NASIONAL

Langkah Mitigasi Kecelakaan Transportasi saat Nataru

"Secara umum, pemerintah mengklaim infrastruktur jelang Nataru telah siap."

AUTHOR / Muthia Kusuma Wardani

Nataru
Petugas memantau CCTV angkutan Natal dan Tahun Baru (nataru) di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (20/12/2022). (Foto: ANTARA/Fauzan)

KBR, Jakarta - Kementerian Perhubungan memperkirakan ada 44 juta pelaku perjalanan pada periode Natal 2022 dan Tahun Baru 2023. Jumlah itu setara 16 persen total penduduk di Indonesia.

Sekitar 45 persen pelaku perjalanan menggunakan mobil dan sepeda motor pribadi sebagai moda transportasi. Lalu 13 persen memilih bepergian dengan kereta api.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan pelaku perjalanan mayoritas berasal dari Jabodetabek, yakni sebanyak lebih dari tujuh juta. 

Daerah tujuan pelaku perjalanan yaitu Yogyakarta, Bandung Jawa Barat hingga Malang, Jawa Timur.

“Dari survei ada 16 persen yang ingin mudik atau 44 juta. Dari jumlah ini tentu sangat banyak dan mobil pribadi dan motor itu yang terbanyak. Untuk motor saya mohon kepada semua stakeholder, khususnya Polri untuk memperhatikan melakukan suatu imbauan agar tidak mudik dengan motor karena relatif kurang aman," ucap Budi dalam siaran pers, Senin, (19/12/2022).

Baca juga:

Keselamatan moda transportasi

Untuk memantau sekaligus mengendalikan transportasi selama Nataru, para pemangku kepentingan mendirikan pos komando (posko) angkutan Nataru mulai 19 Desember 2022 hingga 3 Januari 2023.

Pemerintah juga melakukan inspeksi keselamatan pada moda transportasi darat, laut dan udara. Meski begitu, pelaku perjalanan diimbau untuk beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum, demi keamanan.

Secara umum, pemerintah mengklaim infrastruktur jelang Nataru telah siap. 

Staf Ahli Bidang Logistik dan Multimoda Kementerian Perhubungan, Robby Kurniawan menyebut koordinasi juga dilakukan dengan seluruh pemangku kepentingan, untuk memfasilitasi pelaku perjalanan.

“Yang memang lebih besar tahun ini adalah terkait pergerakan dengan mobil pribadi dan juga sepeda motor. Nah, ini kita memang ada beberapa mungkin potensi-potensi kerawanan yang perlu kita antisipasi antara lain kemacetan di Jalan Tol, maupun jalan non-tol dan ada beberapa di simpul-simpul transportasi yang mungkin akan terjadi penumpukan, seperti di penyeberangan Merak-Bakauheni kemudian di tempat-tempat wisata, kemudian di Danau Toba dan kemudian sebagian besar adalah untuk mobilitas di wilayah timur Indonesia,” ucap Robby Senin, (19/12/2022).

Baca juga:

Angkutan penerbangan

Kesiapan untuk mengantisipasi peningkatan jumlah perjalanan juga disampaikan penyelenggara navigasi penerbangan, AirNav Indonesia.

Direktur Utama AirNav Indonesia Polana B Pramesti mengatakan antisipasi peningkatan trafik Nataru itu antara lain dilakukan dengan membuka posko di 52 lokasi kantor cabang dan kantor pusat.

Sementara itu, PT Kereta Api Indonesia menggandeng Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk menginspeksi kelengkapan standar pelayanan minimum mulai dari Daop 1 hingga 9. 

Dirut PT KAI, Didiek Hartantyo mengatakan KAI juga mempersiapkan posko terpadu untuk angkutan Nataru selama 18 hari.

Senada dengan AirNav dan PT KAI, perusahaan pelat merah PT Jasa Marga juga melakukan antisipasi menghadapi lonjakan mobilitas Nataru. 

Direktur Utama Jasa Marga, Subakti Syukur mengatakan, bakal memberlakukan skenario rekayasa lalu lintas, tanpa pemberlakuan one way atau satu arah untuk memulihkan ekonomi di rest area tol.

Jelang Natal dan Tahun Baru 2023, Polri menyiapkan Operasi Lilin untuk mengamankan kelancaran lalu lintas dan memaksimalkan kenyamanan dalam ibadah Natal dan tahun baru. 

Operasi lilin akan digelar selama 11 hari, yakni mulai Kamis, 22 Desember sampai 2 Januari 2023.

Kakorlantas Polri Irjen Firman Shantyabudi mengatakan para personel akan disiagakan di 27 ribu titik yang berpotensi terjadi kerawanan, termasuk jalur tol, arteri maupun lokasi wisata

“Ada beberapa pekerjaan fisik yang masih dilakukan di Pantura maupun di jalan tol. Ada masih ditemukan juga jalan yang memang sebetulnya belum seluruhnya selesai dilakukan pekerjaan-pekerjaan ini selesai, artinya masih ada penerangan yang belum ada. Masih ada sebagian mungkin masih perbedaan tanah dan sebagainya, juga ada beberapa titik yang memiliki potensi kerawanan, exit dari jalan tol yang ada ini langsung menuju ke wilayah kabupaten, itu artinya ada potensi,” ucap Firman.

Baca juga:

Operasi Lilin

Pada operasi lilin 2021, tren angka kecelakaan meningkat hingga 830-an kasus, dibanding tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 590 kejadian.

Merespons kerawanan kecelakaan lalu lintas, Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno menilai ada dua faktor yang meningkatkan potensi kecelakaan saat Nataru, yakni mobilitas tinggi kendaraan ke destinasi wisata dan intensitas hujan yang cukup tinggi pada Desember.

“Kondisi cuaca seperti ini agar memperhatikan lebih adalah untuk angkutan perairan terutama di Indonesia bagian timur. Karena pada saat acara ini pergerakan meningkat di sekitar tujuh Provinsi Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua untuk angkutan darat ini masih dominan menggunakan jalan tol. Angkutan umumnya yang favorit masih di kereta api, peningkatan sampai 200%” Ucap Djoko kepada KBR, Selasa, (20/12/2022).

Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno menambahkan, penyebab kecelakaan lalu lintas didominasi faktor perilaku tidak tertib, kemudian lengah dan melewati batas kecepatan.

Selain itu, kondisi jalan yang padat dan cenderung macet juga akan melelahkan fisik serta mental pengendara. Sepanjang 2019 hingga 2022, kecelakaan di tol Cipali didominasi oleh mobil pribadi dengan menewaskan 100 orang.

Ia mendorong seluruh moda transportasi melakukan inspeksi keselamatan, terlebih saat ini sedang memasuki musim hujan.

Editor: Agus Luqman

  • keselamatan lalu lintas
  • transportasi
  • Natal 2022 dan Tahun Baru 2023
  • Nataru
  • kereta api

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!