Belasan kali gempa mengguncang secara beruntun dengan kekuatan bervariasi menyebakan, sedikitnya 2.500 jiwa penghuni yang mendiami kaki Gunung Burni Telong, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, mengungsi.
Penulis: Erwin Jalaludin
Editor: Resky Novianto

KBR, Bener Meriah – Nestapa masyarakat Aceh belum usai ketika banjir bandang dan tanah longsor menerjang akhir November 2025. Di penghujung tahun, atau tepatnya 30 Desember 2025 Aceh diguncang lebih dari 10 kali gempa dalam sehari.
Belasan kali gempa mengguncang secara beruntun dengan kekuatan bervariasi menyebakan, sedikitnya 2.500 jiwa penghuni yang mendiami kaki Gunung Burni Telong, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, mengungsi. Mereka, bertahan ditempat pengusian ditiga titik berbeda di Kecamatan Timang Gajah setempat.
Para pendaki dan warga diimbau untuk tidak mendekati area pegunungan itu dalam radius 4 Kilometer. Gunung itu dinyatakan bertstatus naik level III (siaga) sesuai laporan yang dikeluarkan Pos Pemantau setempat.
”Pada saat cuaca mendung atau hujan berisiko terpapar zat beracun berbahaya yang dikeluarkan dari kawah lereng. Inilah yang perlu diwaspadai sekali oleh masyarakat,” kata Juru Bicara Pos Pemantau Gunung Api Burni Telong, Ihsan Nopa Abadi menjawab KBR, Kamis (1/1/2025).
Ia menjelaskan, ada penduduk di dua desa di Kecamatan Timang Gajah, yang sudah turun gunung mencari perlindungan ke tempat yang aman di lokasi pengungsian, yaitu Kampung Rembune dan Pediangan. Seluruh kebutuhan warga pengungsi itu ditanggulangi oleh Dinas Sosial Pemkab Bener Meriah.
”Kita terus update perkembangan aktivitas gunung merapi ini dalam waktu 6 jam setiap harinya. Gempanya masih terjadi setiap saat hingga sekarang, baik yang dirasakan maupun tidak dirasakan,” tutur Ihsan.

Warga Mengaku Panik karena Gempa
Salah seorang warga asal Desa Rembune, Kecamatan Timang Gajah, Bener Meriah, Juniar mengaku, panik dirinya bersama keluarga yang sedang beristirahat terpaksa keluar rumah kelokasi yang aman. Mereka khawatir akan terkena reruntuhan bangunan.
” BMKG sempat mengeluarkan kekuatan gempa 4,5 Skala Richter (SR). Memang terasa sekali gempanya, sehingga ketakutan dan resah Kami, ” ucapnya.
Selanjutnya, sambung Juniar, masyarakat mendengar pemberitahuan dari kabar desa untuk mengosongkan kampung halamannya pasca gampa bumi tersebut. Seluruh masyarakat berikutnya mengungsi, sekira pukul 00.00 Wib, Rabu Malam (31/12).
”Memang gempanya sekarang sudah agak berkurang, tapi Kita masih was-was dengan ancaman gas beracun. Dan belum ada yang berani kembali pulang kekampung,” lanjutnya.
Sebagai informasi, Aceh pernah diterpa bencana gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004 silam. Bencana yang terjadi lebih dari dua dekade lalu, telah meluluhlantakkan sebagian Aceh dengan menelan korban lebih kurang 200.000 orang meninggal dan hilang. Sekitar 650.000 Ha lahan pemukiman dan pertanian musnah.
Ribuan Warga Terpaksa Diungsikan
Bupati Bener Meriah, Tagore Abubakar membenarkan, ribuan warga warga terpaksa mengungsi akibat aktivitas Burni Telong meningkat menjadi level siaga. Mereka, tersebar di lokasi pengungsian Kampung Rongka, Simpang Balik dan Lampahan.
”Yang mengungsi bukan hanya Rembune dan Pediangan, melainkan juga disusul kampung tetangga lain, seperti Bandar Lampahan dan Damaran. Mereka, yang berada direa gunung itu semua panik. Apalagi, trauma belum lama ini juga terjadi disana banjir dan longsor,” tuturnya
Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, ikut turun meninjau langsung lokasi pengungsian korban terdampak gempa bumi Burni Telong di Gedung Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).
Selain menyerap aspirasi dan mendengar keluh kesah masyarakat, pihaknya juga menyalurkan sejumlah bantuan untuk kebutuhan para pengungsi.
”Laporan BMKG aktivitasnya sudah mulai membaik, jika sudah turun ke level 2 tentu masyarakat pengungsi ini bisa kembali ke rumah. Dan, Kita hanya bisa berdoa dan berharap bisa turun levelnya, ” tuturnya.

Gempa Aceh karena Aktivitas Sesar
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Aceh Besar Andi Azhar Rusdin menyampaikan gempa bumi yang terjadi pada beberapa lokasi di Aceh disebabkan adanya aktivitas sesar, baik yang berada di laut maupun di darat Aceh.
"BMKG sampai saat ini terus melakukan monitoring aktivitas-aktivitas kegempaan yang terjadi, khususnya di wilayah Aceh," ujarnya, Rabu (31/12/2025) dikutip dari ANTARA.
Ia menambahkan seperti informasi yang telah disampaikan Badan Geologi Kementerian ESDM terkait status gunung Bur Ni Telong Bener Meriah, gempa-gempa tektonik yang terjadi sejak Selasa (30/12) malam juga telah meningkatkan aktivitas vulkanik Bur Ni Telong.
Dalam kesempatan ini, dirinya mengimbau kepada masyarakat agar tetap tenang dan jangan terpengaruh oleh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Belasan Kali Gempa
Andi merinci 11 kali gempa bumi di Aceh hari ini terjadi 30 Desember 2025 mulai pukul 00.13 WIB dengan magnitudo 2.2 di Kabupaten Pidie Jaya dengan kedalaman 5 kilometer (km).
Kemudian, pukul 00.33 WIB magnitudo 1.8 dengan kedalaman dua km. Pukul 01.02 WIB magnitudo 2.3 dengan kedalaman lima km di Kabupaten Gayo Lues. Dan, pukul 01.10 WIB, gempa 1.6 magnitudo pada kedalaman enam km mengguncang Kabupaten Bener Meriah.
Pukul 01.16 WIB gempa 2.8 magnitudo kembali mengguncang Kabupaten Gayo Lues pada kedalaman tiga km. Lalu, pukul 06.58, gempa terjadi lagi di Kabupaten Bener Meriah dengan magnitudo 2.7 pada kedalaman empat km.
Selanjutnya, pada pukul 07.07 WIB, gempa magnitudo 1.2 terjadi di Kota Subulussalam dengan kedalaman empat km. Lalu, pukul 07.12 WIB, gempa magnitudo 1.7 kembali mengguncang Kabupaten Gayo Lues di kedalaman 11 km.
Gempa kesembilan 31 Desember 2025, terjadi pukul 09.13 WIB dengan magnitudo 4.4 di Kabupaten Aceh Jaya pada kedalaman 10 km. Lalu, pukul 10.00 WIB kembali mengguncang Kabupaten Bener Meriah dengan magnitudo 2.0 pada kedalaman 10 km, dan gempa bumi kembali terjadi di Kabupaten Aceh Jaya pada pukul 11.10 WIB dengan magnitudo 2.8, pada kedalaman 29 km.
Baca juga:
- Teror ke Aktivis dan Pengkritik, Bukti Demokrasi Makin Terancam





