Bagikan:

Hari Antikorupsi Sedunia, Menkeu: Rusak Perekonomian dan Investasi

"Oleh karena itu kita melihat korupsi sebagai musuh bersama. Dari sisi makro kita melihat, angka-angka apabila korupsi merajalela, akan terjadi inequality dan poverty yang terus menerus "

BERITA | NASIONAL | INTERMEZZO

Rabu, 08 Des 2021 11:19 WIB

Author

Ranu Arasyki

Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Foto: Antara)

Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Menteri Keuangan Sri Mulyani mengimbau semua pihak untuk melihat korupsi sebagai musuh bersama karena memiliki daya rusak yang besar terhadap perekonomian negara. Selain itu,  melemahkan investasi dan menggerus fondasi masyarakat.

"Oleh karena itu kita melihat korupsi sebagai musuh bersama. Dari sisi makro kita melihat, angka-angka apabila korupsi merajalela, akan terjadi inequality dan poverty yang terus menerus. Kita lihat di seluruh dunia dan mudah mendapatkan bukti tersebut. Bagaimana negara yang tidak bisa mengatasi korupsi meski pun mereka memiliki natural resources maka banyak masyarakatnya yang kelaparan, tidak mendapatkan pendidikan, bahkan untuk mendapatkan air bersih," ujar  Sri Mulyani saat Peringatan Hari Antikorupsi sedunia melalui  daring, Rabu (8/12/2021).

Dia mengatakan, pada 2019 skor indeks persepsi korupsi Indonesia mengalami perbaikan, yakni 40 persen, tetapi pada 2020 menjadi turun sebesar 37 persen. Artinya, persepsi masyarakat terhadap anti korupsi masih belum cukup tinggi. Karena itu, semua pihak memiliki PR yang besar untuk menuntaskan masalah ini.

Baca Juga:

Sri berujar, korupsi dapat menggerus tingkat kepercayaan masyarakat terhadap suatu pemerintahan. Hal itu akan berujung pada terjadinya gejolak politik, sosial, menciptakan kesenjangan yang tinggi, dan kerusakan ekonomi. Apalagi, per September 2021 tingkat kemiskinan kembali masuk ke zona dua digit menjadi 10,19 persen.

Lebih lanjut, katanya, korupsi juga menyebabkan menurunnya kegiatan produktif dalam bentuk investasi.

"Karena siapapun yang memiliki capital dia akan berpikir seribu kali apakah dia bisa melakukan kegiatan produktif tanpa kemudian dia menjadi korban dari korupsi yang merajalela. Korupsi akan menurunkan kinerja ekonomi dan menurunkan kinerja dari sistem demokrasi atau representasi," paparnya.

Dalam perspektif makro ekonomi, lanjut Sri, tingginya angka korupsi akan menyebabkan empat hal besar, pertama, memperburuk ketimpangan pendapatan dan meningkatkan kemiskinan. Kehidupan masyarakat akan semakin buruk karena tidak meratanya penghasilan dan jumlah kemiskinan semakin besar.

Kedua, mengurangi tingkat investasi. Korupsi mengurangi dana yang tersedia untuk investasi karena uangnya telah dikorupsi, memperkecil kesempatan kerja yang disediakan hingga menyebabkan pengangguran yang tinggi.

Ketiga, menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah karena terjadi ketidakpastian pelaksanaan program akibat adanya korupsi pendanaan yang seharusnya digunakan untuk pembangunan ekonomi.

Keempat, melemahkan demokrasi dan representation. Kebiasaan korupsi menimbulkan pemerintahan yang tidak transparan karena adanya kegiatan membeli, membagi jabatan, dan promosi jabatan melalui tindakan suap dan gratifikasi.

Di tubuh lembaga pemerintahan, Sri Mulyani menyarankan dibangunnya sistem yang harus lebih tahan terhadap kemungkinan terjadinya perilaku korupsi. Langkah pemulihan harus diakselerasi melalui reformasi struktural dan mengeliminasi segala hambatan, salah satunya ialah korupsi

Integritas menjadi fondasi yang sangat utama. Untuk menjadi institusi yang menjaga integritas, maka setiap lembaga harus menumbuhkan budaya yang akuntabel. Tidak sekadar akuntabilitas dari aspek legalistik, tetapi pada sikap dan mengambil keputusan.

Selain itu, dia menambahkan, perilaku korupsi tidak hanya terjadi di lingkup pejabat dan institusi tertentu, tetapi dapat terjadi di setiap individu.

"Jadi korupsi adalah musuh bersama. Dia tidak mengenal lokasi, kedudukan, profesi, semuanya bisa dihinggapi apa yang disebut penyakit korupsi ini. Jadi jangan dipikir korupsi itu hanya untuk pejabat atau kelompok/institusi tertentu," ujarnya.

Baca Juga:

Editor: Rony Sitanggang

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Upaya Polri Meningkatkan Kembali Kepercayaan Publik

Most Popular / Trending