covid-19

Vaksin Booster untuk Masyarakat Umum, Satgas Covid-19: Tunggu Kajian Seroprevalensi

"Rencana perluasan target menerima vaksin booster ketiga di luar kategori tenaga kesehatan dapat dilakukan segera setelah adanya pengkajian terlebih dahulu"

BERITA | NASIONAL

Kamis, 18 Nov 2021 19:43 WIB

Vaksin Booster untuk Masyarakat Umum, Satgas Covid-19: Tunggu Kajian Seroprevalensi

Personel gabungan membantu warga lanjut usia mendapatkan penyuntikan vaksin COVID-19 di Tegal, Jawa Tengah, Kamis (18/11/21). (Foto: Antara/Oky Lukmansyah)

KBR, Jakarta - Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyatakan, rencana pemberian vaksin booster atau dosis ketiga masih menunggu kajian seroprevalensi.

Seroprevalensi adalah jumlah individu dalam suatu populasi yang menunjukkan hasil positif untuk penyakit tertentu berdasarkan spesimen serologi.

"Rencana perluasan target menerima vaksin booster ketiga di luar kategori tenaga kesehatan dapat dilakukan segera setelah adanya pengkajian terlebih dahulu. Salah satunya berdasarkan pada data hasil seroprevalensi yang saat ini dilakukan oleh Kementerian Kesehatan dan Kementerian Dalam Negeri," kata Wiku dalam Konferensi Pers secara daring, Kamis (18/11/2021).

Wiku yang juga Ketua Dewan Pakar Satgas Covid-19 menegaskan saat ini pemerintah masih berfokus pada pengejaran capaian target vaksinasi dosis sebesar 70 persen dari target penerima vaksin di akhir Desember ini. Ia juga memastikan vaksin yang diterima masyarakat tidak akan dikenai biaya.

"Sekali lagi pemerintah menegaskan bahwa vaksin adalah hak setiap warga negara dan tidak akan dipungut biaya bagi rakyat penerimanya," katanya.

Selasa (16/11/2021) lalu, Juru Bicara Pemerintah untuk program vaksinasi Siti Nadia Tarmizi memperkirakan vaksin dosis ketiga akan diterima masyarakat umum antara Januari atau Februari tahun depan. 

Nadia mengatakan, setelah booster diberikan pada tenaga kesehatan, sasaran selanjutnya kelompok rentan seperti lanjut usia.

"Jadi skenario untuk vaksinasi dosis ketiga (booster vaksin lansia) ini baru akan kita lakukan sekitar bulan Januari dan Februari 2022, kita akan fokus dulu ke vaksinasi dosis pertama dan dosis kedua," katanya.

Booster Dimulai Setelah Target Vaksinasi Dosis Kedua Tercapai

Sebelumnya, Pemerintah baru akan memulai suntikan vaksin tambahan atau booster Covid-19, jika capaian vaksinasi dosis kedua sudah lebih dari 50 persen. 

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, target vaksinasi dosis kedua ini diperkirakan akan tercapai pada akhir Desember mendatang.

"Kita merencanakan mungkin booster-nya diberikan sesudah 50 persen dari penduduk Indonesia itu vaksin dua kali. Hitung-hitungan kami di akhir Desember itu mungkin 59 persen kita bisa capai vaksin dua kali dan 80 persen vaksin pertama. Jadi adalah saat yang lebih proper atau pas lah kita memberikan vaksin booster kedepannya. Vaksin ini kita berikan satu kali, karena dia sesudah dianalisa secara medis memang kenaikannya tinggi antibodinya jadi tidak perlu dua kali," ucap Budi dalam RDP di Komisi IX DPR RI, Senin (8/11/2021).

Berita lainnya:

Menkes mengatakan, vaksin booster Covid-19 diberikan sesuai dengan kesetaraan dan keadilan yang merata. Pasalnya, kata dia, saat ini masih banyak masyarakat Indonesia yang bahkan belum mendapat vaksin dosis pertama.

"Vaksin booster kita sudah bicara dengan ITAGI dan kita melihat perbandingan dengan negara-negara lain itu seperti apa. Ini masalah sensitif, karena di dunia bilang masih banyak orang Afrika yang belum dapat kenapa negara maju dikasi booster," tuturnya.

Lebih lanjut, Budi menambahkan pemerintah berencana memprioritaskan booster bagi kelompok lansia karena dianggap paling berisiko tinggi. Sedangkan, sasaran selanjutnya yakni masyarakat yang ditanggung oleh negara melalui program penerima bantuan iuran (PBI).

    "Ini sudah dilaporkan kepada Presiden, jadi kalau anggota DPR dan penghasilannya cukup kita mohon bayar sendiri dan itu akan dibuka pilih vaksin yang mana," jelasnya.

    Editor: Kurniati Syahdan

    Komentar

    KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

    BERITA LAINNYA - NASIONAL

    Sistem Dukungan dalam Pengambilan Keputusan

    Kabar Baru Jam 11

    Kabar Baru Jam 10

    Kabar Baru Jam 8

    Kabar Baru Jam 7