NASIONAL

Luhut Targetkan Hilirisasi Rumput Laut Capai Rp304 Triliun di 2030

"Program ini diharapkan dapat menyerap tenaga kerja sampai 1 juta orang."

AUTHOR / Astri Yuanasari

EDITOR / Wahyu Setiawan

Luhut Targetkan Hilirisasi Rumput Laut Capai Rp304 Triliun di 2030
Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan saat sesi ke-14 World Water Forum ke-10 2024 di BICC, Nusa Dua, Bali, Selasa (21/5/2024). ANTARA FOTO/Media Center WWF

KBR, Jakarta - Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menargetkan hilirisasi rumput laut bisa menghasilkan USD19 miliar atau sekitar Rp304 triliun di tahun 2030. Hal ini disampaikan Luhut di sela-sela acara International Center for Tropical Seaweeds, di Bali, Rabu (22/5/2024).

Luhut mengeklaim pemerintah serius memperbesar nilai ekonomi komoditas rumput laut melalui hilirisasi. Dia menargetkan luas lokasi budidaya mencapai 1,2 juta hektare hingga tahun 2030.

"Jadi kami mau coba mulai dengan digestible plastic, makanan, kemudian juga untuk pupuk, bio stimulan, organic fertilizer. Semua sudah ada pabriknya, nanti kami buat, nanti kalau jalan semua bagus, kami skill up, kami perbesar," kata Luhut dalam acara International Center for Tropical Seaweeds, di Bali, Rabu (22/5/2024).

Luhut mengatakan, salah satu lokasi proyek awal untuk pengembangan komoditas rumput laut tahun ini adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Area lahan pengembangan seluas 600 ribu hektare.

Program ini diharapkan dapat menyerap tenaga kerja sampai 1 juta orang.

Kemenko Marves bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan Kementerian PPN/Bappenas telah meluncurkan International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) atau Pusat Penelitian Rumput Laut Tropis Internasional di Badung, Bali.

Baca juga:

Editor: Wahyu S.

  • hilirisasi
  • luhut
  • rumput laut

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!