NASIONAL

Jeli Saring Toxic Positivity

"Toxic positivity merujuk pada keadaan yang membuat orang mengesampingkan emosi negatif dan hanya merasakan emosi positif saja."

AUTHOR / Tim Disko

Diskusi Psikologi (Disko)
Diskusi Psikologi (Disko)

KBR, Jakarta- Senang, sedih, marah, takut, jijik hingga terkejut adalah emosi yang wajar bagi seorang manusia. Emosi ini ada bukan tanpa fungsi. Melainkan ada peran penting yang dibawa berbagai emosi ini pada kehidupan seseorang.

Tapi terkadang, ada sebagian orang yang mengesampingkan emosi negatif, seperti kesedihan. Nah ini bisa jadi toxic positivity. Di mana toxic positivity merujuk pada keadaan yang membuat orang mengesampingkan emosi negatif dan hanya merasakan emosi positif saja.

Itu berarti, rasa sedih, kecewa ataupun marah dengan sengaja diabaikan dan ditutupi dengan pemikiran dan sikap positif.

Lalu apakah berfikir positif itu buruk?

Dosen tetap Prodi Psikologi sekaligus Kepala Jaya Softskills Development Program (JSDP) Universitas Pembangunan Jaya Veronnica Anastasia Melany Kaihatu, S.Psi., M.Si mengatakan, memandang segala hal positif bisa menjadi jebakan pada kesehatan mental seseorang. Apalagi kalau kamu sudah terlalu obsesi untuk melihat segala hal dengan positif dan menampik pemikiran negatif.

"Kalau misalnya kemudian tadi ada istilah berfikir positif, itu beda dengan si toxic positivity. Jadi gak perlu khawatir, bahwa berfikir positif itu jelek. Engga kok, tapi toxic positivity itu berbahaya dan bisa merusak," ujar Veronnica.

Baca juga:

Tawa Terpaksa Tuk Tutupi Tangis

Tren Promosi Wisata Hidden Gem di Media Sosial

Cek Fakta: Narasi soal Ribuan WNA China Diberi KTP buat Pemilu 2024. Benarkah?

Veronnica menambahkan, seseorang dengan toxic positivity, memaksakan emosi-emosi negatif seperti marah dan sedih hilang. Mereka juga memaksa hanya merasakan emosi positif seperti bahagia.

Ia menyebut, orang-orang dengan toxic positivity cenderung memiliki prinsip, "kalau kamu berfikiran positif semuanya akan beres." Inilah yang berbahaya bagi seseorang.

Berdasarkan laman SehatQ dari Kementerian Kesehatan. Berikut ciri-ciri toxic positivity:

- Tidak mengekspresikan emosi yang sebenarnya dirasakan

Seorang dengan toxic positivity tidak mengakui perasaan yang sesungguhnya. Misalnya Anda mengalami kesedihan dan kekecewaan, tapi dia justru menekan dan menutupi emosi tersebut dengan rasa senang.

- Hanya ingin menikmati emosi positif

Anda tidak mau merasakan rasa sakit atau emosi-emosi yang buruk. Orang dengan toxic positivity cenderung tidak mempedulikan dan menyepelekan emosi negatif.

Bahkan, cenderung tidak berempati terhadap apa yang dialami oleh orang lain dan menyuruh orang tersebut untuk tetap bersikap positif.

- Penggunaan kata ‘semuanya’ atau ‘tidak sama sekali’

Pemikiran ‘semuanya atau tidak sama sekali’ sangat sering dilontarkan oleh orang-orang yang terjebak dalam pemikiran toxic positivity. Anda mungkin menggunakan kalimat ‘semuanya pasti ada hikmahnya’ atau ‘semuanya akan baik-baik saja’

- Menyederhanakan segala emosi negatif

Berbagai emosi dan keadaan yang melanda seseorang tidak selalu sederhana atau sepele. Terkadang emosi itu tidak bisa diabaikan begitu saja.

Namun ketika Anda cenderung menyepelekan sebuah perasaan emosi, bisa jadi itu toxic positivity. Orang dengan gangguan mental ni akan berfikiran: ‘nanti akan jadi lebih baik’ atau ‘fokus ke hal positif’.

- Merasa bersalah

Meski mengabaikan dan menyepelekan emosi tersebut. Orang dengan toxic positivity bisa merasa bersalah. Kenapa? Karena mereka menyadari, apa yang mereka lakukan tidak tepat. Tapi perilaku itu tetap dilakukan, karena mereka percaya itu adalah hal yang benar.

Nah mau tau lebih lanjut soal toxic positivity? Atau mau tau gimana cara memberikan saran, tapi enggak toxic positivity? Yuk dengarkan podcast Diskusi Psikologi (Disko) di link berikut ini:

  • Toxic Positivity
  • Selalu berfikir positif gak melulu baik
  • Lebih kritis
  • Jaring Toxic Positivity

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!