[Advertorial] Usai Jambore Masyarakat Gambut, BRG Harapkan Muncul Inovasi-inovasi Lokal

Bagaimana mengelola gambut dari jaman kakek nenek kita dulu, pengalaman tersebut dapat kita kembangkan menjadi pedoman kebijakan yang dijadikan referensi atau rujukan oleh pemerintah

Rabu, 09 Nov 2016 14:00 WIB

KBR, Jambi - Para petani yang ikut menjadi peserta Jambore Masyarakat Gambut 2016 didorong agar dapat mengembangkan produk pertanian unggulan dari lahan gambut. Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG), Nazir Foead berharap, usai jambore ini dapat muncul inovasi-inovasi tingkat lokal dalam perlindungan dan pengelolaan lahan gambut.

"Bagaimana mengelola gambut dari jaman kakek nenek kita dulu, pengalaman tersebut dapat kita kembangkan menjadi pedoman kebijakan yang dijadikan referensi atau rujukan oleh pemerintah dan dipraktekkan bersama oleh pemegang ijin maupun masyarakat untuk mengelola lahan mereka. Inovasi-inovasi lokal ini kami percaya akan melahirkan inovator baru, dan inovator baru ini dapat menjadi penggerak tidak hanya dalam upaya restorasi tapi juga pembangunan ekonomi yang berkelanjutan," kata Nazir di GOR Kotabaru, Jambi, Senin (07/11/16).

Sementara itu Veronica Herlina, selaku Direktur Eksekutif Sustainable Platform Coffee Indonesia (SCOPI) di acara Jambore Masyarakat Gambut 2016 mengatakan, petani di lahan gambut menurutnya bisa mengambil peluang dalam pengembangan kopi jenis liberika. Jenis kopi tersebut mempunyai prospek yang bagus karena bisa tumbuh di lahan gambut dan peminat pasarnya juga besar.

Selain kopi, produk pertanian yang bisa dikembangkan di areal lahan gambut diantaranya Nanas, Kakao, Jelutung dan berbagai jenis produk pertanian lainnya. Dalam produk yang sudah dihasilkan itu, para petani juga didorong untuk berinovasi dalam srategi pemasaran produk pertanian yang dihasilkan dari lahan gambut.

Kemudian masyarakat juga didorong memanfaatkan limbah-limbah pertanian di lahan gambut. Seperti yang dilakukan Nur Asiah (40), warga Desa Pematang Rahim, Kecamatan Mendara Hulu, Tanjung Jabung Timur Jambi, ia memanfaatkan limbah batang pisang menjadi bahan kerajinan seperti kotak tisu. Limbah-limbah kertas koran dari perusahaan minyak yang ada di dekat desa pun disulap menjadi tas dan mewarnainya.

Hari itu merupakan hari terakhir Jambore Masyarakat Gambut 2016. Tercatat lebih dari seribu warga dari tujuh Provinsi berkumpul di Kotabaru Jambi. Mereka terdiri dari masyarakat petani gambut, masyarakat peduli api, perangkat desa, para inovator dan organisasi masyarskat sipil.

Jambore ini menjadi wadah bagi masyarakat gambut untuk saling menguatkan, bersinergi dan berjejaring secara efektif serta berbagi pengetahuan dengan aktif. Jambore ini juga menjadi wadah melakukan monitoring bersama-sama terhadap pelaksanaan Restorasi Gambut oleh masyarakat.

Jambore Masyarakat Gambut ini mewadahi beragam aktivitas. Diantaranya ada dialog kebijakan, forum aksi dan panggung inovasi rakyat, pondok belajar gambut, sudut pengetahuan, nonton bareng dan diskusi, serta pameran.



Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Periksa Saksi Meringankan Setnov Pekan Depan

  • Polda Metro Rilis 2 Sketsa Terduga Penyerang Novel
  • Polda Papua Akui Ada Perintah Tembak di Tempat di Tembagapura
  • Pemprov Akan Pelajari Investigasi Ombudsman

Program diharapkan dapat mendukung ekonomi masyarakat dengan memanfaatkan lahan di daerah masing-masing