NASIONAL

BMKG Warning Krisis Air, Kita Bisa Apa?

"Ancaman kekeringan mengintai, dibahas di podcast What's Trending"

AUTHOR / Lea Citra

Podcast What's Trending
Podcast What's Trending

KBR, Jakarta- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan seluruh masyarakat dan pemegang kepentingan akan bahaya dari krisis air. Yang katanya, mampu membuat negara-negara maju dan berkembang sama-sama menderita.

"Krisis air terjadi hampir di seluruh belahan dunia dan menjadi krisis global yang harus diantisipasi setiap negara. Tidak peduli itu negara maju atau berkembang. Karenanya, isu ini harus menjadi perhatian bersama seluruh negara tanpa terkecuali. Tidak ada perbedaan antara negara maju dan negara berkembang. Keduanya sama-sama menderita akibat kekeringan dan banjir. Jadi, sekali lagi kekeringan dan banjir adalah dampak yang sama akibat dari dari kencangnya laju perubahan iklim yang diperparah dengan kerusakan lingkungan," ungkap Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam The 10th World Water Forum Kick Off Meeting, 15 Februari 2023.

Baca juga:

- Cek Fakta: Hoaks soal PeduliLindungi yang Mendeteksi Infeksi Cordyceps Fungus

Menciptakan Pembangunan Rendah Karbon dengan Green Recovery Initiative

Awal Tahun, Lebih 80 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual di Sekolah


Dwikorita yang juga anggota Dewan Eksekutif World Meteorological Organization (WMO) menyebut ancaman krisis air akibat perubahan iklim terlihat sangat jelas. Terus meningkatnya emisi gas rumah kaca pun berdampak pada meningkatnya laju kenaikan temperatur udara, mengakibatkan proses pemanasan global terus berlanjut, dan berdampak pada fenomena perubahan iklim.

"Krisis air dan berbagai kejadian ekstrem tersebut dapat berdampak terjadinya krisis pangan di berbagai belahan dunia, sebagaimana yang telah diprediksi oleh WMO. Situasi Bumi saat ini menjadi alarm serius bagi kita semua. Kita perlu bekerja sama, berpikir bersama, dan memecahkan masalah bersama," sambungnya.

Fenomena ini, kata dia, akan terus berlanjut apabila laju peningkatan emisi Gas Rumah Kaca tidak dikendalikan atau ditahan, dan menyebabkan semakin cepatnya proses penguapan air permukaan. Sehingga itu akan mengakibatkan ketersediaan air semakin cepat berkurang di suatu lokasi belahan bumi, namun sebaliknya terjadi hujan yang berlebihan (ekstrem) di lokasi atau belahan bumi yang lain.

Apa yang bisa kita lakukan?

Berdasarkan laman Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, faktor terbesar penyebab krisis air adalah perubahan iklim. Heru Santoso dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan, alih fungsi lahan dari area resapan menjadi pemukiman dan daerah industri mengancam sumber air di Jawa.

“Ada perubahan siklus air yang membuat lebih banyak air yang menguap ke udara karena peningkatan temperatur akibat perubahan iklim. Air yang seharusnya diserap masuk ke tanah dan bertahan lama di darat menjadi air limpasan yang langsung masuk ke saluran air ke sungai dan laut karena tanah menjadi lapisan kedap air akibat perubahan fungsi lahan," ungkap Heru.

Heru menekankan pentingnya membudayakan penghemataan air. Selain itu, ia juga memandang perlunya pemanfaatan air marginal seperti air payau.

“Air marginal sebetulnya bisa dimanfaatkan kalau ada teknologi yang murah. Saat ini belum ada teknologi di Indonesia yang mampu memenuhi untuk kebutuhan dalam jumlah besar. Sementara di negara-negara Timur Tengah air laut sudah bisa disuling untuk air bersih," pungkasnya.

Lebih lanjut soal krisis air dan bagaimana kita sebagai masyarakat bisa berkontribusi mengatasi persoalan ini. Yuk dengarkan podcast What's Trending di link berikut ini:

  • Krisis air
  • Kekeringan
  • Perubahan Iklim
  • Mengatasi krisis air
  • global warning

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!