NASIONAL

Meski Siap, Pengembangan Biodiesel B35 Bikin Bingung Industri Kendaraan Bermotor

""Karena selama ini di Indonesia masih 10 persen penggunaannya. Jadi waktu kita loncat B20 saja semua sudah bingung. Kemudian kita loncat ke B30, besok kita akan loncat ke B35, teriak semuanya.""

Sadida Hafsyah

biodiesel
Ilustrasi. Petugas mengisi BBM biodiesel ke truk di SPBU Jl H Rasuna Said Jakarta, Selasa (22/10/2019). (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi menilai bahan bakar biodiesel B35 masih sesuai dengan kebutuhan industri kendaraan bermotor yang ada di negara ini.

Meski begitu, ia mengakui bahwa pengembangan biodiesel di Indonesia termasuk yang sangat cepat dan membuat bingung industri kendaraan bermotor.

"Di dunia belum ada yang pakai B30 atau B35. Jadi kami pun pihak principle dari negara-negara asalnya bingung semua. Karena selama ini di Indonesia masih 10 persen penggunaannya. Jadi waktu kita loncat B20 saja semua sudah bingung. Kemudian kita loncat ke B30, besok kita akan loncat ke B35, teriak semuanya. Tapi dari hasil uji coba alhamdulillah semua bisa lewat," ucap Yohannes dalam Energy Corner Special B35, Selasa (31/1/2023).

Yohannes Nangoi menyebut industri sempat khawatir dengan implementasi B35 (campuran BBM solar dengan bahan nabati berbasis kelapa sawit sebesar 35 persen), karena pengembangannya terlihat seperti coba-coba.

Namun akhirnya industri kendaraan bermotor siap dengan implementasi B35 usai biodiesel formula baru ini berjalan aman melewati masa uji cobanya.

Pengembangan biodiesel diklaim memiliki sejumlah kelebihan dibanding bahan bakar solar murni. Di antaranya, penggunaannya bersifat lebih ramah lingkungan dengan tingkat emisi yang lebih rendah dibanding energi fosil. Selain itu, bisa meningkatkan kualitas lingkungan karena bersifat degradable (mudah terurai).

Baca juga:


Sifat higroskopis (kemampuan menyerap dengan baik molekul cairan) dari CPO memang harus dikendalikan oleh produsen kendaraan bermotor. Namun salah satu dampak positifnya adalah kandungan sulfur biodiesel semakin menurun.

Di sisi lain masih ada pekerjaan rumah untuk pengembangan biodiesel. Yohannes meminta pengembangan biodiesel ke depan mampu memenuhi standar kendaraan yang diproduksi di Indonesia yaitu harus standar Euro4.

"Mulai 2022 sesuai peraturan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan maka kendaraan yang diproduksi di Indonesia harus standar Euro4 atau emisi gas buangnya adalah Euro4. Saat ini yang dibuat biodiesel masih belum memenuhi standar Euro4," katanya.

Ia mengatakan standar Euro4 untuk kendaraan Solar penggunaannya harus Pertadex, di mana kandungan sulfurnya harus di bawah 50 ppm.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman

  • biodiesel
  • emisi
  • kendaraan bermotor
  • Gaikindo
  • biosolar
  • biofuel

Komentar (0)

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!