NASIONAL

Sindrom Thanos Bikin Merasa Paling Jago

Si Paling Ngerasa Benar

AUTHOR / Tim Disko

Diskusi Psikologi (Disko)

KBR, Jakarta- Thanos dikenal sebagai musuh Avanger yang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan hasil yang ia inginkan. Tak heran, Thanos kadang dipandang sebagai sosok yang merasa paling benar dan paling kuat. 

Nah gak sekedar karakter dalam film Avanger, rupanya suatu sindrom pun juga memiliki nama serupa dengan dengan karakter vilian ini. Dosen Prodi Psikologi Universitas Pembangunan Jaya dan Psikolog, Runi Rulanggi, S.Psi., M. Psi., mengatakan, sindrom Thanos ini menunjukkan prilaku seseorang yang merasa paling benar.

"Si sindrom Thanos ini merujukkan sesuatu yang kepribadian gitu ya atau kepribadian gitu ya. Atau kepribadian orang yang sifatnya toxic. Dia selalu menganggap diri dia paling benar paling hebat paling okelah gitu ya. Jadi karena ngerasa dirinya paling hebat tadi, akhirnya dia jadi tertutup tuh, dan dia ngerasa sulit untuk menerima kritik dari orang lain. Tentunya itu sesuatu yang tentunya enggak baik ya, itu kurang baik," terang Runi.

Baca juga:

Memerangi Relasi 'Red Flag'

Tercapit Mentalitas Kepiting

Viral Istilah Childfree dan Bagaimana Menyikapi Pilihan Seseorang?

Salah satu penyebab sindrom Thanos bisa jadi ideal self seseorang terlalu sempurna, namun pada kenyataannya berbeda jauh. Meski begitu, Runi mengatakan dalam bidang psikologis ada banyak variabel yang mempengaruhi perilaku seseorang.

"Istilahnya kalau di Psikologi itu multifaktor. Jadi kita nggak bisa menentukan salah satu faktor aja. Salah satunya tadi mungkin, bisa dari pengasuhan gitu. Ataupun bisa ada trauma-trauma di malu gitu ya, yang dia itu mungkin ya, di masa lalu itu kurang mendapat pengakuan atau kurang mendapat penerimaan. Jadi akhirnya dia mencoba di masa dia yang lebih dewasa gitu. Supaya dia bisa diakui ,dia ingin menunjukkan gitu, sosok dia yang hebat itu," ungkapnya.

Menurut Runi, sindrom Thanos bukanlah suatu hal yang wajar. Apalagi kalau sudah menganggu kehidupan orang lain atau toxic.

"Itu juga akan ngaruh ke banyak hal ya. Kalau dia masih sekolah sih paling jadi gak ada teman. Sudah gitu untuk berteman. Kalau dia sudah kerja, tentunya ini akan mempengaruhi relasi dengan atasa, bawahan dan lain sebagainya. Jadi tentunya paling banyak dampaknya pada hubungan interpersonal. Orang jadi males kan temenan sama si Thanos ini," pungkasnya.

Mau tau lebih lanjut soal Thanos syndrome? Yuk simak podcast Diskusi Psikologi (Disko) di link berikut ini:

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

  • mandella arief2 months ago

    Sangat membantu untuk menambah wawasan