BERITA

Alexander Aan: Ada Diskriminasi, Terlalu Bodoh Kalau Diam Saja

"Namanya Alexander Aan. Ia yang tahun 2012 lalu mengaku ateis dipenjarakan dua tahun enam bulan pada tahun 2012 karena mengunggah komentar dan gambar di halaman Facebook yang dinilai menghina Islam. "

AUTHOR / Anto Sidharta

Alexander Aan. Foto: Evelin Falanta
Alexander Aan. Foto: Evelin Falanta

KBR, Jakarta – Namanya Alexander Aan. Ia yang tahun 2012 lalu mengaku ateis   dipenjarakan dua tahun enam bulan pada tahun 2012 karena mengunggah komentar dan gambar di halaman Facebook yang dinilai menghina Islam. Selain ramai diperbicangkan publik di dalam negeri, kasus ini juga membuat Amnesty International menetapkannya sebagai prisoner of conscience (tahanan akibat keyakinan).

“Sekarang saya mengajar di sekolah swasta,” ujar Aan ketika diwawancara Evelin Falanta  untuk Program SAGA KBR, beberapa waktu lalu.

Berikut petikan wawancara selengkapnya dengan Alexander Aan:

Apa kegiatan Anda setelah keluar dari penjara?


Sekarang saya mengajar di sekolah swasta.

Mengajar apa?


Matematika.

Di sekolah mana?


Sekolah swasta Jakarta.

Saat berhadapan dalam proses hukum karena menulis status “atheis” di Facebook bagaimana saat itu sikap keluarga?


Keluarga saya sebenarnya tidak begitu paham dengan masalah karena simpang siur. Ya misalnya orang tua juga Facebook tidak tahu jadi mereka sebenarnya bingung masalahnya apa dan sikap mereka ya seperti keluarga mereka tidak menganggap saya salah atau apa. Akhirnya lama-lama mungkin ada orang kasih penjelasan ya akhirnya keluarga saya minta kembali seperti semula. Saya bisa mengatur itulah win-win solution, tidak begitu membuat keluarga saya terkejut tapi juga tidak membuat saya harus tidak mengikuti apa yang tidak saya inginkan.

Saat itu bagaimana dukungan dari berbagai pihak? kabarnya Anda mendapat dukungan juga dari grup internasional di Facebook ya?


Iya memang banyak dukungan saat itu. Saya pikir disini yang terjadi bukan masalah orang mendukung saya atau tidak. Menurut saya disini yang terjadi adalah mungkin kalau diistilahkan seperti lebih baik bicara bahasa Inggris agar tidak naif mengartikannya, ini saya pikir lebih semacam battle of idea, saya semacam mediasinya saja.

Saya bukan tidak sadar dengan pilihan saya, saya sadar dengan pilihan saya tapi saya tidak menyangka ini akan jadi ke kriminal. Saya orang yang science minded, terutama entahlah saya kurang tahu social science seperti apa karena saya tidak mendalami. Tapi di dalam orang yang science minded terutama seperti natural science yang sangat excited dengan science seperti itu yang harus mengatakan yang benar itu benar dan fakta itu lebih prioritas dalam mencari referensi atau mengacu.

Dari awal saya cuma menganggap seperti itu ya mungkin kalau itu benar kenapa tidak dikatakan, tidak harus seperti itu kenapa harus dipolitisasi. Ya saya pikir lebih ke science minded, misalnya Anda belajar atau mengajar Anda harus mengajarkan sesuai fakta, Anda harus meneliti sesuai dengan apa yang Anda teliti. Dukungan internasional saya pikir lebih ke battle of idea, bukan berarti saya dalam posisi dimanfaatkan. Ini memang pantas diperjuangkan kebebasan berekspresi, mengatakan yang benar itu benar, melawan kesewenangan, melawan hegemoni oleh suatu pihak, monopoli kebenaran oleh semua pihak. Kebetulan saya jadi mediasi saja saya berada pada saat yang memang ide itu sedang dalam kondisi kritis di Indonesia.

Sekarang setelah keluar dari penjara apakah Anda tetap membicarakan soal atheisme?


Intinya bukan seperti itu. Intinya kita melihat sumber dari masalah hingga melihat masalah. Kenapa orang melakukan suatu tindakan, mengapa orang mengatakan sesuatu , sumber masalahnya apa. Karena disitu orang mungkin merasa tertekan atau itu dalam bentuk perjuangan dia untuk menjaga identitasnya dan mungkin ada ketidakadilan disana jadi orang berbicara keras kan bisa seperti itu.

Misalnya suatu keyakinan didiskriminasi, mungkin dia protes mengucapkan kata-kata yang tidak menyenangkan orang yang melakukan diskriminasi bisa saja. Jadi intinya apabila semua itu sudah adil, semua orang diperlakukan adil proporsional, orang dianggap sama di mata hukum, haknya dihargai semua orang tanpa membeda-bedakan menurut saya kasus saya mungkin tidak akan terjadi. Saya melihat ada diskriminasi jadi ada orang yang bisa melakukan sesuatu dengan seenaknya dan ada orang yang tidak bisa malah didiskriminasi, disitu kan terlalu bodoh orang kalau cuma diam saja tapi terlalu naif juga kalau sampai harus masuk penjara seperti saya.

Apa artinya Anda akan tetap dengan menyuarakan?


Mungkin lebih general. Jadi fokusnya bukan di kasus saya mungkin lebih general saja memperjuangkan keadilan dimana orang setara semuanya. Saya pikir pemerintahan sekarang mudah-mudahan cukup akomodatif buat mendengar. Kalau kita ada perbedaan dan persamaan kenapa kita harus fokus pada perbedaannya, kenapa orang yang berbeda dengan kita harus didiskriminasi toh kalau kita sendiri tidak ingin didiskriminasi kenapa kita mendiskriminasi orang lain.

Menteri Agama Pak Lukman Hakim bilang kalau atheis itu bertentangan dengan Pancasila kita terutama pada sila pertama. Menurut Anda bagaimana?

Saya tidak begitu paham dengan dasar-dasar pendirian negara karena saya tidak belajar tentang itu. Cuma walaupun saya tidak belajar tentang itu setidaknya saya punya logika untuk menganalisa itu. Tujuan dari sebuah peraturan adalah bagaimana orang tidak berbuat kerusakan baik ke orang lain maupun ke diri sendiri, apakah orang menjadi ateis itu merugikan orang lain atau apakah dia merugikan diri sendiri. Itu tujuan utama dari peraturan. Logika saya mengatakan tujuan utama dari peraturan adalah bagaimana orang untuk mengatur agar tidak merugikan orang lain dan dirinya sendiri.

Pertanyaannya apakah orang dengan menjadi atheis merugikan diri sendiri, kalau dikatakan merugikan diri sendiri apa argumennya dan mengapa argumen itu harus diikuti, kalau merugikan orang lain apa argumennya dan kenapa argumennya harus diikuti itu saja siimpel. Kalau orang menjadi atheis tidak merugikan orang lain dan diri sendiri apa masalahnya. Saya tidak tahu kalau ada politisasi ya kita sama-sama tahu bukan tujuan agama, agama berfungsi untuk mengkonsolidasi orang bisa saja seperti itu. Jadi orang yang dalam satu identitas akan mudah dimobilisasi, mudah dikonsolidasi untuk mencapai tujuan tertentu. Tapi sekarang itu terlalu merendahkan manusia kalau manusia hanya diposisikan sebagai orang untuk dikonsolidasi, diatur sesuatu yang subjektif yang belum tentu benar juga. Ya berikan orang kebebasan menjadi diri sendiri, tidak merugikan orang lain, mendorong orang untuk produktif.

Saat ini publik sedang ramai membicarakan kolom agama di KTP. Apa yang tertulis di KTP Anda?


KTP saya dibuat tahun 2010 ya di situ masih Islam. Bagi saya simbol itu tidak terlalu penting, percuma juga seandainya saya bikin atheis di situ kalau saya Islam juga pada tidak tahu. Sebenarnya dari situ orang tidak perlu memperpanjang masalah itu. Oke ada orang mengaku agama A dengan meyakini A apakah orang tahu kan tidak, jadi apa gunanya itu tidak berguna.

Jika kolom agama dikosongkan apakah Anda setuju?


Setuju karena itu tidak terukur. Seorang mengaku agama A apa benar dia meyakini A dan apa perlu orang tahu agamanya.

Jadi tidak ada pengaruhnya?


Tidak ada pengaruh apa gunanya.

Apa rencana Anda ke depan setelah keluar dari penjara?


Dari dulu rencana saya saya ingin jadi orang berguna sama orang lain itu saja dan saya tidak peduli apa anggapan orang kepada saya dengan pernyataan saya absurd katanya. Saya pikir dengan menjadi orang berguna akan mengarahkan saya untuk melakukan suatu hal yang baik kenapa tidak, terserah mau bilang absurd atau tidak. Ya saya akan melakukan dengan cara saya, saya dengan jadi guru matematika mungkin saya bisa membantu orang dari segi matematiknya, saya bisa membuat orang lebih paham matematik, membuat orang menyukai matematik, lebih baik dalam mengerti matematik, dan dari penghasilan yang saya dapat bisa membantu anak yatim ya apa pun agamanya.

Saya tidak peduli kalau saya bantu orang mau Islam atau apa kalau saya punya penghasilan kalau saya bisa bantu ya kenapa tidak. Kalau misi pribadi saya ingin jadi ilmuwan yang memang saklek, tidak cuma kamu sudah jadi guru berarti tidak ilmuwan. Saya ingin jadi ilmuwan yang benar-benar bisa memiliki fasilitas untuk bisa melakukan inovasi, penemuan baru. Tapi tujuan hidup saya tidak akan berubah sampai kapan pun saya ingin berguna buat orang lain.

Pasca kasus yang Anda alami ini seperti memangkas hak asasi Anda ya?


Saya salah satunya. Di sini ada 39 kasus yang mirip saya.

Apa Anda tetap dengan kepercayaan Anda menganut Islam atau dengan pendirian anda sebagai seorang atheis?


Saya tidak tahu juga tujuan dari pertanyaan itu sebenarnya banyak orang bertanya itu dari dulu. Cuma seperti saya katakan tadi buat apa menanyakan agama orang, apa gunanya buat kita dan orang lain. Kenapa kita sangat suka melakukan hal yang tidak berguna, kenapa kita merasa senang jika ada orang yang seagama dengan kita. Kenapa kita tidak fokus dengan apa yang dilakukan orang itu, apakah tidak lebih baik orang yang berbeda keyakinan dengan kita tapi dia berbuat dan berguna buat orang lain daripada orang yang sama dengan keyakinan kita tapi di luar ekspektasi. Ini tidak relevan pertanyaan itu sekarang, tidak sesuai dengan sains, dengan etika juga tidak. Karena orang merasa di situ jadi merasa diterima orang itu harus tidak menjadi dirinya sendiri. Ya misalnya biar bisa diterima oleh mayoritas jadi kita pura-pura di mayoritas saya pikir bukan saatnya lagi kita berpikiran seperti itu.

Setelah keluar dari penjara bagaimana perlakuan masyarakat di sekitar Anda?


Saya bukan orang yang betul-betul matang ya. Saya tahu orang-orang tidak sepenuhnya benci sama saya, cuma karena memang secara emosi saya belum matang jadi ada semacam curiga dan tidak nyaman. Tapi intinya okelah itu keadaan saya merasa ada orang yang akan membicarakan saya, ada orang yang akan mempermasalahkan saya lagi. Tapi intinya saya siap bekerja sama dengan masyarakat umum dalam segala bidang untuk kebaikan walaupun secara emosional saya belum stabil. Tapi saya tidak marah, tidak dendam, itu jauh dari saya cuma saya orangnya kalau di hadapkan masalah saya curiga-curiga sama orang.   

 

  • Alexander Aan
  • Diskriminasi
  • ateis
  • Toleransi
  • petatoleransi_06DKI Jakarta_merah

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

  • Awe8 years ago

    Apa saya bisa dapat nomer telp alex atau alamat sosmed nya ?

  • Awe8 years ago

    Apa boleh saya minta nomer telp alex ?

  • Aidil Rizali6 years ago

    You're a hero!

  • Darjikasmirawadi3 years ago

    Apa boleh sya minta nope atau contact alex. Sy atheis juga. Sepemahaman dengan beliau.