Ahmadiyah belakangan mengalami perbaikan penerimaan, bukan saja dari masyarakat, tetapi juga dari pejabat formal (Direktur Eksekutif Setara Institute Halili Hasan)
Penulis: Wahyu Setiawan
Editor: Ninik Yuniati, Malika

KBR, Jakarta - Sudah puluhan tahun Yayat hidup bertetangga dengan jemaah Ahmadiyah di Jatibening, Kota Bekasi, Jawa Barat. Dari rumahnya ke Masjid Al-Misbah Ahmadiyah, hanya ditempuh 2 menit berjalan kaki. Masjid itu merupakan pusat aktivitas dan ibadah jemaah Ahmadiyah wilayah Bekasi dan sekitarnya.
Yayat tahu Ahmadiyah sering dilabeli sebagai ajaran sesat. Namun, ia tak ambil pusing.
"Kalau masalah keyakinan, masing-masing lah," kata Yayat saat ditemui di rumahnya di Jatibening, Kota Bekasi, Januari 2026 lalu.
Meski berbeda keyakinan, Yayat tak merasa terancam dengan kehadiran Ahmadiyah. Ia mengenal tetangganya itu bukan lewat debat ayat, tetapi lewat tangan-tangan yang terulur.
“Setahu saya, Al-Misbah aman-aman saja. Bertetangga baik semua. Ramah. Suka berbagi. Setiap tahun juga ya ada misal mau kurban, mereka juga suka ngasih,” ucap Yayat.
Saat Idulfitri, jemaah Ahmadiyah dan warga sekitar juga berbaur bersilaturahmi.
“Kalau Lebaran, ya biasa kita ke situ (Masjid Al-Misbah)," kata Yayat.
Yayat bahkan kenal dengan para pengurus Masjid Al-Misbah. Nama-nama dan wajah mereka masih lekat di ingatannya.
“Dari dulu kenal, cuma yang sudah sepuh-sepuh, seperti Ibu Cantini, Ibu Darwis, sudah tidak ada. Ini ganti lagi dengan Ibu Ida,” kata Yayat.

Sejumlah jemaah Ahmadiyah tengah membersihkan halaman Masjid Al-Misbah di Kota Bekasi. (KBR/Wahyu)
Masjid Al Misbah, yang didirikan sejak 1998, diperkirakan melayani lebih dari 450 jemaah Ahmadiyah.
Lahan masjid dibeli dari keluarga Nunung, warga Jatibening. Awalnya mereka tidak tahu masjid yang bakal dibangun adalah masjid Ahmadiyah. Meski begitu, keluarga Nunung tak keberatan.
“Itu, kan, dulu tanahnya orangtua saya. Waktu dia mau dibangun, ternyata masjidnya beda, tidak apa-apa sih,” kata Nunung yang ditemui di Desa Jatibening, pertengahan Januari 2026.
Nunung akrab dengan kehidupan jemaah Ahmadiyah karena rumahnya berjarak kurang dari 100 meter dari Masjid Al-Misbah.
“Dia (Ahmadiyah) baik sama kita. Orangnya baik-baik. Kitanya juga baik. Sosialnya bagus juga sama tetangga. Di sini sih aman saja. Orang-orang sini juga pada gabung sama orang-orang dia (Ahmadiyah),” kata Nunung, warga yang tinggal di sekitar Masjid Al-Misbah Ahmadiyah, Kota Bekasi.
Dia kerap menghadiri acara di Masjid Al-Misbah seperti Maulid Nabi dan Isra' Mi'raj. Mereka hidup rukun berdampingan, meski berbeda keyakinan.
“Ahmadiyah ya sama-sama Islam. Tetapi kayaknya, beda sama kita. Tetapi kita orang-orang sini tidak ada masalah,” kata Nunung.
Baca juga: Pemerkosaan Massal Mei 98, Ita Fatia: Saya Tidak Berbohong!
Perwujudan motto
Hidup damai dengan mereka yang berbeda merupakan perwujudan motto Ahmadiyah: Love for All, Hatred for None, Cinta Kasih untuk Semua, Kebencian tidak untuk Siapa Pun.
Ahmadiyah didirikan Mirza Ghulam Ahmad di India pada 1889. Jejaknya di Nusantara dimulai sejak 1925 di Tapaktuan, Aceh, atau genap seabad pada 2025.
Secara resmi Ahmadiyah terdaftar sebagai organisasi berbadan hukum berdasarkan Keputusan Menteri Kehakiman pada 1953. Association of Religion Data Archives memperkirakan sekitar 400.000 jemaah Ahmadiyah tersebar di seluruh negeri.
Ahmadiyah dikenal lewat kegiatan-kegiatan sosial, seperti donor darah, donor mata, dan bantuan kemanusiaan.
Beberapa kegiatan tersebut juga rutin dilakukan pengurus Masjid Al-Misbah, Ida Syamsiah sejak pindah ke Jatibening pada 2023. Ida tinggal di depan masjid bersama suaminya seorang mubaligh (ulama) Ahmadiyah.
Ida sering bersilaturahmi ke masyarakat sekitar sembari mendistribusikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan.

Pada 2025, Masjid Al-Misbah menyalurkan sekitar 400 paket sembako murah —hasil sedekah jemaah Ahmadiyah selama Ramadan.
Turun langsung, mengetuk pintu-pintu warga, kerap membuat Ida trenyuh menyaksikan banyak orang yang hidup kekurangan. Salah satu yang membekas adalah ketika Ida bersua Endang, janda miskin sebatang kara.
"Setiap saya lewat, dia suka menyapa. Ternyata dia kena penyakit paru-paru. Tidak ada keluarganya, itu membuat saya sedih," Ida bercerita.
Ida melalui Lajnah Imaillah (organisasi perempuan Ahmadiyah) kemudian menyalurkan bantuan berupa sembako gratis dan bingkisan untuk Endang setiap bulan.
“Kita sebisa mungkin bisa membantu mereka karena ya di dalam Alquran, kan, seperti itu. Sedekah itu merupakan jiwa kita orang-orang Muslim yang sudah dicontohkan Rasulullah,” ujar perempuan 54 tahun ini.
Lewat pendekatan sosial kemanusiaan semacam ini, Ida merasa diterima warga sekitar. Relasi harmonis itu sudah dibangun para pendahulu Ida dan mesti dijaga seterusnya.
Baca juga: Tetap Miskin walau Hidup di Lumbung Migas

Pembagian sembako murah oleh pengurus Masjid Al-Misbah Bekasi. (Foto: dokumen Jemaat Ahmadiyah Indonesia)
Diuji
Harmoni di Jatibening sempat diuji pada Februari 2013 saat Masjid Al-Misbah disegel paksa Pemerintah Kota Bekasi, atas tekanan kelompok intoleran. Aparat menutup seluruh areal masjid dengan seng setinggi 2 meter.
Nunung, warga yang tinggal di dekat Masjid Al-Misbah ingat kejadian di hari itu. Tiba-tiba ada ratusan orang menggeruduk masjid. Tak satupun wajah yang ia kenal.
"Jadi kayak provokator-provokator gitu. Saya tidak tahu, masalahnya apa? Tidak tahu dia datang dari mana," ujar Nunung.
Massa menuntut seluruh aktivitas Ahmadiyah dihentikan dan masjid disegel.
Menurut Deden Sudjana, pengurus Ahmadiyah Bekasi, ada sekitar 30 jemaah Ahmadiyah laki-laki yang dikurung di dalam masjid. Mereka tidak bisa keluar.

Kedatangan Wali Kota Bekasi yang kala itu dijabat Rahmat Effendi juga tak mampu meredam massa.
Kondisi kian mencekam, bantuan logistik tertahan.
Baca juga: Kelimpungan Kejar Tayang Ribuan Koperasi Desa Merah Putih
Bahkan Sinta Nuriyah Wahid —istri mendiang Gus Dur— sampai harus melempar makanan lewat celah pagar untuk jemaah Ahmadiyah di dalam masjid.
“Polisinya, bukannya, 'itu Ibu Presiden lho, mbok buka sedikit kayak gitu ya, (tetapi) tidak dibuka,” kenang Deden.
Usai masjid disegel, massa pun bubar. Namun, 30 jemaah Ahmadiyah tetap dikurung di masjid dengan penjagaan polisi. Selama sekitar dua pekan mereka mengandalkan bantuan makanan dari luar untuk bertahan hidup. Seiring mengendurnya tekanan, mereka kemudian dibebaskan, meski masjid tetap disegel.
Kata Deden, jemaah Ahmadiyah Bekasi memilih bersabar menghadapi berbagai perlakuan diskriminatif tersebut. Apalagi di masa itu, masih segar ingatan tentang tragedi berdarah Cikeusik, Pandeglang, Banten yang menewaskan tiga jemaah Ahmadiyah.
Saat tragedi Cikeusik 2011, Deden di garis depan mempertahankan masjid dari serangan kelompok intoleran. Dia menyaksikan sendiri bagaimana saudara seimannya dibunuh.
“Kalau melihat mayatnya, sudah tidak ketahuan (tidak bisa dikenali) kalau tidak ada tanda-tanda,” ungkapnya.

Deden bahkan kena bacok di bagian kepala, punggung, hingga kaki. Dia menerima sekitar 36 jahitan saat dirawat di rumah sakit.
“Ini karena mukjizat, saya bisa bergerak ini. Dioperasi 7 jam di Rumah Sakit Pertamina. Banyaklah jahitan,” kata dia.
Kejadian di Cikeusik menyulut konflik di mana-mana. Keluarga Deden di Bekasi, turut jadi sasaran.
“Anak saya, rumah saya diserang. Ramai. Diserang dua hari, dua kali berturut-turut,” kenangnya.
Beberapa pekan di rumah sakit, Deden belum sepenuhnya pulih. Dia malah ditangkap, dikriminalisasi, dan divonis 6 bulan penjara atas tuduhan melawan polisi. Deden bebas pada Desember 2011.
Transformasi
Meski mengalami bertubi-tubi diskriminasi, kekerasan, hingga kriminalisasi, Deden tak menyimpan dendam. Pada pertengahan 2013, Deden terpilih menjadi Ketua Pengurus Ahmadiyah cabang Bekasi.
Dia berjuang agar Masjid Al-Misbah kembali dibuka dengan menggugat penyegelan masjid ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Mereka menang di putusan tingkat pertama, tetapi kandas saat banding.
Ahmadiyah pantang menyerah. Deden mencoba pendekatan lain: mengetuk pintu pemerintah kota. Penyegelan dan diskriminasi yang dilakukan pemkot, menurutnya, bersumber dari pemahaman yang keliru tentang Ahmadiyah. Deden berharap lewat silaturahmi, perjumpaan, serta dialog bermakna, stigma terhadap Ahmadiyah bisa terkikis.
“Saya berusaha untuk bisa bersilaturahmi mulai dari wali kota yang benci ke kami. Wali kota-wali kota yang sebelumnya lah. Tetapi tidak pernah bisa tembus, mau wali kota dari partai mana pun. Susah banget," ujar Deden.
Kesabaran pria 63 tahun itu akhirnya berbuah. Pada September 2025, pengurus jemaah Ahmadiyah Bekasi bertemu Wali Kota Tri Adhianto.
“Wali kota sekarang surprise buat kami dan surprise juga buat pengurus besar. Malah kami datang, kami diminta proposal, (karena biasanya) orang yang datang ke wali kota mayoritas bawa proposal. Oh, Ahmadiyah beda, ngasih buku,” katanya.

Bagi Deden, diplomasi kemanusiaan adalah cara terbaik mengenalkan wajah Ahmadiyah. Ia ingin mengubah stigma terhadap Ahmadiyah dari "organisasi bermasalah" menjadi "mitra solutif".
“Kami tidak mencari apa-apa, tidak minta duit. Hanya ketika nanti ada orang yang membenci Ahmadiyah, tolonglah dikasih pengertian oleh Wali Kota, Ahmadiyah itu tidak begini lho,” kata Deden Sudjana, pengurus Jemaah Ahmadiyah Kota Bekasi
Penerimaan
Kota Bekasi kian ramah dengan Ahmadiyah. Abdul Manan, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bekasi, mengatakan, jemaah Ahmadiyah bebas beraktivitas di Masjid Al-Misbah. Stigma dan prasangka makin terkikis, seiring menebalnya toleransi.
Abdul Manan termasuk yang mengalami transformasi cara pandang tentang Ahmadiyah. Pada 2013, dia berada di kerumunan massa penolak Ahmadiyah dan ikut menyegel Masjid Al-Misbah.
"Kami segel bukan masjidnya, (tetapi) pagarnya, itu tidak dosa lho. Masjid kok saya segel,” dalihnya.
Kini, Abdul Manan berdiri di sisi yang berbeda, menghormati kebebasan beribadah bagi Ahmadiyah. Dia tak segan bersilaturahmi ke Masjid Al-Misbah.
“Sekarang sudah aman-aman saja di Bekasi ini. Bahkan sekarang mereka juga melaksanakan ibadah sesuai dengan Islam. Tidak ada larangan, kok,” kata Ketua FKUB Kota Bekasi Abdul Manan.
Transformasi wajah Kota Bekasi dari daerah intoleran menjadi lebih ramah keberagaman mendapat apresiasi. Pada 2025, Kota Bekasi menyandang Harmony Award dari Kementerian Agama.
Lima tahun belakangan, Kota Bekasi juga selalu masuk 10 besar kota paling toleran versi Setara Institute. Pada edisi terakhir 2024, Kota Bekasi berada di peringkat ketujuh.
"Keinginan dari seluruh unsur di Kota Bekasi, termasuk pemerintah, mengharapkan terciptanya toleransi, kerukunan harmoni, saling menghargai,” ujar Abdul Manan.
Hal itu diamini Kepala Bidang Agama dan Ormas di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Pemkot Bekasi, Marwah Zaitun. Melalui keterangan tertulis, Marwah mengatakan, pemkot kerap membuka ruang-ruang pertemuan dengan forum keagamaan.
"Peran Kesbangpol menjaga kondusivitas wilayah, dengan beberapa program untuk meningkatkan kerukunan di Kota Bekasi," kata Marwah kepada KBR.
Direktur Eksekutif Setara Institute Halili Hasan menuturkan, capaian di Kota Bekasi merupakan hasil kerja kolektif semua unsur: komunitas agama, pemda, tokoh masyarakat, hingga LSM/pegiat keberagaman yang mendampingi.
Halili menyebut pertemuan Ahmadiyah Bekasi dengan Wali Kota Tri Adhianto merupakan momen bersejarah.
"Kita harus catat sebagai milestone itu. Karena mendapati Ahmadiyah dengan pejabat formal itu sesuatu yang langka di Indonesia," kata Halili saat dihubungi KBR, Januari 2026.
Selama ini, kata Halili, pemerintah mengambil langkah populis ketika dihadapkan pada kelompok minoritas agama seperti Ahmadiyah. Mereka takut berseberangan dengan kelompok mayoritas. Alhasil, pertemuan pejabat pemerintah dengan Ahmadiyah kerap dilakukan tanpa publikasi.
Selain di Kota Bekasi, penerimaan terhadap Ahmadiyah juga mulai terlihat di beberapa daerah lain. Ini sejalan dengan data Setara Institute yang merekam tren penurunan kasus pelanggaran kebebasan beragama dan beribadah terhadap Ahmadiyah satu dekade terakhir.

“Ahmadiyah belakangan mengalami perbaikan penerimaan, bukan saja dari masyarakat, tetapi dari pejabat formal juga," kata Direktur Eksekutif Setara Institute Halili Hasan.
Baca juga: 100 Tahun Ahmadiyah, Seabad Menanti Kebebasan Beribadah
Penyelenggaraan Jalsah Salanah (pertemuan tahunan) Ahmadiyah pada 2025 di berbagai daerah, menjadi bukti konkret ada tren positif dalam penerimaan terhadap Ahmadiyah. Diplomasi kemanusiaan (rabtah) yang diupayakan Ahmadiyah mulai membuahkan hasil.
"Kita tahu Jalsah sebelumnya (2024) ditolak. Bahwa kemudian mereka bisa menyelenggarakan Jalsah di 2025, itu sesuatu yang mesti dicatat sebagai sebuah kemajuan," pungkas Halili.
Penulis: Wahyu Setiawan
Editor: Ninik Yuniati, Malika




