SEJIWA peringati SID 2026 dengan mendorong ketahanan digital anak, melibatkan orang tua, komunitas, dan remaja menciptakan ruang aman luring–daring.
Penulis: Khaira Athaya
Editor: Don Brady

Dalam rangka memperingati Safer Internet Day (SID) 2026, Yayasan Semai Jiwa Amini (SEJIWA) menyelenggarakan rangkaian kegiatan edukatif bertema “Bangun Resiliensi Digital, Wujudkan Ruang Aman dari Kekerasan Luring dan Daring.” Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat peran keluarga dan komunitas dalam melindungi anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Penggunaan gawai yang semakin melekat pada kehidupan anak menghadirkan tantangan baru bagi orang tua. Tidak hanya berkaitan dengan pola asuh di rumah, tetapi juga bagaimana memastikan anak tetap aman saat berinteraksi di ruang digital. Melalui peringatan SID 2026, SEJIWA mengajak seluruh pemangku kepentingan membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya ketahanan digital sejak usia dini.
Tantangan Orang Tua di Era Digital
Founder SEJIWA, Diena Haryana, menegaskan bahwa upaya perlindungan anak di ruang digital tidak cukup hanya dengan membatasi akses teknologi. Pendekatan yang dibutuhkan adalah pendampingan yang memberdayakan.
“Anak perlu dilindungi sekaligus diperkuat kapasitasnya. Ketika mereka memahami risiko dan merasa memiliki ruang aman, anak akan lebih berani menyampaikan pengalaman serta mampu menjaga dirinya,” ujar Diena.
Menurutnya, hubungan yang hangat, terbuka, dan penuh empati antara orang tua dan anak menjadi fondasi utama agar anak merasa aman untuk bercerita tentang pengalaman di dunia nyata maupun daring.
Anak dan Remaja sebagai Bagian dari Solusi
SEJIWA juga melibatkan anak dan remaja sebagai aktor utama dalam menciptakan lingkungan aman. Dalam SID 2026, sekitar 50 persen peserta berasal dari kelompok usia 16–24 tahun yang tergabung dalam program Proyek SUFASEC.
Melalui program ini, anak dan remaja dibina menjadi pendidik sebaya agar mampu membantu teman-temannya mengenali potensi kekerasan serta cara menghadapinya. Salah satu peserta, Iva dari Sejiwa Muda, menyampaikan bahwa keterlibatannya membuat ia lebih memahami batasan diri dan memiliki keberanian untuk mendukung teman yang berada dalam situasi berisiko.
Keterlibatan ini menegaskan bahwa anak bukan hanya objek perlindungan, melainkan subjek penting dalam membangun ketahanan digital.
Ruang Aman Berbasis Komunitas
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, SEJIWA turut meluncurkan Ruang Aman SEJIWA, sebuah inisiatif berbasis komunitas yang menyediakan ruang berbagi, pendampingan awal, serta rujukan bagi korban kekerasan.
Para penggeraknya berasal dari aktivis komunitas yang telah mendapatkan pelatihan agar mampu memberikan dukungan secara empatik, aman, dan berpihak pada korban. Kehadiran ruang ini memperluas jangkauan perlindungan anak hingga ke tingkat lingkungan sosial.
Literasi Digital Dimulai dari Keluarga
SEJIWA menilai, menciptakan ruang aman tidak dapat dilakukan secara parsial. Literasi digital harus dimulai dari rumah. Orang tua diharapkan memahami dinamika dunia digital agar mampu mendampingi anak menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.
Melalui kolaborasi antara keluarga, komunitas, sekolah, dan anak itu sendiri, SEJIWA optimistis ketahanan digital dapat dibangun secara berkelanjutan. Ruang aman bagi anak, baik di dunia nyata maupun virtual, bukan sekadar wacana, tetapi tujuan bersama yang bisa diwujudkan melalui kerja kolektif.
Baca juga: Promo Februari Penuh Perayaan di Morrissey Hotel: Imlek, Valentine, dan Ramadan

