Article Image

UANG BICARA

Loud Budgeting, Hidup Hemat tanpa Overthinking

"Pendekatan loud budgeting mendorong normalisasi keterbukaan terhadap kondisi dan tujuan keuangan"

KBR, Jakarta - Ada tren baru nih di dunia financial planning, namanya loud budgeting. Tren yang digaungkan Lukas Battle, content creator dari Amerika Serikat ini, intinya mengajak untuk berani terbuka bahwa kita sedang on budget karena ingin mengejar tujuan keuangan tertentu. 

Menurut, certified financial planner, Marintan Lestari, dengan loud budgeting, masyarakat terutama Gen Z, tak perlu gengsi menjalani hidup hemat. Mereka bisa menolak ajakan, misalnya makan-makan atau nongkrong di kafe, jika berpotensi mengganggu tujuan keuangan. 

“Tren loud budgeting ini bikin kita lebih firm, jadi punya sikap dan kita juga turut melibatkan orang lain, ketika memiliki suatu tujuan keuangan,” ujar Marintan.

Apalagi, Gen Z cenderung lebih konsumtif dibanding generasi seniornya, karena ada peer pressure dan gaya hidup yang dibentuk dari lingkungan. Dengan loud budgeting, jangan lagi takut memberi batasan dengan menyuarakannya secara jujur. 

“Ketika jadi suatu tren, kan kita harapannya itu jadi awareness di masyarakat. Makanya ada salah satu financial planner di US dia juga sempat singgung bahwa hopefully ini bisa jadi norma,” papar lulusan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa itu.

Budaya segan di masyarakat memang menjadi tantangan loud budgeting. Namun, begitu kita berani terbuka soal tujuan keuangan, empati dari lingkungan sekitar bisa saja tumbuh dan justru memberikan support

“Justru karena kita jujur, mereka jadi bisa menceritakan perjuangan yang serupa, 'oh, aku pernah seperti ini'. Jadi berbagi, sharing, nanti dikasih saran, tips,” kata Marintan.

Baca juga:

Bedah Gaya Hidup Hemat ala Queen of Frugal Living

Cerita Sukses FIRE Journey Samuel & Claudya

Certified financial planner, Marintan Lestari mengatakan loud budgeting bisa membangun empati dari orang-orang terdekat. (Foto: Dok pribadi)

Manfaat riil loud budgeting tentunya bakal terasa kalau dilaksanakan, bukan sebatas wacana saja. Pastikan kita sudah membuat budgeting sebelum menyuarakan bahwa kita sedang on budget

“Supaya tidak hanya sekadar menjadi literasi atau pemahaman, tapi dieksekusi juga. Misalnya, kita mau suarakan oke, saya menganut prinsip loud budgeting, tapi budgeting-nya sendiri enggak dibuat, kan enggak bisa,” tegas Marintan.

Harapannya, loud budgeting dapat menormalisasi keterbukaan soal kondisi keuangan tiap orang. Kita bisa memahamkan diri maupun orang sekitar, bahwa membuat beberapa batasan demi tujuan yang lebih besar itu hal wajar. 

“Itu jadi suatu gaya hidup, kesadaran baru bahwa bahkan dalam sisi keuangan tuh kita harus sadar, dan kita harus punya tujuan,” tutur certified financial planner dari PINA itu.

Dengarkan Uang Bicara episode Loud Budgeting, Hidup Hemat tanpa Overthinking bersama certified financial planner PINA, Marintan Lestari di KBR Prime, Spotify, Apple Podcast, dan platform mendengarkan podcast lainnya.