indeks
Suara dari Pinggiran: Christ Belseran Raih Penghargaan Oktovianus Pogau 2025

Yayasan Pantau menilai Christ Christ layak mendapatkan penghargaan ini karena mampu menguraikan bagaimana berbagai perusahaan besar merampas tanah, menghancurkan hutan dan mengotori lautan.

Penulis: Dita Alya Aulia, Resky Novianto

Editor: Citra Dyah Prastuti

Audio ini dihasilkan oleh AI
Google News
Pria berkaus merah dan penutup kepala merah duduk santai di atas batu di tengah aliran sungai pegunungan yang asri.
Christ Belseran di Sungai Nua, di negeri Saunulu, Kecamatan Tehoru, Pulau Seram. (2025). Credit Photo: Yayasan Pantau

KBR, Jakarta- Christ Jacob Belseran diganjar Penghargaan Oktovianus Pogau 2025 untuk keberanian dalam jurnalisme dari Yayasan Pantau. Christ adalah kontributor Mongabay, media jurnalisme lingkungan yang berfokus pada isu hutan, keanekaragaman hayati, perubahan iklim, masyarakat adat, dan keadilan lingkungan. Tahun 2020, Christ mendirikan Titastory, media jurnalisme independen yang berfokus pada liputan mendalam tentang lingkungan hidup, masyarakat adat, HAM, budaya, dan keadilan sosial, terutama di kawasan Indonesia Timur.

Christ dianggap layak mendapatkan penghargaan ini karena mampu menguraikan bagaimana berbagai perusahaan besar merampas tanah, menghancurkan hutan dan mengotori lautan di Kepulauan Maluku dan Maluku Utara.

“Dorang bongkar pertambangan nikel di Maluku Utara, dari slogan hilirisasi sampai pertumbuhan ekonomi, semua bikin rusak alam. Dorang juga berani meliput aspirasi orang Maluku, juga protes perampasan tanah,” kata salah satu juri penghargaan, Yuliana Lantipo dari Yayasan Pantau.

Christ Belseran lahir 1985 di Piru, kota kecil di Pulau Seram, sekaligus ibukota Kabupaten Seram Bagian Barat. Dia menyelesaikan pendidikan ilmu kelautan di Universitas Pattimura, Ambon, dan magister ilmu komunikasi di Universitas Sahid, Jakarta. Christ anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

Dia mulai bekerja sebagai jurnalis tahun 2011, mulanya di televisi lokal, lantas sebagai kontributor media Jakarta seperti RTV, TV One, dan The Jakarta Post. Sejak 2019, dia bekerja buat Mongabay.

Christ Belseran dan Perjalanan Liputan

Banyak laporan menarik yang ditulis Christ buat Mongabay, diantaranya: Kala Hutan Orang Tobelo Dalam Terus Tergerus Tambang Nikel; Upaya Para Perempuan Maba Sangaji Bertahan dan Berdaulat Pangan; Berawal dari Sasi Adat, hingga Dua Pemuda Maluku Tengah Terjerat Pidana.

Salah satu liputan “menantang” terjadi pada April 2020. Christ sampai tiga kali dipanggil Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Maluku setelah mendokumentasikan penangkapan tiga aktivis Front Kedaulatan Maluku: Simon Viktor Taihutu, Abner Litamahuputty, dan Janes Pattiasina. Mereka membentangkan bendera Republik Maluku Selatan depan Polda Maluku. Christ disangka mengetahui, bahkan merencanakan, aksi tersebut. Belakangan, Polisi meneruskan kasus terhadap tiga orang tersebut dengan dakwaan “makar”, namun menilai Christ tak terlibat.

Sementara, lewat Titastory, Christ turut mengungkap kriminalisasi terhadap Antonius Latumutuany, seorang petani negeri Piliana di kaki Gunung Binaiya di Pulau Seram, Maluku.

Tiga pria berbincang sambil makan di luar, salah satunya mengenakan kaus 'PAPUA BUKAN TANAH KOSONG'.
Di sebuah pinggiran kota Jakarta, Christ Belseran (tengah) berbincang dengan Gerry van Klinken, editor buku Bacaan Bumi soal mendesaknya negara Indonesia mengatasi kerusakan lingkungan di berbagai provinsi Indonesia. Khaleb Yamarua, mahasiswa Ambon yang pernah jadi korban kriminalisasi di Pulau Seram, ikut diskusi soal kerusakan alam di Kepulauan Maluku. (2025). Credit Photo: Yayasan Pantau
Advertisement image

Jurnalisme sebagai Pilihan Moral

KBR mewawancarai Christ Jacob Belseran terkait penghargaan yang diberikan kepadanya. Christ bercerita tentang liputan-liputan yang menantang serta menitipkan pesan pada jurnalis muda.

Apa makna penghargaan Oktavianus Pogau bagi Anda secara personal dan profesional mengingat medan liputan yang dijalani selama ini penuh risiko?

Bagi saya, ini sangat berarti bagi saya, mengingat jurnalisme bukan sekadar pekerjaan, melainkan pagi saya pilihan moral. Penghargaan ini tidak saya terima sebagai kemenangan pribadi, tapi untuk semua jurnalis yang melakukan peliputan-peliputan seperti saya dan juga almarhum Octavianus Pogau yang melakukan menyuarakan kebenaran itu dan mandat yang terus berpihak pada dia, terus berpihak pada kebenaran terutama ketika kebenaran itu berada pada kekerasan kekuasaan. Saya sangat bersyukur, saat itu dia (Pogau, red) meninggal dalam usia muda, tapi dia mengajarkan bahwa tentang keberanian dalam jurnalisme dibayar mahal gitu. Walaupun dengan intimidasi, stigma bahkan kehilangan rasa aman tentunya.

Jurnalis yang menjalankan situasi-situasi yang saya sebut berlawanan kekuasaan. Menurut saya, penghargaan ini adalah penguatan tetap berjalan pada jalur yang sama. Menulis dengan nurani dan meliput integritas dan percaya bahwa kebenaran mungkin lambat, kebenaran mungkin lama, ada yang memilih aman, ada yang lain juga. Tapi juga saya percaya, pada kebenaran tidak pernah benar-benar kalah itu dari saya makna sebenarnya.

Anda masuk hutan dan wilayah terpencil untuk meliput masyarakat adat. Apa momen paling menentukan yang membuat Anda merasa “liputan ini harus saya lakukan” dan apa temuan paling mengkhawatirkan yang jarang terangkat di media arus utama? Apa liputan spesifiknya?

Yang paling bermakna, pertama itu meliput masyarakat adat, memperjuangkan tanah mereka, hidup mereka, hutan mereka itu selalu terbayang dalam pikiran saya. Saya membayangkan orang yang tidak pernah salah di penjara hingga meninggal dalam penjara. Itu mengingatkan saya… biasanya saya di forum-forum juga selalu menangis menceritakan itu. Orang nomaden yang tidak tahu apa-apa lalu ditangkap. Dengan nurani saya, kebenaran itu dan saya sebagai jurnalis menjalankan profesi saya. Media-media arus utama juga kurang, bukan kurang ya, mungkin keterbatasan juga, sumber daya dan sebagainya. Tapi saya pikir itu bagian tanggung jawab kita semua yang tadi saya bilang. Bagi saya yang paling mengesankan dari semua ya resiliensinya itu.

Di Pasir Lela Selatan, ada orang nomaden yang tinggal di hutan, belum punya agama, ditangkap dan tiba-tiba di penjara, dan mati meninggal di penjara. Ya nggak tahu, dia kenapa meninggal, apa di penjara dia juga konsumsi obat-obatan dan pada saatnya kita sama-sama mengunjungi ziarah salah satu rekan mereka meninggal dan dia nangis, nggak tau saya juga disitu saya punya beban. Di situ lah bukan hanya saja dia, tapi orang lain yang juga memperjuangkan hak-hak mereka.

Saya mempunyai tugas untuk menjalankan tujuan utama itu agar semua orang yang tadi saya sebutkan mendapat tempat gitu untuk mendapat informasi selain dari media arus utama.

Anda beberapa kali menghadapi intimidasi dan tekanan dari aparat, bagaimana pengaruhnya terhadap Anda sebagai jurnalis?

Beberapa kali saya mendapatkan intimidasi, banyak stigma-stigma yang berkembang. Bukan saja dari eksternal, tapi juga dari internal teman-teman wartawan. Tapi, itu tidak menutup niat saya untuk melakukan peliputan.

Satu kasus yang saya sebutkan ke tempat masyarakat adat. Saya dilarang melakukan pertemuan dan sejumlah aparat datang ke saya mereka bilang ‘dilarang merekam’, meminta saya keluar dari ruangan dan situasi saat itu berubah gitu kan. Saya juga tidak memiliki reaksi banyak. Tapi, saya percaya ketika saya punya niat peran bersama dengan masyarakat mereka juga akan pasti melindungi saya.

Itu terbukti di sana saat saya dapat intimidasi bahkan masyarakat yang sendiri menjadi tameng. Mereka tiba-tiba datang dan bilang ‘Kalau dia diusir dari sini, maka kita akan semua keluar, kita tidak akan ada pertemuan’. Itu yang membuat saya berani, gitu. Karena mereka juga melindungi saya untuk menjalankan tugas sebagai jurnalis.

Anda menyebut gaya kerja sebagai “nomaden journalism”. Apa maksudnya?

Ini merupakan istilah baru. Saya kebetulan masuk Jakarta dan teman-teman dalam keseharian, juga bertugas sebagai wartawan dari satu tempat ke tempat yang lain. Maka saya berhati-hati karena di setiap tempat saya, bukan saja di Maluku tapi juga di pulau-pulau sekitar Nusantara Timur di Maluku Utara, di Halmahera. Saya tidak ada di satu tempat saja.

Bagaimana itu nomaden tidak menetap pada satu ruang, satu redaksi yang besar, pada satu kantor. Tapi bergerak di lintas wilayah, bergerak di hutan kadang-kadang tidur di hutan, kadang ada di rumah warga di daerah-daerah pinggiran mengikuti isu-isu yang luput ya dari perhatian arus utama, menyuarakan suara-suara terpinggirkan baik di hutan dan lain lain.

Mengapa itu penting?

Bagi saya, kita kan jurnalis. Harus lebih banyak reputasi seperti itu supaya lebih menetap di kebenarannya di pusat kekuasaan misalnya. Saya berpikir, kita harus dekat sama sumber-sumber primer, supaya kita melihat kebijakan langsung untuk tahu suara-suara yang disenyap oleh misalnya kekuasaan.

Media-media pusat, media-media utama seperti itu, dari pengalaman ini, penting bagi saya agar kita menjaga independensi. Di sana saya merasakan suara-suara masyarakat, tangisan mereka. Itu yang paling penting bagi saya (sebagai alasan) untuk menjaga independensi jurnalis. Walaupun nanti dalam redaksinya nanti juga dipertimbangkan cover all sides, itu kan juga ada dalam satu media redaksi. Saya mau bilang bahwa jurnalis tidak terikat satu kepentingan politik, karena kita merawat kepercayaan komunitas yang diliput. Menurut saya, jurnalis juga bebas untuk mengatakan mereka juga jurnalis.

Berkaca dari pengalaman Anda, bagaimana cara membangun relasi dengan masyarakat adat selama di lapangan?

Saya kasih contoh, ketika saya liputan bersama jurnalis dari media mainstream di lapangan. Saya melihat rekan jurnalis itu bertanya kepada warga sebagai narasumber. ‘Memang orang susah percaya gitu sama kita orang, lalu percaya siapa?’ Lalu narasumber menjawab ‘saya percaya Christ’. Artinya, dia masih percaya bukan untuk saya saja. Saya membuka jalan bukan untuk saya, tapi untuk semua wartawan yang masuk ke sana.

Mau dapat informasi kan susah, tetapi kalau kita sudah mampu merawat kepercayaan mereka di mana saja, itu artinya ada kepercayaan bagi jurnalis juga, bagi media untuk mendapat informasi.

Pesan apa yang ingin Anda sampaikan kepada jurnalis yang ingin meliput lingkungan dan masyarakat adat tetapi khawatir risiko keselamatan?

Yang pertama kita tetap menjalankan prinsip-prinsip, tetap menyuarakan kebenaran, terutama bagi nomaden jurnalisnya. Pada akhirnya tugas kita di jurnalisme adalah untuk melayani publik. Menjaga ingatan, memastikan suara-suara yang disenyapkan, menemukan jalannya.

Yang paling penting adalah menyediakan informasi. Menjaga informasi yang dibutuhkan keluarga untuk bisa bebas mengatur hidup mereka sendiri. Kita hanya menjalankan prinsip-prinsipnya. Yang penting ketika kode etik itu dijalankan, saya yakin keamanan kita pasti aman.

Seorang pria sedang memasang smartphone pada remote kontrol drone, menunjukkan persiapan untuk mengoperasikan perangkat teknologi.
Christ Belseran memiliki keterampilan setel drone maupun kamera video. Dia lama bekerja buat televisi Ambon maupun Jakarta. Kemampuan mengambil video dengan drone adalah keterampilan vital buat meliput kerusakan lingkungan. Dia selalu bawa charger dengan panel surya agar bisa isi baterai di tengah hutan atau lautan. "Ini penting buat hape, drone dan semua alat elektronik," katanya. (2025). Credit photo: Yayasan Pantau
Advertisement image

Mengenang Keberanian Pogau

Penghargaan Oktovianus Pogau dari Yayasan Pantau dan Suara Papua ini diberikan setiap tahun sejak 2017 untuk mengenang keberanian Pogau. Pogau adalah seorang wartawan Papua kelahiran Sugapa, yang wafat pada usia 23 tahun pada 2016 di Jayapura. Pogau dikenal berani melaporkan pelanggaran HAM, termasuk kekerasan terhadap ratusan orang asli Papua saat Kongres Papua III di Jayapura pada 2011. Di tahun yang sama, Pogau mendirikan Suara Papua sebagai ruang alternatif pemberitaan Papua.

Penerima penghargaan sebelumnya termasuk Pemimpin Redaksi KBR Media, Citra Dyah Prastuti, pada tahun 2018. Tahun sebelumnya, penghargaan diberikan kepada Egi Adyatama, Francisca Christy Rosana, Hussein Abri Donggoran, Raymundus Rikang, dan Stefanus Pramono dari Tempo (2024). Juri Penghargaan Pogau terdiri dari Andreas Harsono (Jakarta), Alexander Mering (Pontianak), Coen Husain Pontoh (New York), Made Ali (Pekanbaru), dan Yuliana Lantipo (Jayapura).

Baca juga:

Bongkar Manuver Istana Lewat 'Bocor Alus', Jurnalis Tempo Raih Oktovianus Pogau 2024

Risiko di Balik TNI Ikut Penanggulangan Terorisme

Oktovianus Pogau
Penghargaan Oktovianus Pogau
2025
Penghargaan Oktovianus Pogau 2025
Christ Belseran
Christ Jacob Belseran
Mongabay
Masyarakat Adat
Perubahan Iklim
Keadilan Lingkungan
Pogau


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Loading...