Bagikan:

Fenomena Cancel Culture di Media Sosial

Cancel culture dan seperti apa dampaknya pada kesehatan mental dibahas asyik di podcast Diskusi Psikologi!

NASIONAL

Kamis, 01 Des 2022 12:00 WIB

Author

Tim Disko

Podcast Diskusi Psikologi

Podcast Diskusi Psikologi

KBR, Jakarta- Mengikuti pemberitaan para artis terutama skandal, kehidupan pribadi dan gosip percintaannya mungkin menjadi keasikan tersendiri bagi sebagian orang. Segala tingkah selebriti memang sulit lepas dari sorotan masyarakat. Pujian akan diterima sang seleb jika berhasil menarik hati para penggemar, tapi sebaliknya jika menyakiti hati masyarakat, sang seleb pun bakal diganjar cancel culture.

Salah satu figur publik yang sempat disebut mengalami cancel culture ini adalah aktor asal Korea Selatan, Kim Seon Ho.  Aktor ini naik daun dan digilai para penggemar karena kesuksesan aktingnya di drakor Start-Up dan Hometown Cha-Cha-Cha. Namun kemudian, aktor ini sempat mengalami fenomena cancel culture yakni pembatalan keterlibatannya di beberapa program televisi akibat munculnya tuduhan pemaksaan aborsi dan gaslighting (kekerasan mental berupa manipulasi secara psikologis) mantan kekasihnya. Meski demikian, tuduhan tersebut belum dapat terbukti dan pihak Kim Seon Ho mengkonfirmasi bakal comeback dengan drakor terbaru. Hingga saat ini, kasus cancel culture dan rencana comeback Kim Seon Ho ini masih menuai pro kontra di kalangan penggemarnya.  

Apa sih cancel culture?

Berdasarkan laman Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), cancel culture adalah gagasan bahwa seseorang dapat “dibatalkan” atau “dienyahkan”. Biasanya cancel culture dialami oleh tokoh publik atau sosok terkenal seperti selebritis, YouTuber, dan politisi.

Cancel culture dilakukan secara kolektif dan atas dasar konsensus bersama untuk menyatakan bahwa seseorang layak untuk diabaikan karena melakukan sesuatu yang dianggap tidak pantas.

Baca juga:

Sadfishing demi Komen Netizen

Perlu Nggak Sih, Buzzer Diatur UU?

Cek Fakta: Video dan Narasi soal Malaysia Marah Ditolak Jokowi Menjadi Anggota G20?

Seiring dengan perkembangan teknologi internet, cancel culture marak dilakukan melalui media sosial. Salah satunya adalah Twitter yang memiliki kemampuan memobilisasi isu melalui fitur trending topic (topik yang sedang ramai dibicarakan). Dari sini, terlihat bahwa media sosial memiliki kekuatan besar dalam membuka portal dan membuat seseorang secara kolektif bertindak sebagai hakim ataupun juri bagi orang lain.

Meski bisa digunakan demi tujuan positif seperti meng-counter rasisme ataupun tindak kekerasan seksual, namun rupanya fenomena cancel culture juga memiliki potensi negatif yang perlu diwaspadai. Seperti dilansir doktersehat, sejumlah dampak negatif dari tindakan pemboikotan ini baik bagi korban, pelaku, maupun pembaca atau penikmat konten tersebut diantaranya:

1. Dampak negatif bagi korban. Korban yang mengalami cancel culture bisa merasa kesepian yang berkaitan dengan kesehatan mental.

2. Dampak negatif bagi pelaku. Tidak hanya pada korban, cancel culture juga bisa berdampak buruk terhadap kesehatan mental pelaku.

3. Dampak negatif bagi penikmat atau penonton persoalan cancle culture. Setelah melihat korban, orang-orang ini bisa diliputi oleh perasaan takut. Khawatir jika pelaku akan menyerangnya saat berpendapat.

Untuk mengetahui lebih lengkap soal cancel culture dan seperti apa dampaknya pada kesehatan mental kita, simak podcast Disko (Diskusi Psikologi) bersama Fariza Nur Shabrina, S.Psi., M.Psi., Psikolog sebagai Head of Content Wefanpsyou di link berikut ini:

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 7

Tergoda Perpanjangan Masa Jabatan Kepala Desa

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11

Most Popular / Trending