”Kami enggak bisa ke sekolah, enggak ada apa-apanya lagi yang bisa dibawa."
Penulis: Erwin Jalaludin
Editor: Sindu

KBR, Aceh– ”Kami enggak bisa ke sekolah, enggak ada apa-apanya lagi yang bisa dibawa." Itu adalah ungkapan Muhammad Isa, Rahmad, dan Muzakkir, para siswa di salah satu sekolah dasar (SD) di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, yang kini jadi korban banjir dan tanah longsor.
Selain mereka, ada belasan ribu pelajar di beberapa kabupaten/kota di Provinsi Aceh, yang tak bisa mengikuti proses belajar mengajar semester baru atau genap. Faktornya sama: bencana banjir dan longsor.
Sebab, perlengkapan sekolah mereka ikut hanyut dan rusak diterjang banjir dan tanah longsor, 26 November 2025.
”Apalagi, kamp pengungsian darurat kami jauh sekali jarak tempuhnya ke sekolah, enggak ada uang jajan, enggak ada kendaraan antarjemput ke sana, ” ungkap mereka saat ditemui KBR, Senin, (5/1).
Ketiganya mengaku, tidak mengetahui kapan dapat kembali belajar di bangku sekolah bersama teman seusianya.

Kurikulum Reguler dan Darurat
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Utara, mengakui kondisi belajar mengajar di sekolah belum sepenuhnya pulih usai bencana. Namun, aktivitas perdana semester genap di 516 sekolah terdampak tetap dilakukan.
Juru bicara pemkab Aceh Utara, Muntasir Pase menuturkan, dari jumlah itu, sekitar 345 unit sekolah melaksanakan pembelajaran sistem kurikulum reguler dan sisanya secara darurat.
”Ada 345 sekolah belajar normal, 242 belajar lesehan, 3 sekolah belajar ditenda darurat, 20 sekolah belajar bergantian, dan 5 sekolah belajar kunjungan ke pengungsian. Dan, ada 48.861 siswa/siswi yang di pengungsian,” jelasnya.

Belasan Ribu Absen
Data Dinas Pendidikan Aceh mengklaim, 80 persen pelajar di wilayah banjir sudah hadir ke sekolah. Sementara sekitar 20 persen belum hadir alias absen.
Menurut Plt Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, jumlah itu setara belasan ribu pelajar yang masih belum hadir alias absen.
”Di Kabupaten Aceh Tamiang hanya satu sekolah yang benar-benar bersih di SMAN 4 Kecamatan Kejuruan Muda. Bapak Menteri Abdul Mu’ti yang mengambil langsung apel upacara bendera perdananya di sana dengan membawa bantuan 2.600 paket bantuan seragam dan peralatan sekolah,” tuturnya.
Murthala menjelaskan, Pemprov Aceh bersama mitra mengerahkan enam unit alat berat untuk membersihkan lumpur untuk pemulihan pasca-banjir. Lokasi yang jadi prioritas adalah gedung-gedung sekolah, agar dapat berfungsi dan bisa segera pulih.
”Sambil kita persiapkan bantuan 300 ribu paket bantuan seragam dan peralatan sekolah, juga kita fokus pengerukan lumpur yang memenuhi gedung sekolah. Mudah-mudahan bisa teratasi sesegera mungkin,” ucap Murthala yang juga Jubir Satlak Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi Aceh.

Kemendikdasmen Turun
Dua pekan pasca-bencana di Provinsi Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berupaya memulihkan dan membantu warga satuan pendidikan yang terdampak bencana.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti mengunjungi para korban di Kabupaten Aceh Tamiang.
Di sana, menteri berdialog dengan sejumlah kepala sekolah mulai jenjang TK hingga SMA/SMK. Menteri Mu'ti mencoba menyemangati dan memotivasi para kepala sekolah dan korban banjir agar tegar menjalani masa pemulihan pasca bencana sekaligus memberikan bantuan pendidikan.
"Hari ini Kemendikdasmen hadir di Kabupaten Aceh Tamiang memberikan bantuan moril dan mutu pendidikan untuk semua jenjang sekolah. Untuk TK kami berikan 10 juta, SD 15 juta, SMP 20 juta, dan SMA/SMK 25 juta," ungkap Mendikdasmen, Abdul Mu'ti dalam kunjungan kerjanya di Kabupaten Aceh Tamiang sesuai rilis yang diterima KBR.
Menteri Mu'ti juga menegaskan keberpihakan kementeriannya atas situasi yang terjadi di Provinsi Aceh, Sumbar, dan Sumut. Salah satu wujudnya adalah keringanan penilaian Ujian Akhir Semester (UAS) bagi tiga provinsi tersebut. Sebab, saat ini UAS tengah berlangsung di berbagai wilayah di tanah air.
”Mengingat situasi dan kondisi di Kabupaten Aceh Tamiang yang belum memungkinkan melakukan ujian, kami mendorong kepada para guru untuk memberikan penilaian berdasarkan nilai-nilai harian dari para murid. Yang terpenting anak-anak tetap semangat dan memiliki motivasi tinggi untuk belajar," paparnya.

Upacara Perdana
Selain itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengklaim terus berupaya memastikan hak belajar murid tetap terpenuhi, di tengah proses pemulihan pasca-bencana.
Di Aceh Tamiang, Mendikdasmen Abdul Mu'ti melaksanakan upacara bendera di SMAN 4, atau tepat di pembelajaran hari pertama semester genap tahun pelajaran 2025/2026.
Pelaksanaan upacara ini sekaligus menjadi simbol dimulainya kembali aktivitas belajar-mengajar secara bertahap usai bencana.
Menteri Mu’ti mengatakan, hari pertama sekolah memiliki makna penting sebagai momentum kebangkitan dan penguatan semangat belajar murid. Ia mengajak seluruh warga satuan pendidikan untuk tetap bersyukur dan menjaga optimisme, meskipun proses pemulihan belum sepenuhnya selesai.
Kemendikdasmen juga akan mengalokasikan anggaran revitalisasi secara berkelanjutan bagi satuan pendidikan yang masih dalam proses pemulihan, termasuk melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan pada tahun anggaran 2026.

Keleluasaan
Menteri Mu'ti bilang, Kemendikdasmen memberikan keleluasaan penyesuaian pelaksanaan pembelajaran kepada satuan pendidikan di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
"Hak belajar peserta didik harus tetap terpenuhi meskipun pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Seluruh satuan pendidikan di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara, siap melaksanakan pembelajaran semester genap pada 5 Januari 2026," kata Mu'ti di Jakarta, Sabtu, 3 Januari 2026, seperti dikutip dari ANTARA.
Kemendikdasmen telah menyalurkan sejumlah bantuan, semisal dukungan pembersihan sekolah, penyediaan peralatan sekolah, pendirian tenda darurat, dana operasional, ruang kelas darurat, layanan dukungan psikososial, serta buku bacaan bagi para siswa.

Dampak Bencana
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), per Selasa, 7 Januari 2026, pukul 14.35 WIB, longsor dan gempa di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, menyebabkan 1.178 jiwa meninggal. Terbanyak ada di Aceh Utara, yakni 229 jiwa meninggal.
Tercatat, ada 53 kabupaten/kota terdampak, 147 orang hilang, dan 242,2 ribu jiwa mengungsi.
Bencana itu juga menyebabkan 175.126 rumah rusak, baik berat, sedang, hingga ringan. Selain itu, ada 3.188 fasilitas pendidikan yang rusak.
Baca juga:





