Libur Natal, Harga Cabai Naik Hingga Rp40 Ribu per Kilo

Harga grosir cabai merah naik dari Rp30 ribu ke Rp35 ribu. Pedagang menjualnya seharga Rp40 ribu per kilogram untuk pembelian di atas 1 kilogram dan Rp50 ribu untuk eceran kemasan kecil per ons.

Selasa, 26 Des 2017 12:38 WIB

Ilustrasi pedagang cabai. (Foto: ANTARA/Maulana Surya)

KBR, Cilacap – Harga berbagai jenis cabai di pasar tradisional Cilacap, Jawa Tengah naik drastis menyusul minimnya pasokan dari petani.

Seorang pedagang di Pasar Cinangsi Kecamatan Gandrungmangu, Rodiyah mengatakan kenaikan harga juga terjadi lantaran tingginya permintaan pada masa libur Natal dan Tahun Baru 2018. Tingginya permintaan tidak dibarengi dengan stabilnya pasokan dari pengepul di Pasar Induk.

Cabai hijau sebelumnya dijual Rp25 ribu sampai Rp26 ribu per kilogram. Namun, sekarang pedagang membeli dari pengepul seharga Rp26 ribu dan menjualnya di atas Rp35 ribu. Jika lebih murah, kata Rodiyah, pedagang akan rugi.

Adapun harga grosir cabai merah naik dari Rp30 ribu ke Rp35 ribu. Pedagang menjualnya seharga Rp40 ribu per kilogram untuk pembelian di atas 1 kilogram dan Rp50 ribu untuk eceran kemasan kecil per ons.

Menurut Rodiyah, para pedagang menduga minimnya pasokan disebabkan curah hujan tinggi yang terjadi sebulan terakhir. Di samping itu juga ada kenaikan permintaan di masa libur Natal dan Tahun Baru 2018, karena banyak warga mudik sehingga pasar bertambah ramai.

"Cabai sekarang melonjaknya dua kali lipat. Kemarin jualnya Rp26 ribu per kilogram, sekarang belinya saja Rp26 ribu per kilogram. Yang merah ini Rp35 ribu per kilogram, belinya di Ajibarang. Dikemas per ons, kalau sekilogram itu jadi 10, maka ini dijadikan 11 bungkus ons.  Kalau ambilnya seribu, dua ribu ya rugi," kata Rodiyah, Selasa (26/12/2017).

Rata-rata pedagang memperoleh pasokan cabai dari Pasar Ajibarang Kabupaten Banyumas. Hal itu disebabkan karena Pasar Induk Majenang dan Gandrungmangu yang paling dekat dengan Pasar Cinangsi minim stok cabai.

Pasar Ajibarang memeroleh pasokan dari petani daerah timur, seperti Banjarnegara, Magelang dan Wonosobo. Sementara, Pasar Induk Majenang dan Gandrungmangu hanya mengandalkan pasokan lokal Cilacap dan sedikit pasokan dari Garut, Jawa Barat.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas

  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Jokowi Minta Perbankan Beri Kredit UMKM

  • PT Angkasa Pura I Buka Peluang Musyawarah Terkait Konflik NYIA
  • Turki Ancam Serang Milisi Kurdi
  • PBB: Tiga Tahun Terakhir Terpanas Dalam Sejarah

Memberdayakan masyarakat bisa dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya seperti apa yang dilakukan anak-anak muda asal Yogyakarta ini melalu platform digital yang mereka namai IWAK.