indeks
Warga Protes Pembuangan Limbah Pasir Kuarsa Diduga Bikin Sungai Tercemar

Warga meyakini pencemaran berasal dari pembuangan limbah pencucian tambang pasir kuarsa dan bukan kiriman banjir dari daerah hulu, karena terdapat perbedaan yang mencolok.

Penulis: Musyafa

Editor: Resky Novianto

Audio ini dihasilkan oleh AI
Google News
Gambar genangan air lumpur cokelat di antara dua pilar, dengan tumpukan pakaian dan bayangan, relevan untuk berita dampak banjir atau lingkungan kotor.
Sungai Karas di Kabupaten Rembang yang diduga tercemar limbah cucian tambang pasir kuarsa pada 19 Januari 2026. Foto: KBR/Musyafa

KBR, Rembang- Warga Desa Karas, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah mengeluhkan keruhnya air sungai pada Senin, 19 Januari 2026.

Kondisi itu diduga karena ada pembuangan limbah pencucian tambang pasir kuarsa ke dalam sungai.

Baligh Muaidi, salah satu warga Desa Karas, Kecamatan Sedan, mengatakan awalnya air sungai masih bening, sehingga masyarakat bisa leluasa mencuci pakaian di pinggir sungai dan mengambil air untuk minum ternak.

“Semula masih jernih airnya, Mas,” ungkapnya.

Namun selang 10 menit kemudian, air sungai tiba-tiba menjadi sangat keruh.

Dugaan Limbah Sisa Pencucian Pasir Kuarsa Makin Kuat

Ia meyakini pencemaran berasal dari pembuangan limbah pencucian tambang pasir kuarsa dan bukan kiriman banjir dari daerah hulu, karena terdapat perbedaan yang mencolok.

“Kalau limbah pencucian pasir kuarsa di buang ke sungai, air seperti nampak ada lendir-lendirnya. Lagipula memang nggak ada kiriman banjir dari daerah hulu. Kalau air kiriman, nggak akan seperti ini,” imbuh Baligh.

Menurutnya, tidak semua usaha pencucian pasir kuarsa, asal sembarangan membuang limbah ke sungai.

“Tadi saya langsung pantau ke beberapa titik sungai di bagian atas sana (arah Pamotan). Ada sungai yang kondisinya masih jernih, meski dekat dengan pencucian pasir kuarsa. Tapi ada yang sangat keruh sungainya,” terangnya.

Kalau pembuangan limbah ke sungai berlarut-larut, akan sangat mengganggu aktivitas masyarakat di sepanjang bantaran sungai.

Apalagi masalah ini sudah terjadi cukup lama dan meresahkan masyarakat. Namun belum ada tindakan tegas dari pemerintah.

“Misal ya waktu hari Idul Qurban lalu, warga mau nyuci jeroan ternak usai penyembelihan hewan qurban, itu nggak bisa, karena airnya sangat keruh,” kata Baligh.

Sungai coklat keruh mengalir di antara tepian rumput hijau, menggambarkan kondisi air akibat sedimentasi atau dampak musim hujan.
air sungai Desa Karas Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, berubah sangat keruh, Senin pagi (19/1/2026). Foto: KBR/Musyafa)
Advertisement image

Kelestarian Lingkungan Diabaikan

Baligh menimpali sebenarnya masyarakat menyadari pencucian pasir kuarsa, menyedot tenaga kerja bagi lingkungan sekitar.

Tetapi sebaiknya para pengelola usaha juga ikut memperhatikan kelestarian sungai, dengan cara menampung limbah bekas air pencucian ke dalam bak terlebih dahulu. Setelah bening, baru dialirkan ke sungai.

“Seharusnya dibeningkan dulu, biar sama-sama bisa kerja. Yang di pencucian pasir kuarsa tetap bisa mencari nafkah, sedangkan warga di pinggir sungai, bisa memanfaatkan air. Kalau dari sisi aturan, mungkin mereka melanggar ya, soalnya dekat dengan sungai,” terang Baligh.

“Tapi demi kemanusiaan, ya ayolah, ben podho-podho (biar sama-sama, red) kerja, buang ke sungai nggak apa-apa, tapi sekali lagi dibeningkan dulu,” tambahnya.

Seorang petani di Desa Karas, Sulhan mengaku khawatir kalau harus mengalirkan air sungai ke lahan pertanian, untuk mengairi tanaman.

“Takutnya kenapa-kenapa, soalnya air sudah tercemar begitu. Lebih baik mengandalkan hujan saja. Mungkin kalau sudah terpaksa sekali, kok keadaan air sungai bening, ya barulah kita sedot,” kata Sulhan.

Seorang pria berjaket hijau meninjau tumpukan pasir kuarsa di gerobak dorong dalam sebuah acara.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat mengecek barang bukti pasir kuarsa di Kecamatan Lubuk Besar, Bangka Tengah, Bangka Belitung, Rabu (19/11/2025). ANTARA/Ahmadi
Advertisement image

Apa Kata DLH Rembang?

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Rembang, Ika Himawan Afandi menyatakan sudah pernah mendengar keluhan warga di Kecamatan Sedan, terkait dugaan limbah pencucian pasir kuarsa yang dibuang ke sungai.

Karena saat ini masih sering hujan, sehingga ada kemungkinan memicu sungai keruh akibat derasnya arus.

Nanti kalau intensitas curah hujan sudah agak reda, pihak DLH berencana akan melakukan pengawasan di lokasi tersebut.

“Pernah mau kita tindaklanjuti, tapi ketika itu masih sering hujan, jadi kebawa arus. Nanti kalau sudah agak reda hujannya, akan kita adakan pengawasan ke sana, supaya pantauan lebih efektif,” kata Ika Himawan.

Sementara itu, Kabupaten Rembang memiliki potensi dan kegiatan penambangan pasir kuarsa, terutama di wilayah seperti Kecamatan Sedan (Desa Kumbo, Sambiroto, Karas) dan Kragan (Desa Sendangwaru).

Seorang pekerja tambang beristirahat sambil mengawasi ekskavator yang beroperasi di area galian pasir.
Lokasi yang diduga sebagai tambang pasir kuarsa di Desa Kumbo, Kecamatan Sedan, Rembang, Jawa Tengah. Foto: KBR/Musyafa
Advertisement image

Apa itu Pasir Kuarsa?

Pasir kuarsa merupakan pasir yang terbentuk secara alami, dari pengikisan batu-batuan. Pasir ini memiliki warna seperti semen, tapi lebih putih dan bersifat tidak melekat.

Pasir kuarsa mempunyai banyak fungsi di bidang industri ban, karet, semen, beton, keramik, tekstil, kertas, kosmetik, elektronik, cat, pasta gigi, industri genteng, metal dan logam.

Pasir kuarsa juga bagian penting dari proses produksi microchip. Setelah melalui beberapa proses pencampuran, silikon mengisi mata rantai utama di industri elektronik untuk bahan baku transistor (silicon transistor).

Transistor adalah semikonduktor yang menjadi komponen vital microchip elektronik dan panel surya. Sebagaimana diketahui, microchip digunakan pada industri mobil, telepon pintar (smartphone) dan laptop.

Baca juga:

Ketika KPK Tak Lagi Pajang Tersangka Korupsi

- Parpol hingga Polri Kelola Dapur MBG, Siapa Bisa Kontrol?

pasir kuarsa
rembang
pencemaran sungai


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Loading...