saga
Studio Dapur, Upaya Mendongkrak Derajat Anyaman Bambu

Studio Dapur berusaha mengangkat derajat anyaman bambu itu ke level lebih tinggi, bahkan di jual ke luar negeri

Penulis: Agus Lukman

Editor:

Google News
Studio Dapur, Upaya Mendongkrak Derajat Anyaman Bambu
Produk anyaman bambu produksi Studio Dapur, Tasikmalaya, Jawa Barat. (foto: Taufik/KBR)

Selama bertahun-tahun kerajinan anyaman bambu di Tasikmalaya, Jawa Barat tak berubah, begitu-begitu saja. Nilai jualnya pun rendah. Alain Bunjamin dari Studio Dapur berusaha mengangkat derajat anyaman bambu itu ke level lebih tinggi, bahkan di jual ke luar negeri. Jurnalis KBR Agus Luqman menemui anak muda dan para perajin yang dibinanya di Tasikmalaya Jawa Barat.

  

KBR, Tasikmalaya- Kami mendaki salah satu bukit kecil di Desa Mandalagiri, Kecamatan Leuwisari, Tasikmalaya. Ditemani warga lokal setengah baya bernama Toto, menyisir puluhan anak tangga batu berkelok-kelok. Di atas bukit setinggi 20-an meter itu terdapat rimbunan tanaman bambu tumbuh subur. Batangnya menjulur ke berbagai arah, rata-rata sepanjang 10 hingga 12 meter.

“Ini bambu tali semua. Bambu itu ada yang lingkaran diameternya 10 cm. Kalau ini bambu bombong, untuk anyaman tidak bisa... Kalau yang itu udah bisa ditebang,” kata Toto menjelaskan.

Kebun bambu itu milik warga. Biasanya dijual untuk bahan baku kerajinan bambu. Di Tasikmalaya, banyak warga yang berprofesi sebagai perajin. Toto sudah puluhan tahun jadi perajin bambu.

Tangannya cekatan membuat besek untuk hajatan, bakul nasi, tampah, sampai keranjang.

“Ini bambu sudah siap pakai. Yang usia 8 bulan. Kalau terlalu tua kurang bagus, ujarnya.

 

Sayangnya, kerajinan bambu di Tasikmalaya berkembang lambat. Padahal bambu di daerah ini melimpah. Alain Bunjamin melihat potensi ini. Ia dan dua temannya mendirikan Studio Dapur sejak 2016 untuk memberdayakan perajin serta meningkatkan kualitas kerajinan bambu Tasikmalaya.

Alain percaya, bambu adalah material ramah lingkungan yang punya banyak potensi.

“Sebagai desainer saya sedih melihat kualitas produknya, mulai kualitas bahan sampai kualitas desainnya, bentuknya. Itu stagnan, puluhan tahun tidak berkembang. Bentuk yang sama, sampai di foto zaman Belanda itu dulu juga ada bentuk yang sama. Kok tidak berkembang, membosankan banget,” kata Alain.  

Kalau Pak Toto ini tidak dibantu berkembang, skill-nya akan punah. Kita harus memastikan kemampuan ini bisa diteruskan untuk generasi yang lebih muda

<tr>

	<td><b>Reporter</b></td>


	<td><b>:</b></td>


	<td><b>Agus Lukman<br>
</tr>


<tr>

	<td><b>Editor</b></td>


	<td><b>:</b></td>


	<td><b>Friska Kalia&nbsp;<span id="pastemarkerend">&nbsp;</span></b></td>

</tr>

       

 

SAGA
Ayaman Bambu
Anak Muda
Sampah plastik
Go Green

Berita Terkait


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Loading...