

Editor: Rony Sitanggang

  • kekeringan
  • el nino
  • bencana
  • KLHK
  • Karhutla
  • titik panas

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!