Menkes Budi Gunadi mengatakan perbedaan superflu dengan Covid yang baru adalah kenalnya daya tahan tubuh manusia. Hal ini terbukti dengan tidak masifnya superflu di kalangan masyarakat.
Penulis: Ken Fitriani
Editor: Resky Novianto

KBR, Yogyakarta- Kasus influenza A subclade K atau dikenal sebagai Superflu ditemukan di Indonesia, dengan jumlah kasus terbanyak dilaporkan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
Menurut hasil pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) kasus Influenza A subclade K telah terdeteksi sejak Agustus 2025 dan per Desember 2025 telah terkumpul sebanyak 62 kasus. Jawa Timur sebagai provinsi dengan kasus terbanyak (23 kasus), disusul Kalimantan Selatan (18 kasus) dan Jawa Barat (10 kasus).
Dosen Mikrobiologi FK-KMK UGM, Tri Wibawa mengatakan virus Influenza A subclade K atau Superflu secara genetik memiliki perbedaan dengan virus yang sebelumnya bersirkulasi. Meski begitu, dapat dipastikan bahwa subclade K ini tetap memiliki kekerabatan yang dekat dengan virus flu musiman yang kerap dialami oleh banyak orang.
Para ahli virus menganggap bahwa saat ini belum ada tanda yang menunjukkan sesuatu yang tidak biasa dalam cara virus ini berevolusi, sebab virus tersebut selalu berubah dalam rangka revolusinya.
“Sejauh ini, tidak ada bukti dari studi laboratorium maupun studi populasi bahwa varian ini dapat menghindari kekebalan tubuh manusia yang terbentuk oleh infeksi influenza sebelumnya atau dari vaksin yang telah didapatkan," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima KBR, Jumat (9/1/2026).
Lebih lanjut, Tri menjelaskan bahwa varian Influenza A subclade K mengalami perubahan dari waktu ke waktu, berdasarkan dari sifat materi genetik (RNA) yang dibawanya. Dari perubahan genetik kecil yang terjadi tersebut, dapat menghasilkan virus-virus varian baru yang berkerabat dekat.
Menurut Tri dengan perubahan virus yang cepat dan muncul varian baru yang secara signifikan berbeda akan memengaruhi sistem kekebalan tubuh manusia.
“Ada potensi akan menyebabkan sistem kekebalan manusia menjadi tidak mampu untuk melawan, dan konsekuensi lainnya, seperti penularan yang lebih cepat,” terang Tri.
Bagi Tri, pencegahan dari penularan varian virus ini dengan cara menerapkan etika batuk yang baik, menggunakan masker bagi untuk orang yang sedang mengalami gejala flu, mencuci tangan secara periodik, beristirahat cukup, serta memastikan ruangan memiliki ventilasi yang cukup. Menurutnya vaksinasi tetap dilakukan untuk kelompok rentan.
“Vaksinasi tetap dianjurkan untuk kelompok rentan, seperti anak-anak, orang lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit kronis,” paparnya.

Superflu Bukan Virus Baru
Meskipun virus Influenza A subclade K tidak menunjukkan peningkatan keparahan, akan tetapi potensi dari virus ini akan mengakibatkan pandemi sehingga perlu diwaspadai.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, superflu ini sebenarnya influenza A yang sudah lama ada selama puluhan tahun dan telah dikenali oleh tubuh. Hal ini berbeda dengan Covid yang merupakan virus baru dan tidak dikenali oleh tubuh.
"Cuma ini (superflu) varian baru. Dulu kan teman-teman ingat kan, COVID mulainya Alpha, Beta, ada Delta yang mematikan terus ke Omicron. Ini (superflu) varian K, subclade K dari H3N2, karena dia lama," katanya saat ditemui di RS Sardjito Yogyakarta, Kamis (8/1/2026).
Budi mengungkapkan, perbedaan superflu dengan Covid yang baru adalah kenalnya daya tahan tubuh manusia. Hal ini terbukti dengan tidak masifnya superflu di kalangan masyarakat seperti saat masuknya Covid beberapa waktu lalu.
"Terbukti kita sekarang nggak apa-apa, ya harusnya ini pun nggak ada masalah asal kondisi badan kita sehat dan baik, makan cukup, tidur cukup, dan olahraga yang cukup," jelasnya.
Budi menyarankan agar masyarakat saat ini lebih banyak menggali informasi terkait pencegahan superflu supaya tidak menular. Misalnya, menggunakan masker ketika kondisinya sedang tidak fit dan harus beraktivitas di luar ruangan.

Tingkat Keparahannya Rendah
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Agus Widyatmoko menambahkan, meskipun virus ini memiliki kemampuan penyebaran yang relatif cepat, tingkat keparahannya masih tergolong rendah sehingga dapat dikendalikan dengan disiplin kesehatan yang baik.
Ia menilai, karakter utama varian influenza ini terletak pada kemampuannya beradaptasi dan menghindari sistem imun tubuh, sehingga penularannya dapat terjadi lebih cepat dibandingkan influenza musiman pada umumnya.
“Kemampuan menyebarnya memang cepat, tetapi bukan tingkat keparahannya. Jadi masyarakat tidak perlu panik. Yang terpenting adalah memahami cara pencegahan dan mengenali tanda-tandanya,” ujar Agus ketika dihubungi Jumat (9/1/2026).
Menurutnya, mutasi virus merupakan mekanisme alamiah agar virus dapat bertahan hidup. Pada varian yang saat ini beredar, perubahan yang terjadi masih terbatas pada bagian permukaan virus, sehingga sistem imun tubuh memerlukan penyesuaian untuk mengenalinya kembali.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kondisi tersebut belum mengarah pada perubahan signifikan yang berpotensi memicu pandemi dengan tingkat kematian tinggi.

Gejala Superflu dan Antisipasinya
Agus turut mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai gejala Superflu yang umumnya muncul mendadak. Beberapa gejala yang sering dialami antara lain demam tinggi, nyeri kepala, nyeri otot yang intens, serta kelelahan ekstrem.
"Meski begitu sebagian besar kasus dapat pulih dengan baik apabila ditangani secara tepat dan tidak disertai faktor risiko tertentu," imbuhnya.
Dalam menghadapi situasi ini, upaya pencegahan tetap menjadi kunci utama. Vaksinasi influenza musiman dinilai masih efektif dalam menurunkan risiko sakit berat, meskipun terdapat sedikit penurunan perlindungan akibat mutasi virus.
Selain vaksinasi, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, etika batuk dan bersin, penggunaan masker saat sakit, serta kebiasaan mencuci tangan secara rutin merupakan langkah sederhana namun sangat krusial dalam mencegah penularan.
“Mitigasi bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi juga tanggung jawab bersama. Jika sedang sakit, gunakan masker dan kurangi kontak dengan orang lain. Langkah kecil ini memiliki dampak besar dalam menekan penyebaran penyakit,” jelas Agus.

Tingkat Fatalitas Superflu Tak Separah COVID-19
Terpisah, satu kasus superflu terdeteksi di DIY. Kasus tersebut ditemukan di wilayah Sleman pada seorang bayi berusia di bawah satu tahun yang sempat dirawat inap di rumah sakit rujukan.
Gejala yang muncul berupa demam dan gangguan pernapasan. Lonjakan kasus infeksi pernapasan pada anak memang sempat terjadi pada September–Oktober 2025 lalu. Namun pneumonia sendiri merupakan kondisi radang paru, bukan langsung menunjuk jenis virus tertentu.
"Pasti ada demam dan gejala pernapasan. Dengan kriteria tertentu dia akan diperiksa lab. Biasanya kasus ini terjadi sekitar September–Oktober. Banyak anak dirawat dengan diagnosis pneumonia," ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes DIY, Ari Kurniawati.
Kasus pertama di DIY ditemukan pada periode September-Oktober 2025 lalu. Namun, kini pasien telah dinyatakan sembuh dan dipulangkan. Keterlambatan informasi ke publik lebih disebabkan oleh proses pemeriksaan laboratorium yang membutuhkan waktu.
"Karena lab itu butuh waktu, jadi memang kita baru tahu sekarang. Tetapi secara klinis pasiennya sudah tertangani," jelas Ari.
Ia menjelaskan DIY memiliki sistem kewaspadaan dini dan respons untuk memantau penyakit pernapasan, termasuk superflu.
"Kita punya sistem kewaspadaan dini dan respon, di mana penyakit respiratory menjadi salah satu yang dipantau rutin melalui pelaporan harian. Ketika ada peningkatan, nanti muncul alert sehingga bisa segera direspons," ujarnya.
Selain itu Dinkes juga melakukan pemantauan melalui fasilitas kesehatan sentinel atau locus. Namun tidak semua kasus bisa langsung diketahui sampai ke jenis virusnya.
"Tidak semua penyakit bisa langsung dideteksi sampai ke jenis virusnya, sampai whole genome sequencing. Itu hanya di lab tertentu milik Kemenkes," jelasnya.
Terkait sumber penularan, Dinkes DIY belum melakukan penyelidikan epidemiologi secara rinci. Sebab kasusnya telah tertangani dan tidak menunjukkan keganasan. Apalagi pasien masih bayi dan tidak memiliki riwayat bepergian.
"Karena sistem kita kalau mau sampai detail riwayat penularannya perlu penyelidikan epidemiologi. Tetapi dugaan kita pasti tertular dari orang sekitarnya. Dia usia anak, balita, masih kurang dari satu tahun. Jadi tidak ke mana-mana," tandasnya.

Masyarakat Diimbau Tak Panik
Ia menegaskan masyarakat tidak perlu panik. Hal ini mengingat karakter kasus yang ditemukan relatif ringan.
Namun kewaspadaan tetap diperlukan, terutama dalam penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. Apalagi prinsipnya pencegahan sama seperti penyakit ISPA pada umumnya.
"Kementerian juga menyatakan kasus ini tidak berat, rata-rata tidak berat. Jadi tidak perlu panik. Kalau sakit pakai masker, cuci tangan pakai sabun, tingkatkan daya tahan tubuh," jelasnya.
Ari menyebut, selama periode libur Natal dan Tahun Baru, pemantauan juga tetap dilakukan. Namun dari laporan yang diterima, belum ada lonjakan khusus yang mengarah ke superflu sejauh ini.
"Pemantauan kita melalui dua sistem tadi tetap berjalan, termasuk saat Nataru. Setiap minggu ada analisa internal untuk kewaspadaan. Tetapi yang mengarah ke superflu sejauh ini belum ada laporan lagi," ungkapnya.
Dinkes, disebut Ari, masih menunggu kebijakan lanjutan dari Kementerian Kesehatan terkait penanganan superflu. Namun yang jelas kebijakan nasionalnya adalah penguatan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
"Kita menunggu surat edaran Kemenkes dan kewajiban fasilitas kesehatan melaporkan kasus melalui sistem kewaspadaan," pungkasnya.
Baca juga:
- Setengah Tahun Berjalan, Tata Kelola Kopdes Merah Putih Masih Bermasalah
- Superflu Tak Separah COVID-19, Ini Pentingnya Pencegahan dan Vaksinasi





