ragam
Penyintas Terapi Konversi: 'Aku Dipaksa Melihat Perempuan Telanjang'

Cerita individu ragam gender dipaksa konversi oleh keluarga lewat berbagai cara, sampai harus melakukan kekerasan seksual

Penulis: Ninik Yuniati, Heru Haetami

Editor: Malika

Audio ini dihasilkan oleh AI
Google News
Gambar seorang pria berambut panjang dan berkacamata mengenakan kemeja dua warna, duduk di meja di dalam ruangan.

KBR, Jakarta - Peristiwa jelang Lebaran 2021 lalu masih membekas di benak Rafa, bukan nama sebenarnya. Kala itu, Rafa sekeluarga sedang menginap di rumah keluarga nenek, tradisi rutin di penghujung Ramadan saban tahun.

Suatu siang, mama mengajak Rafa pergi.

"Dia bilang ruqyah. Dia (mama) kayaknya gak nanya mau diruqyah atau enggak, tetapi langsung ngajak, jadi aku mau gak mau ikut."

Rafa kaget. Rupanya mama masih ingin mengubah Rafa jadi sosok lelaki ideal menurut bayangan mama.

Rafa mengaku upaya ini sudah dilakukan mama lewat berbagai cara sejak Rafa kecil.

Kali ini dengan ruqyah, terapi non-medis yang populer di kalangan muslim.

"Aku gak menolak karena aku udah punya standing point dalam tubuhku. Aku gak bakal bisa berubah, aku akan tetap jadi gay. Jadi ya udah aku tetap ikut. Karena di kuliah aku juga tahu ada terapi konversi, berbentuk ruqyah dan lain sebagainya."

Mereka sampai tujuan setelah sekitar 30 menit perjalanan dengan mobil. Tempat ruqyahnya berada di pinggir jalan raya.

“Kayak rumah biasa, disekat-sekat, (ada) sertifikat psikolog dia tulis di depan, ada konseling, ini, ini, ini, salah satunya terapi konversi."

Seorang laki-laki muncul menyambut. Rafa langsung tahu, inilah si ustaz yang bakal meruqyahnya.

“Biasa, kayak (di) psikolog, konseling dulu, ceritanya apa dan lain sebagainya. Mamaku udah langsung (bilang) anaknya gay.”

“(Kata ustaz) 'Bisa kok, Bu, ini bisa disembuhkan', mentioning lagi yang bikin aku ketawa (dalam hati) jin gay. Optimis banget dia menjelaskan prosesinya, 'setelah konseling ini akan ada ruqyah', dia nyebut ruqyah aja. 'Akan dibacain ayat-ayat dan sebagainya'. 'Jadi, ya udah kamu biasa aja, intinya jin gay-nya akan keluar'.”

Baca juga: Transpuan Melawan Konversi: 'Saya Sudah Begini dari Kecil'

Pamflet dan rundown acara sarasehan serta workshop pencegahan LGBT berbasis nilai keagamaan dan kebangsaan oleh MUI dan Pemkot Bekasi pada 5 November 2025 di BBPLK Cevest Bekasi.
Acara "Sarasehan Upaya Pencegahan LGBT" yang digelar MUI Kota Bekasi, Jawa Barat, 5 November 2025. Terjadwal ada sesi hipnoterapi yang dikritik sebagai upaya konversi paksa. (Foto: istimewa)
Advertisement image

Ritual

Proses ruqyah pun dimulai. Rafa bersama si ustaz masuk ke ruangan lain yang lebih besar. Mamanya menunggu di luar.

“(Ada) Quran, poster-poster, tempat tidur, tapi aku duduk (di kursi), mejanya di pinggir.”

Rafa disuruh duduk di kursi. Si ustaz berjalan memutarinya sembari membacakan doa-doa. Sesekali, Rafa disembur air.

“(Air) di gelas dia minum terus menyembur. Dia jelasin, air ini udah didoain, doanya ini, biar kamu gini, gini. Terus dia buka Quran, baca ayat. Dia juga sambil mengelilingiku, enggak yang bener-bener di belakangku doang. Jadi kalau mau nyembur dia ke depan, terus pegang kepalaku, sambil didoain,"

"Seluruh badan jadinya basah, banyak lho, gak sekali disemburnya, dia (bilang) biar si jin gay-nya hilang.”

Rafa juga "diceramahi" tentang cerita Sodom dan Gomora. Ruqyah berlangsung sekitar 30 menit.

"Kayak (ustaz bilang) kita sebagai manusia itu diciptakan berpasang-pasangan, kamu tahu, kan, kaum Sodom yang dilaknat sama Tuhan, dan lain sebagainya.”

Tetap saja mental Rafa terguncang, meski seluruh proses itu sudah ia prediksi.

“Aku udah mentally breakdown. Walaupun aku berani dan menantang itu, tetep aja nge-rasa kayak pendekatan agama diginiin dan lain sebagainya.”

Ruqyah selesai, tetapi terapi belum usai.

“Terus pindah ke ruangan yang gelap. Lebih kecil, gelap banget, tetapi masih ada cahaya dari luar, pantulan doang. Aku masih bisa nge-recognize si ustaz di mana.”

Konversi yang menghancurkan

Rafa melihat sosok lain. Seorang perempuan, tanpa busana.

“Aku nanya itu siapa? Si ustaz enggak bilang apa-apa, bener-bener kayak udah kamu duduk aja di situ."

Rafa disuruh duduk di kursi. Perempuan itu berdiri di depan Rafa, berhadap-hadapan, kemudian berjalan mendekat.

"Aku bener-bener mentally breakdown, nge-lihat ada perempuan telanjang full. Ini untuk pertama kalinya aku in real life nge-lihat perempuan dengan vagina dan payudaranya."

Rafa ingin berontak.

“Aku gak consent. Ini bukan kemauan aku sama sekali untuk nge-lihat, even nge-lihat aja buatku udah menyakitkan.

Si ustaz terus merapalkan ayat, tak peduli dengan kondisi Rafa.

Lalu, tak disangka-sangka, Rafa disuruh memegang payudara perempuan itu.

“Aku disuruh, kanan-kiri memegang payudara perempuan tersebut."

Rafa kalut.

“(Si ustaz) bilang itu untuk memastikan si roh gay ini udah keluar, untuk me-trigger roh heteroseksual untuk masuk. Aku disuruh pegang untuk membangkitkan rasa itu, dan itu dijeda."

Ia menangis, mengutuki dirinya karena tak kuasa menolak.

“Aku cuma menyalahkan diriku. Terus yang kedua, aku udah mulai nangis ngejer, aku udah mulai bisa nolak, 'gak mau, aku udah gak mau untuk pegang lagi'.”

Rafa mengumpulkan keberanian untuk melawan. Ia mendengar si ustaz mulai meninggikan suara.

"(Ustaz) menambahkan ayat-ayat, meyakinkanku, memakai mamaku sebagai alasan juga, 'mamamu udah kayak gini lho, udah cerita sama ustaz gini, gini, gini. Emang kamu gak mau ngebanggain?' Jadi nge-bawa mamaku, nge-bawa ayahku,"

“Yang ketiga itu aku udah bisa teriak untuk bilang 'enggak, enggak, enggak'. Aku gak mau lagi, buat apa?', aku mulai mempertanyakan,"

"Tapi aku tetap harus memegangnya (payudara), aku harus melihat vaginanya dia juga."

Tangis Rafa makin menjadi, ia tak berhenti mengutuki diri.

"Ini berapa kesalahan? Aku juga memikirkan perempuan ini siapa? dia dipegang payudaranya. Apa yang dia rasakan melihat orang di depannya memegang payudaranya dia, sambil dilihat juga vaginanya?"

Batin Rafa tersiksa, meratapi ketidakberdayaannya.

Hampir 30 menit hingga sesi yang paling menghancurkan mental Rafa itu selesai sepenuhnya.

"Gak ada yang kurasakan selain, aku merasa lebih sakit terhadap diriku. Aku melakukan kekerasan seksual pertamaku."

Di rumah, Rafa mengurung diri di kamar. Tak ada obrolan soal apa yang terjadi saat proses konversi. Ia duga mamanya yakin terapinya berhasil.

“Aku sampai nangis dan teriak, itu adalah proses di mana mengeluarkan si roh gay tersebut. Dia (mama) percaya aja gitu, menurutku ya. Karena ini gak ada proses klarifikasi,"

"Selesai di situ gak ada konseling lagi. Gak ada ketemu lagi karena mungkin di anggapannya (mama), karena dengan nangis, dengan teriak, dengan prosesi tersebut, aku udah kembali ke fitrahnya.”

Infografis Riset CRM x Arus Pelangi 2025 tentang pengalaman upaya konversi oleh psikolog/psikiater, menampilkan persentase tekanan mengubah identitas, diskriminasi, hingga keinginan mengakhiri hidup.
Ilustrasi: AI
Advertisement image

Bagi Rafa tak ada yang berubah. Malah, terapi konversi itu meninggalkan trauma mendalam.

"Aku jadi takut banget (sama perempuan). Aku nge-rasa, aku pelaku, aku nge-rasa guilty banget. Bahkan sampai untuk cium pipi, aku gak berani."

Itu adalah upaya konversi kesekian yang dilalui Rafa, tetapi paling mengguncang dan membekas di dirinya.

Dua kali Rafa dihadapkan ke psikolog, saat SMP dan SMA. Ironisnya, di ruang konseling yang mestinya aman, Rafa justru dihakimi.

“Dia (psikolog) mempertanyakan, kamu masih suka sama perempuan? Kamu tau, kan, kalau gay itu gimana? kan manusia berpasangan. Emang kamu bisa bereproduksi. Dia (psikolog) melarang aku (jadi gay), karena nyambungin ke HIV.”

Segala pemaksaan konversi itu Rafa lalui, termasuk metode ruqyah yang kontroversial. Tak ada yang berubah.

“Aku udah accepting, sebenernya aku gak ada konflik batin soal gay sih.”

Rafa mengidentifikasi diri sebagai non-binary.

“Aku gak nge-rasa fit in di kedua gender biner tersebut. Misalnya aku nge-rasa gak nyaman kalau dipanggil bang, mas. Aku juga gak ngerasa aku tuh perempuan, as a human sebenernya kamu gak harus memilih dua itu. Bahwa jadi male or female atau jadi apa, kamu bisa yang gak selalu di kotak dua itu.”

Baca juga: Dipecat, Diusir, Dipersekusi, Dikriminalisasi: Realita Hidup Kelompok Ragam Gender/LGBTIQ+ di Indonesia

Kehilangan keluarga

Lebaran 2023, dua tahun setelah terapi ruqyah yang menyakitkan. Rafa seperti biasa berkunjung ke rumah keluarga besar mamanya.

Rasa duka menguar karena pertama kali berlebaran tanpa sang ayah yang wafat setahun sebelumnya. Tepatnya di hari Lebaran 2022.

“Itu menjadi satu titik di mana aku benci sama Lebaran.”

Rafa melewati tiga momen Lebaran yang sangat berat. Terapi ruqyah yang melukai jiwa, kepergian ayah, dan kehilangan keluarga.

Di hari H Lebaran 2023.

“Habis salat, kita makan ketupat, minta maaf. Karena mamaku itu paling besar, sidang dimulai adalah sidang aku.”

Mama Rafa tiba-tiba berkata.

“Mama mau nanya sama abang (panggilan Rafa). Gak apa-apa di keluarga besar ini, biar semuanya juga tahu."

Kemudian kakak tirinya mendekat, menunjukkan percakapan di WhatsApp pribadi Rafa. Mama Rafa langsung naik pitam.

“Terus baru dia (mama) agak naik satu oktaf (suaranya), 'kan mama udah ini, ini, ini, ini'. Naik dua, tiga oktaf, sampai akhirnya dia teriak. 'Mau ngaku gak, ini udah kayak gini, kayak gini, kayak gini. Nangis-lah manusia ini (Rafa). Dia (mama) nambah marah, 'gak usah nangis, kenapa harus nangis?, tinggal jawab iya atau enggak?',”

“Iya, aku gay. Tiga kata itu, yang langsung bikin geger.”

“Mamaku nangis, oma-ku nangis. Mamaku punya tiga adik perempuan, satu adik laki-laki, (mereka) kayak langsung marah. 'Kenapa kamu bisa kayak gitu?'. Apalagi yang laki-laki, langsung menyamperi aku, 'kenapa dari dulu udah di-iniin, di-iniin, dikasih tau, disekolahin tinggi-tinggi, kamu gini, gini, gini,"

"Papaku disebut juga, udah meninggal, kan, kamu malah jadi kayak gini. Emang gak kasihan sama dia nanti?'."

Rafa terdesak, tak ada satupun yang membela.

“Mamaku nangis. Terus akhirnya dia nge-lempar piring beling ke arah aku. Untung jatuhnya ke depan aku, 'udah gak usah kamu jadi anak, jadi anak durhaka aja gitu'.”

Sekonyong-konyong Mama Rafa mengeluarkan kartu keluarga. Di dalamnya tertera tiga nama, mama Rafa sebagai kepala keluarga, Rafa, dan adiknya.

“Aku gak tau dia (mama) udah mempersiapkan kartu keluarga itu dari awal atau gimana. Dia melakukan seremonial untuk mencoret, (nama) aku dicoret sama dia pakai spidol hitam,"

"'Kamu udah gak mama anggap sebagai anak ya'."

Rafa sudah tak sanggup berada di ruangan itu. Tangisnya tak terbendung. Ia berlari keluar, meninggalkan rumah yang dikenalnya sedari kecil.

"Aku pergi. Daripada aku mati. Aku kepikiran aku akan mati di situ, kalau aku melanjutkan itu. Jadi aku berpikir cepat aja, lebih baik aku pulang. Terus aku beneran keluar langsung mesen Gocar yang agak jauh."

Itu Lebaran pertama yang Rafa rayakan tanpa keluarga.

"Aku udah chatan sama temen-temen pas di perjalanan pulang, aku lebaran di mana ya? Kayaknya aku ke rumah temenku deh, open house, aku gak sendiri."

Keramaian hadirin dalam acara komunitas LGBTQ+ yang dihiasi bendera kebanggaan biseksual, transgender, non-biner, dan pohon Natal.
Perayaan Natal yang digelar komunitas Narasi Toleransi Indonesia (NTI), Rabu (24/12/2025) yang dihadiri individu-individu dengan ragam gender dan seksualitas. (Foto: KBR/Ninik)
Advertisement image

Sebatang kara

Dua tahun putus hubungan dengan keluarga, kadang terbit rindu Rafa, tentang suasana rumah, momen bersama di ruang tengah saban malam, sembari menyantap masakan mama. Bebek jadi menu favoritnya.

"Karena dia (mama) suka masak bebek. Aku jadi mencari bebek seenak (masakan) dia. Belum ada. Bebek Carok, Bebek Songkem, Bebek Kaleyo, yang menurut orang top tier, kayaknya enggak selembut (masakan) dia, bumbu maduranya. Aku tetap mencari itu, rasa yang dulu ada."

Rafa berulang kali mendaku diri family person. Ia sulung dari dua bersaudara. Ayahnya jarang pulang karena bekerja di laut berbulan-bulan. Mereka bertiga- Rafa, mama, dan adiknya, yang menghangatkan rumah.

Tiap malam adalah waktu keluarga. Diawali salat maghrib, mengaji, salat isya, makan malam bersama, mengerjakan PR, diselingi menonton televisi, sembari berbincang. Ruang tengah rumah menjadi pusat interaksi mereka bertiga.

“(Momen) nggak tergantikan buatku. Aku masih inget semua rasa itu. Sampai umur 20 (tahun) hal-hal itu masih ada, cukup lama, kan, 20 tahun,"

"Sama temen-temen queer-ku pun, kita ketemu mingguan. Ini setiap hari, itu rasa yang selalu dibangun. Aku sangat family person dari kecil. Aku nge-lihat sosok ayahku. Aku yang selalu bareng keluarga, punya forum diskusi itu, tiba-tiba semua hal itu hilang.”

Jalinan relasi ini yang tetap melekat di diri Rafa, meski ia sudah tak dianggap bagian dari keluarga.

“Memoriku masih ada di mereka dan itu juga yang akhirnya aku tetap ngasih uang bulanan ke mamaku."

Mama Rafa sudah berusia 60-an tahun. Kabar bahwa sang mama masih harus bekerja di usia senja tak pelak membuat Rafa terenyuh.

"Sekarang (mama) jadi ART, itu bikin aku sedih, as a family person, kayak kok aku malah nggak nolongin dia. Makanya aku tetap ngasih (uang)."

Sekali, Rafa pernah bersua dengan mamanya saat berkunjung ke rumah nenek. Namun, uluran tangannya tak disambut

“Aku mencoba salim, dia langsung mengelak, dia jalan memutar, intinya dia gak mau aku sampai salim sama dia. Dia langsung ke ruangan yang berbeda.”

Rafa kadang merasa sebatang kara, karena tak ada satupun keluarga yang menerima.

“Bahkan temen-temen-ku yang udah coming out, tetep punya keluarga. Aku nge-rasa sedih banget, kenapa aku enggak? Kayak satu persen gitu masih bisa jadi safety net. Ini aku beneran gak punya safety net sekarang.”

Mengunjungi makam papa, menjadi penghiburan Rafa.

“Kalau aku lagi capek banget, aku kadang ke makam papaku, bercerita. Aku masih nge-rasa, keluargaku tinggal dia aja. Jadi aku nge-rasa cukup deket sama dia. Karena dia gak pernah mempertanyakan aku. Bahkan sampai yang straight forward, itu gak pernah. Dia selalu kayak 'ya udah, ya udah'."

Seandainya cerita bisa diubah…

“Buatku lebih baik ngobrol, diskusi gitu hal-hal apa yang harus kita sama-sama ngerti dan lain sebagainya dibanding akhirnya mengupayakan, mengubah, (padahal) tidak consent. Itu malah menjadi sebuah praktik diskriminasi, jadi represi juga. Aku bener-bener merasakan trauma.”

Penulis: Ninik Yuniati, Heru Haetami

Editor: Malika

LGBTIQ+
komunitas ragam gender
terapi konversi
ragam gender dan seksualitas


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Loading...