Pihak Bobibos mengeklaim ada lima negara yang tertarik, salah satunya Timor Leste. Apa alasannya?
Penulis: Naomi Lyandra
Editor: Resky Novianto

KBR, Jakarta - Inovasi bahan bakar ramah lingkungan berbasis Jerami terus dikembangkan oleh Bobibos. Puncaknya, Bobibos bersiap memasuki tahap produksi massal di Timor Leste. Bobibos adalah singkatan dari "Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos,".
Setelah menghentak publik Tanah Air sejak awal peluncurannya pada 2 November 2025, kini Bobibos malah mengekspansi negara tetangga, Timor Leste.
Pihak Bobibos mengeklaim bubuk jerami akan diberikan sejumlah formulasi kimia yang disebut serum. Lalu dari pengolahan itu menghadirkan cairan organik dan cairan ini yang nantinya bakal kembali diolah.
“Hingga akhirnya menghasilkan bahan bakar bensin dan solar. Bismillah, rakyat Timor Leste akan menikmati bahan bakar murah asli buatan Indonesia,” tulis pernyataan resmi Bobibos dalam laman resmi Instagram @bobibos_ yang dikutip Jumat (2/1/2026).

Timor Leste Dukung Bobibos
Wakil PM Timor Leste, Masiano Asanami Sabino menegaskan, mendukung kehadiran Bobibos di negaranya. Bahkan, Masiano berjanji memberikan karpet merah berupa regulasi dan proteksi kepada BOBIBOS dalam mengembangkan inovasinya.
“Ini adalah investasi dan energi bersama antara pengusaha Timor Leste dan Indonesia. Dan kabar gembiranya bahwa Indonesia belum ada regulasi yang mendukung, kalau di sini kita bikin regulasinya itu gampang,” jelas Masiano usai menghadiri acara MoU antara Timor Agronova SA dan PT Inti Sinergi Formula di Hotel Novo Turismo, Dili, Selasa (23/12/2025) dikutip dari laman resmi Instagram @bobibos_.
Timor Leste punya 1,4 juta penduduk. Namun, kekayaan alam yang dimiliki belum dikelola dengan maksimal. Negara yang sudah lahir sejak lebih dari dua dekade lalu itu hingga kini masih impor bahan bakar.
Masiano menyebut setiap tahun jutaan dolar dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan BBM rakyat Timor Leste. Bahkan, 90 persen kebutuhan berasnya diimpor dari negara tetangga. Padahal Timor Leste punya 87 ribu hektare sawah.
Sekedar informasi, saat ini harga bahan bakar bensin di Timor Leste berkisar Rp18 ribu sampai Rp20 ribu per liter.

Lima Negara Diklaim Tertarik, Termasuk Timor Leste
Pembina Bobibos, Mulyadi mengatakan sejauh ini sudah 5 negara menghubungi pihaknya. Sementara, kata dia, baru Norwegia dan Timor Leste yang diungkap. Mereka akan investasi dengan nilai yang sangat besar dan negara yang disebut terakhir, bahkan selangkah lagi bakal mengaplikasikannya.
“Norwegia dan Timor Leste sudah mengetahui potensi energi terbarukan berbasis jerami yang kami kembangkan. Bukan sekadar wacana, tapi hasil riset panjang, uji laboratorium dan pembuktian di lapangan,” klaimnya.
Mulyadi menyebut, sebagai anak bangsa, Bobibos tetap berharap teknologi ini diambil alih oleh negara Indonesia.
“Karena rakyat butuh energi murah, bumi dan alam butuh energi yang ramah lingkungan,” imbuhnya.

KDM Lanjutkan Kerja Sama, Siapkan Lahan untuk Bobibos
Dari dalam negeri, hingga saat ini kerja sama antara Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dengan pihak Bobibos diklaim masih berjalan.
“Kendala yang dihadapi bukan bersifat administratif, melainkan kendala teknis, terutama terkait penyiapan bangunan dan areal tanah sebagai pusat aktivitas produksi,” tulis keterangan bapenda.jabarprov.go.id yang dikutip dari Instagram Pribadi Dedi Mulyadi @dedimulyadi71.
Sebagai solusi, KDM, sapaan akrab Dedi Mulyadi, telah menyediakan lahan seluas 2 hektare yang akan difungsikan untuk berbagai kebutuhan operasional Bobibos. Lahan tersebut akan digunakan sebagai tempat penampungan mobil dan mesin produksi, penyimpanan cengkih sebagai bahan baku, serta pembangunan bangunan penunjang kegiatan produksi.
“Selain itu, kawasan Lembur Pakuan juga disiapkan sebagai pusat utama aktivitas,” tambah pernyataan tersebut.
Apabila proses pembangunan di kawasan tersebut telah rampung, truk pengangkut bahan dan mesin produksi akan ditempatkan di sana, sehingga proses produksi dapat segera dimulai secara optimal.

Jangan Berhenti sebagai Wacana
Dalam pernyataannya, Dedi Mulyadi berharap proyek Bobibos tidak hanya berhenti pada tataran wacana, tetapi mampu mewujudkan gagasan dan cita-cita besar dalam bentuk karya nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“Keberlanjutan kerja sama ini juga dipandang sebagai bagian dari komitmen Jawa Barat dalam mengembangkan industri berbasis potensi lokal yang berkelanjutan,” tulisnya,
Dengan kesiapan lahan dan infrastruktur pendukung yang tengah diselesaikan, Bobibos diharapkan segera memasuki tahap produksi dan menjadi salah satu contoh kolaborasi strategis antara pemerintah daerah dan mitra usaha dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Bobibos Diklaim Sudah Uji Laboratorium
Founder Bobibos, M Ikhlas Thamrin mengatakan Bobibos telah melalui tahapan uji coba yang panjang dan berlapis, mulai dari pengujian mesin hingga uji laboratorium resmi.
“Jadi setelah melalui beragam proses yang kita lakukan, lalu kita uji dulu di stun engine yang kita punya, baik itu di mesin bensin maupun mesin diesel, kita coba, gagal, coba lagi, gagal, coba lagi, gagal,” ujar Ikhlas dalam siaran Ruang Publik KBR, Jumat (26/12/2025).
Pengujian kemudian dilanjutkan ke sepeda motor, mobil pribadi, hingga kendaraan dengan pengujian emisi.
“Kalau tidak salah sudah hampir 600 kilometer kami uji untuk sepeda motor, lalu kita uji di mobil dan Alhamdulillah kita merasa percaya diri,” kata Ikhlas.
Hasil uji laboratorium dari LEMIGAS menunjukkan angka oktan yang tinggi.
“Keluar hasil uji disitu keluar angka oktannya 98,1. Disitulah yang kita menjadi rujukan”, ujarnya.
Tak hanya soal teknis, Bobibos juga menghitung kelayakan ekonomi produksi bahan bakar ini. Dari riset internal, jerami disebut mampu menghasilkan sekitar 30 persen bahan bakar cair.
“Dari 320 keluar angka di angka 100 liter, untuk bisa jadikan bensin atau solar, artinya kan disitu kita hitung, dan itu fakta, bukan kita rekayasa,” tegas Ikhlas.

Mengapa Bobibos Bukan Hal Baru?
Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin, mengatakan inovasi yang dikembangkan Bobibos sejatinya bukan hal baru dalam diskursus energi terbarukan. Ia menyebutnya sebagai bagian dari pengembangan second generation etanol.
“Sebenarnya bahan bakar ini bukan sesuatu yang baru ya, sudah cukup lama ditemukan yang disebut sebagai second generation ethanol,” ujar Ahmad dalam siaran Ruang Publik KBR, Jumat (26/12/2025).
Menurutnya, second generation ethanol berbeda dengan generasi pertama yang berbasis pati. Bahan baku generasi kedua berasal dari biomassa nonpangan dan melalui proses pretreatment sebelum fermentasi.
“Jadi secara umum sebenarnya ini bukan hal baru, cuman memang untuk mengembangkan itu mengalami problem baik teknis maupun nonteknis,” jelasnya.
Ahmad menekankan bahwa hambatan terbesar justru berada di luar aspek teknologi. Struktur pasar dan kebijakan yang masih berpihak pada bahan bakar fosil menjadi tantangan serius bagi masuknya bahan bakar alternatif.
“Problem inilah yang akhirnya menghambat sehingga ketika ada inovasi-inovasi baru, untuk ditahan sederhana rupa ada kecederungan bahwa existing fuel, existing technology yang menghasilkan fuel itu juga tidak rela begitu saja dengan masuknya bahan bakar baru," katanya.

Bioetanol Berpotensi, Tapi . . .
Ahmad Safrudin menilai, secara kualitas, second generation ethanol justru unggul dibanding BBM fosil, baik dari sisi oktan maupun dampak lingkungan.
“Dalam konteks oktan number ya, itu sangat tinggi, kisarannya antara 101 sampai 130… dan jelas sangat bersih, dalam konteks untuk mitigasi gas rumah kaca,” ujarnya.
Ia juga mengkritik narasi murahnya harga BBM fosil di Indonesia yang menurutnya menyesatkan.
“BBM di Indonesia itu justru lebih mahal dibanding benar-benar lain”, kata Ahmad sembari membandingkan kualitas dan harga BBM Indonesia dengan Malaysia.
Namun, Ahmad kembali menekankan bahwa persoalan utama tetap berada pada aspek nonteknis.
“Sekali lagi bukan faktor teknis, ya. Secara global mengakui, second generation ethanol adalah BBM yang berbeda dengan first generation ethanol," ujarnya.

Tantangan Bobibos di Tanah Air
Sementara itu, M Ikhlas Thamrin mengakui tantangan terbesar Bobibos adalah menekan harga agar dapat bersaing secara komersial.
“Kami sangat sadar, hitungan kami, apabila menggunakan alur pretreatment, bisa jadi harga itu satu liternya di atas Rp40.000,” ujarnya.
Karena itu, Bobibos mengembangkan serum dan formulasi sendiri untuk menekan biaya produksi.
“Itulah mengapa challenge terbesar kita adalah bagaimana proses ekstraksi menggunakan serum yang kami bikin sendiri, yang kami rancang sendiri,” jelas Ikhlas.
Dengan pendekatan tersebut, Bobibos mengklaim harga pokok produksi dapat ditekan hingga kompetitif.
“Kami harapkan bisa jual di bawah Rp10.000, dan itu non-subsidi dengan Octan number 98,1 dan itu adalah 100% organik,” terangnya.
Tekanan Nonteknis Sejak Peluncuran Bobibos
Ikhlas pun mengakui tekanan nonteknis tersebut mulai terasa sejak peluncuran resmi Bobibos.
“Apa yang disampaikan Pak Ahmad dengan aspek non-technical itu sangat terasa sekali hari-hari ini, seakan-akan kehadiran Bobibos itu dianggap sebagai sehingga perlu di buzzer,” katanya.
Meski demikian, Ikhlas menegaskan Bobibos siap membuka data dan proses secara transparan.
“Kami hadirkan apa adanya, kami ceritakan kepada publik apa adanya dan semua ada dokumentasinya. Kami siap terbuka kepada stakeholder,” pungkasnya.
Obrolan lengkap episode ini bisa diakses di Youtube Ruang Publik Edisi Khusus KBR Media
Baca juga:
- Teror ke Aktivis dan Pengkritik, Bukti Demokrasi Makin Terancam
- Sinar Keadilan di Tengah Krisis Iklim Usai Pengadilan Swiss Terima Gugatan Warga Pulau Pari






