NASIONAL

Sudahkah Wisatawan Sadar Bencana saat Melancong?

"Potensi bencana di destinasi wisata dibahas di podcast What's Trending"

AUTHOR / Lea Citra

What's Trending
What's Trending

KBR, Jakarta- Apa yang diperhatikan oleh pelancong saat hendak berwisata? Keindahan destinasi wisata mungkin jadi pertimbangan utama. Namun, sudahkah wisatawan memperhitungkan risiko bencana yang mungkin terjadi di lokasi wisata?

Pasalnya, menurut organisasi lingkungan hidup, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) 90 persen wilayah di Indonesia memiliki potensi bencana ekologis seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, dan kekeringan.

Selain topografi alami di suatu wilayah, potensi bencana ekologis Indonesia turut disebabkan maraknya deforestasi, perubahan iklim, pembangunan tanpa mengindahkan lingkungan, praktik pertambangan, serta monokultur seperti perkebunan sawit di Indonesia.

Berdasarkan laman Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, setiap daerah atau destinasi wisata sudah diwajibkan memiliki perencanaan pengembangan pariwisata tangguh bencana, yang dianalisis berdasarkan kerentanan wilayahnya masing-masing.

Hal ini dilakukan dengan beberapa adaptasi struktural, seperti keberadaan tanda evakuasi (peringatan/rambu/tanda bahaya, pos penjaga pantai/SAR/BPBD, pengeras suara, dan early warning system), jalur evakuasi, titik kumpul, serta bentuk bangunan tertentu.

Selain itu, ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan setempat seperti rumah sakit, puskesmas/klinik/praktik dokter, dan apotek juga menjadi indikator sebuah daerah atau destinasi wisata telah memenuhi persyaratan pariwisata tangguh bencana.

Yogyakarta peringatkan pelaku pariwisata soal bencana!

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Biwara Yuswantana meminta pengelola destinasi wisata untuk memperhatikan aspek keamanan dan mitigasi bencana di kawasan ekstrem atau rawan bencana. Menurutnya, selama ini sudah ada berbagai contoh kelalaian mitigasi bencana di sektor pariwisata. Baik di sektor transportasinya dan pengelolaan daerah wisatanya.

"Tren sekarang kan wisata yang menantang, memacu adrenalin. Kreativitas dan inovasi harus diimbangi dengan mitigasi atau pengurangan risiko bencana. Sebagian besar obyek wisata yang ada di kawasan rawan bencana kebanyakan memang wisata alam yang letaknya di atas bukit, di lereng tebing dan lainnya. Lokasinya relatif sulit untuk diakses terutama oleh wisatawan yang tidak hafal medan,” kata Biwara di kantor BPBD DIY pada 7 Februari 2023.

Baca juga:

Tren Promosi Wisata Hidden Gem di Media Sosial

Jokowi: Pasar Seni Sukawati Siap Terima Wisatawan

Jeli Saring Toxic Positivity

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Biwara Yuswantana juga menegaskan, pentingnya pencegahan dan pemberian informasi soal potensi bencana pada calon wisatawan. Jadi tak hanya memberikan informasi soal daya tarik dan keindahan wisatanya, pengelola juga diminta Biwara untuk memberitahu soal potensi dan mitigasi bencana.

“Monggo ini bisa ditangkap juga oleh pelaku wisata maupun pengelola wisata jadi bagaimana destinasi itu aman bencana. Karena apa karena kan wisatawan itu tamu kita, dia sebagai tamu sebagai orang luar DIY yang berkunjung ke sini kan belum tentu menguasai medan. Ada risiko. Kita berharap pelaku wisata dalam hal ini misalnya pemandu wisata juga bisa memastikan, ketika mereka akan berkunjung pada satu destinasi. Tidak hanya menyampaikan daya tariknya. Tapi juga disampaikan informasi terkait dengan potensi-potensi ancaman tadi," paparnya.

Lantas bagaimana keamanan wisata dalam negeri dari bencana?

Sayangnya, Ketua Ikatan Cendikiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Azril Azahari menilai mitigasi bencana di sektor pariwisata di Indonesia masih kurang. Menurut Azril, high risk management sektor pariwisata perlu dikembangkan dan dijadikan fokus.

"Tetapi ada satu hal yang penting bagi kita. Hal-hal yang high risk management ini di dalam destinasi kita, itu sama sekali belum terpikirkan. Sudah dipikirkan tapi belum menjadi utama. Yang menjadi utama itu, jadi kegembiraannya, ke wisatanya, kemudian lebih kepada site daripada turisnya atau pada tourism-nya. High risk manajement masih kurang. Kalau menurut saya sudah, tapi masih kurang ya. Nah ini yang barangkali harus dikembangkan lagi termasuk dari CHSE, termasuk tadi risiko-risiko dalam bencana alam," tutur Azril.

Padahal, menurut Azril beberapa bencana alam kerap terjadi. Di antaranya adalah banjir, tanah longsor, gempa, kekeringan dan kebakaran hutan.

Azril menekankan, saat ini banyak turis yang mengutamakan keamanan dan keselamatan dalam berwisata. Namun Azril menilai, destinasi wisata di Indonesia masih mengutamakan promosi soal keindahan dan apa yang ada disana. Tanpa memperhatikan aspek pencegahan bencana dan penyampaian informasi risiko bencana di destinasi wisata tersebut.

"Karena kita kan lebih kepada mendapatkan uang, tapi keselamatan orangnya masih belum. Mungkin saat inilah barang kali, kita untuk mengembangkan konsep-konsep yang tadi itu, risk reduction. Mitigasi itu wajib. Tapi di destinasi, di event-event ini belum. Belum sehebat yang ada di hotel. Di hotel ini standard, tapi di destinasi masih jadi PR kita," pungkasnya.

Mau tau lebih lanjut soal mitigasi dan bagaimana tata kelola kebencanaan di sektor pariwisata ibu pertiwi? Yuk simak podcast What's Trending di link berikut ini:

  • Pariwisata
  • bencana
  • pencegahan bencana di sektor wisata
  • Wisata aman bencana

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!