BERITA

Laily Prihaningtyas: Pariwisata Harusnya Memberi Kontribusi Lebih Besar

"Mengelola tiga candi untuk meningkatkan kunjungan dan menyiapkan masyarakat setempat."

AUTHOR / Arin Swandari

Laily Prihaningtyas: Pariwisata Harusnya Memberi Kontribusi Lebih Besar
Candi, Laily Prihaningtyas

KBR, Jakarta - Sebagai Direktur BUMN termuda, Laily Prihaningtyas punya banyak tantangan dalam memimpin Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (TWCBPRB). Usia bukan kendala, tapi tantangan terbesar Laily adalah meningkatkan kunjungan ke tempat wisata yang ada di bawah kepemimpinannya. Tak hanya itu, ia harus juga menyelesaikan konflik sosial yang terjadi di sekitar Borobudur, menyangkut hidup ribuan pengaasong. Apa saja langkah strategis Laily?


Ada kritik dari Kemendikbud, pengelolaan ketiga candi ini katanya belum memberikan kontribusi yang besar terhadap masyarakat di sekitarnya. Menurut Anda bagaimana?


“Saya rasa kalau tidak memberi dampak itu juga tidak, memang ada dampaknya tapi belum optimal itu iya. Saya rasa juga kalau segala sesuatu pastinya harus dilakukan secara proporsional, kalau kami adalah korporasi pastinya kita bisa berkontribusi apalagi BUMN. BUMN tidak hanya dibentuk untuk mencari untung saja tapi mendampingi usaha kecil masyarakat, menggerakkan perekonomian masyarakat itu juga salah satu tugas dari BUMN. Tetapi pastinya dilakukan secara proporsional dengan kewenangan BUMN, maksudnya jangan tumpang tindih akhirnya BUMN melakukan fungsi pemda.” 


Sepertinya Anda mulai menjadikan wilayah sekitar candi menjadi pusat makanan khas ya? 


“Itu juga salah satu tujuannya tadi bahwa di sekitar candi itu ada potensi-potensi budaya itu juga hal yang harus kita lindungi. Kerja sama dengan masyarakat pastinya potensi budaya tadi kita coba hidupkan bersama-sama dan coba di-link denga ncandi mulai dari basis sektornya mereka apa. Jadi pariwisata memberikan kontribusi yang lebih luas, kalau kemarin kita memang sudah kerja sama dengan stakeholders yang ada. Apalagi kalau ngomong Borobudur sangat banyak pihak yang mau masuk mulai dari organisasi pemerintah, LSM, akademisi, donor-donor asing sangat banyak yang masuk ke Borobudur. Cuma selama ini sepertinya belum ada koordinasi yang baik jadi sekarang saya rasa sudah ada kesadaran bahwa semuanya punya tujuan yang sama, kita saling koordinasi duduk bersama. Dari kami sebenarnya selama ini mengeluarkan dana yang tidak kecil juga, sekitar 20 persen dari laba tahunan untuk kegiatan yang sifatnya berhubungan dengan program kemasyarakatan.” 


Apa yang dibutuhkan PT Taman untuk menjadikan Borobudur diperhatikannya sama seperti juga pemerintah di luar negeri memperhatikan candi-candinya seperti Angkor Wat di Kamboja?


“Saya rasa itu sebenarnya bukan hanya untuk PT Taman. Kalau management heritage kalau UNESCO dia memang tidak mewajibkan masing-masing negara untuk ini itu tidak. Jadi memang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing, ada yang dikelola memang oleh badan pemerintah tapi dia bukan kementerian, ada yang dikelola oleh semacam BUMN, ada yang seperti Indonesia dipisah-pisahkan. Jadi sebenarnya paling tidak ada peraturan yang memang mengatur soal penggunaan ruang, itu untuk menekan kualitas lingkungan yang ada di sekitar itu sangat penting.”


“Pemerintah punya wacana untuk membuat Borobudur dan Prambanan sebagai kawasan strategis nasional. Saya rasa itu cita-citanya sangat bagus, cuma memang tantangannya adalah pada saat implementasinya. Karena pastinya regulasi tidak hanya bisa melihat idealisme saja tetapi bagaimana sekarang kondisi yang ada di masyarakat. Jadi oke tata ruang bagus ketika kita bisa membatasi penggunaannya sehingga kualitas lingkungan itu tetap terjaga. Tapi itu juga harus melihat kondisi masyarakat yang ada, karena kalau tidak akan menyebabkan potensi konflik sosial yang sangat tinggi dan sekarang pun sudah kita rasakan di Borobudur dan itu sudah bawaan dari dulu ketika restorasi.” 


Konflik sosial kondisinya seperti apa? 


“Paling gampang yang terlihat adalah masalah pengasong di Borobudur. Kalau Borobudur itu dulu diatur hanya 400-600 pedagang di awal tetapi sekarang sudah ada 3.600 pedagang dan semuanya ada di wilayah Candi Borobudur. Mau seperti apa juga tidak memungkinkan karena dulunya tidak diatur seperti itu. Tapi kalau dirunut dulunya memang wilayah Candi Borobudur itu sendir perkampungan, orang-orang ketika restorasi itu ada sekitar 5 kampung dan orang-orang ini petani dulunya. Ketika mereka digusur ada keterikatan psikis antara orang-orang tadi dengan konsep ruang mereka. Jadi menurut mereka konsep ruangnya Borobudur itu tetap rumah mereka karena memang rumah mereka ada di situ.” 


Kira-kira apa yang bisa dilakukan PT.  Taman untuk semakin menekan konflik sosial dan memberi ruang yang tergusur untuk lebih mendapat tempat? 


“Pastinya proporsional. Kalau sudah seperti ini saya rasa ya tidak bijak juga kalau itu harus dilakukan PT Taman sendiri walaupun itu memang wilayahnya di PT Taman. Tapi kalau melihat keadaannya tidak mungkin ini diselesaikan sendiri oleh PT Taman. Jadi salah satunya adalah kalau dibilang orang-orang ini petani mereka digusur tidak punya lahan dan tidak siap walaupun dulu diberi ganti rugi yang cukup besar dibanding kondisi saat itu. Tapi saya rasa mungkin masyarakat sekitar tidak siap dengan perubahan pola hidup ini jadi akhirnya tidak bisa me-manage. Selain itu juga dari sisi tempat sangat berbeda antara Borobudur dan Prambanan, padahal kondisi awalnya sama yaitu sama-sama digusur, sama-sama masyarakat pertanian.”


“Cuma saya rasa di Prambanan karena memang lokasinya lebih terbuka dengan akses dari luar, masyarakatnya juga mempunyai pendidikan yang lebih tinggi. Akhirnya dengan pembangunan nasional menjadi banyak pilihan untuk mencari hidup akhirnya pedagang asongan tidak ditemukan di Prambanan. Jangka panjangnya itu kami berharap bisa memberi pilihan yang lain kepada masyarakat. Kalau dari PT Taman sendiri karena kami kewenangannya terbatas jangan terus di-over value bahwa kami punya pendapatan yang bisa menghidupi masyarakat juga tidak akan cukup.”


“Tetapi yang bisa kita lakukan adalah bagaimana caranya menghidupkan simpul-simpul ekonomi baru di sekitar Borobudur. Jadi orang itu tidak datang hanya ke Borobudur saja, akhirnya mereka spending-nya lebih banyak dengan cara mengenalkan. Mengenalkan nilai budayanya juga itu adalah sisi pelestarian dan juga memberikan kontribusi kepada masyarakat, kita tidak ingin ada konflik sosial. Kita pastinya mengembangkan seni-seni perhiasan, seni, homestay, pengasong diharapkan jadi pengrajin. Daripada semuanya jualan dan harapannya pasti mereka mendapat value added yang lebih banyak. Tapi yang tidak boleh dilupakan apa, basis sektornya kan pertanian. Kalau dibilang sekarang di sekitar Borobudur yang terlibat langsung dengan pariwisata itu hanya sekitar 23 persen. Jadi bagaimana juga pariwisata itu bisa dihubungkan ke belakang kepada basis sektornya. Mungkin tadi kuliner, berarti bahan-bahannya itu dari produk yang dihasilkan oleh masyarakat sekitar.” 



  • Candi
  • Laily Prihaningtyas

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!