Ketakutan terhadap pernikahan dipengaruhi masifnya konten media sosial yang membahas red flag, toxic relationship, perselingkuhan, perceraian, hingga KDRT
Penulis: Tim Disko
Editor: Tim Disko

KBR, Jakarta – “Marriage is scary”, ungkapan yang populer di Generasi Z. Terkesan seperti candaan, tetapi sejatinya adalah potret kecemasan.
Fenomena ini juga tergambar dalam Indonesia Gen Z Report 2024 yang dirilis IDN Research Institute pada Desember 2023. Di dalamnya mengulas pandangan dan sikap Gen Z Indonesia tentang pernikahan.
Dibandingkan Generasi Milenial, Gen Z dinilai lebih hati-hati. Mereka menganggap pernikahan belum menjadi prioritas utama dan kerap menundanya sampai merasa siap secara finansial maupun mental. Kesesuaian nilai, tujuan hidup, dan gaya hidup merupakan pertimbangan penting bagi Gen Z sebelum memutuskan berkomitmen membangun keluarga. Pernikahan bukan lagi dipandang sebagai kewajiban sosial tetapi keputusan yang perlu dipikirkan matang.
Fenomena takut menikah di kalangan Gen Z juga dipengaruhi masifnya konten di media sosial yang membahas hal-hal buruk dalam kehidupan rumah tangga. Misalnya, red flag, toxic relationship, perselingkuhan, perceraian, hingga kekerasan dalam rumah tangga. Banyak dari konten tersebut mungkin awalnya bertujuan sebagai edukasi dan peringatan dini, tetapi kemudian bisa membentuk persepsi bahwa pernikahan identik dengan konflik dan luka emosional.

Psikolog Klinis Mutiara Maharini berpandangan ketakutan Gen Z terhadap pernikahan bukan berarti mereka anti institusi pernikahan, tetapi karena banyak pertimbangan.
“Ketika kita tahu bahwa keputusan (menikah) akan berdampak besar ke hidup kita, wajar kalau kita jadi anxious. Takut salah pilih, takut salah langkah, karena kalau salah, konsekuensinya besar,” ujar Mahari dalam Podcast Disko di KBR Media.
Berbeda dengan generasi seniornya, Gen Z lebih leluasa berekspresi. Segala perasaan, bisa mereka ungkap dan divalidasi secara terbuka melalui media sosial.
Sementara itu, Coach Lex dePraxis, relationship coach, menuturkan, banyak klien maupun follower-nya tidak menolak pernikahan, tetapi memilih menundanya hingga merasa benar-benar siap.
“Mereka mau (menikah), tapi nanti. Mereka menunda karena merasa belum siap, merasa tertekan. Tekanannya bisa ekonomi, bisa tuntutan peran, bisa trauma melihat pernikahan orang tuanya sendiri,” kata Coach Lex dalam podcast Disko Diskusi Psikologi.
Tak Sesederhana Dulu
Coach Lex mengutip buku All or Nothing Marriage karya Eli J Finkel yang menjelaskan evolusi makna pernikahan. Dulu, pernikahan bersifat transaksional dan fungsional. Kini, pernikahan dituntut menjadi sumber kebahagiaan, pemenuhan emosional, hingga aktualisasi diri.
“Dulu orang menikah itu motifnya ekonomi, lalu keluarga, happy atau tidak, itu nomor sekian. Sekarang, pernikahan dituntut untuk memenuhi kebutuhan psikologis paling tinggi fulfillment, kebahagiaan, self-actualization,” jelas Coach Lex.
Perubahan ekspektasi ini, menurutnya, membuat pernikahan terasa jauh lebih berat.
“Yang tadinya job desk-nya sedikit, sekarang banyak. Harus bisa deep talk, harus emotionally available, harus saling validasi, harus bertumbuh bersama. Itu bikin Gen Z mikir, ‘gue sanggup nggak ya?’” tambahnya.
Mahari bilang, "job desk pernikahan" adalah metafora yang sangat tepat.
“Implikasinya banyak, tanggung jawabnya banyak. Dan ketika kita tahu ini akan berdampak besar ke hidup kita, wajar kalau muncul ketakutan,” ujarnya.

Ketika Media Sosial Membuat Pernikahan Terlihat Menakutkan
Baik Mahari maupun Coach Lex sepakat, media sosial mengamplikasi rasa takut untuk menikah.
“Media sosial seringkali memunculkan kasus-kasus ekstrem. Perselingkuhan, KDRT, perceraian. Jarang yang membahas hubungan sehat secara seimbang,” kata Coach Lex.
“Couple goal yang tadinya terlihat ideal, tiba-tiba runtuh karena satu kasus. Itu menggetarkan banyak orang. Mereka jadi berpikir, ‘kalau mereka saja bisa gagal, apalagi gue?’” imbuhnya.
Mahari mengaku pernah merasakan ketakutan serupa, meski berasal dari keluarga dengan pernikahan yang relatif sehat.
“Kadang bukan pengalaman pribadi yang bikin kita takut, tapi cerita-cerita yang kita konsumsi setiap hari. Itu pelan-pelan membentuk ketakutan di dalam diri,” katanya.
Fenomena Situationship
Bentuk relasi "situationship" menjadi populer di kalangan Gen Z, sebagai jawaban atas ketakutan pada pernikahan. Relasi ini mirip seperti model "hubungan tanpa status", fenomena lama, hanya berganti nama, kata Coach Lex.
“Intinya sama, menghindari komitmen tapi tetap ingin kedekatan,” ujarnya.
Secara psikologis, situationship punya keunggulan, tetapi ada pula risikonya.
“Menyenangkan karena tidak ada tanggung jawab, tapi tidak aman karena tidak ada batasan. Kita dekat, tapi tidak punya hak. Mau marah tidak bisa, mau menuntut tidak pantas,” jelas Coach Lex.
Mahari menambahkan, kondisi ini berisiko secara emosional, terutama bagi pihak yang lebih mudah terikat.
“By research, perempuan cenderung lebih cepat terinvestasi secara emosional. Attachment itu terjadi tanpa kita sadari, dan itu ada risikonya,” kata Mahari.
Risiko-risiko ini bisa dijawab dengan relasi pernikahan. Namun, terlalu banyak cerita soal "horor"-nya hidup dalam ikatan rumah tangga, sehingga yang muncul adalah ketakutan. Apakah ada cerita nyata pernikahan yang sehat? bagaimana membangunnya? Simak obrolan lengkapnya di Podcast Disko “Diskusi Psikologi” berikut:
Baca Juga:
- Lagi Berselancar di Dating Apps? Hati-Hati Love Scamming!
- Tren Curhat ke AI: Nyaman, Tapi Amankah buat Mental?




