Jejak Bagus Priyana Rawat Sejarah Magelang

Kontribusi anak muda Magelang lestarikan warisan budaya

Komunitas Kota Toea Magelang dalam acara Djelajah Spoor seri keempat di Stasiun Bedono-Ambarawa 2015. (Foto: dok Komunitas Kota Toea Magelang).

Senin, 06 Juni 2022

KBR, Magelang - Bagus Priyana menunjukkan satu per satu foto orang Indo yang pernah dibantunya.

Mereka keturunan campuran Eropa dan Indonesia yang hidup di Magelang, Jawa Tengah pada masa penjajahan Belanda.

Mereka datang ke Bagus untuk menelusuri jejak sejarah yang masih tersisa.

“Saya bikin Facebook Kota Toea Magelang itu tahun 2010. Terus ada orang-orang luar yang tertarik bergabung, nulis sesuatu yang berkaitan dengan apa yang mereka inginkan, termasuk mencari keluarga, rumahnya dulu, makam dsb. Mereka menghubungi saya,” kata Bagus.

Bagus selalu terkesan dengan kisah-kisah orang Indo. Dari mereka, jejak sejarah masa kolonial bisa digali lebih dalam.

“Saya kembalikan ke diri saya, misalnya, bapak saya itu baru bertemu dengan adiknya setelah 40 tahun terpisah. Ibu saya, setelah 9 tahun baru tahu bahwa ibu tirinya, bukan ibu kandungnya. Jadi wong saya juga pernah mengalami seperti itu. Ini bukan masalah antibelanda, antipenjajahan, tapi lebih ke humanisme,” ucap dia.

Baca juga: Sulam Arguci: Jaga Budaya, Berdayakan Warga

Bagus Priyana diapit foto-foto orang Indo yang pernah dibantunya menelusuri ulang jejak sejarah di Magelang. (Foto: KBR/Ninik)

Di Magelang, Bagus menjadi rujukan tepercaya seputar sejarah kota dan cagar budaya. Padahal, ia bukan jebolan kampus. Pendidikan terakhirnya adalah SMK jurusan Teknik Elektronika.

“Saya 20 tahun lalu, jualan bakso, PKL di Timur Alun-alun. Kenapa saya tertarik di dunia yang barangkali tersesat di dalamnya, ya karena saya merasa mencintai Magelang sebagai tempat kelahiran saya. Di Magelang banyak berbagai peninggalan. Kami anak-anak muda yang non-sejarawan sangat butuh informasi,” tutur dia.

Minat Bagus pada sejarah diawali hobinya pada sepeda tua.

"Di sini nyebutnya sepeda kebo. Kebo itu kerbau, karena setangnya mirip tanduk kerbau. Sepeda kebo identik dengan kemiskinan, karena (dulu) yang menggunakan orang-orang miskin, bakul-bakul jualan keliling dan petani," lanjut Bagus.

Lambat laun, bermunculan anak-anak muda dengan minat serupa yang berujung pada pendirian Komunitas Sepeda Toe pada 2003.

“Tahun 2006 itu saya bikin event Magelang Tempo Doeloe di Alun-alun. Konsepnya masih sederhana, ada pameran sepeda tua, barang-barang lama, foto lama, makanan tradisional. Rupanya menarik minat,” imbuhnya.

Melihat antusiasme tinggi dari khalayak, Bagus makin bersemangat. Hasilnya, lahirlah Komunitas Kota Toea pada 2008.

Baca juga: Kampung Islam Pegayaman Bukan Minoritas di Pulau Dewata

Acara Djelajah Petjinan seri kelima di Parakan, Temanggung, Jawa Tengah 2017. (Foto: dok Komunitas Kota Toea Magelang)

Setahun berselang, mereka menggelar kegiatan pertama di Menara Air Kota Magelang. Situs ini sudah terkenal karena letaknya di Alun-alun, tetapi sedikit yang tahu sejarahnya.

“Ternyata Water Toren, Menara Air Magelang ini kan termasuk paling megah di Hindia belanda, paling besar, paling sempurna dilihat dari manapun sama,” ungkapnya.

Sudah 60-an kegiatan yang digelar. Komunitas Kota Toea dan Bagus pun makin bertumbuh dengan pengetahuan dan jaringan baru.

Mereka kini juga memainkan peran advokasi, salah satunya pelestarian cagar budaya.

Pada 2012, Bagus berhasil mempertahankan dua bangunan peninggalan zaman Belanda di RSUD Tidar dari rencana pembongkaran. Bagus terngiang dengan ucapan mendiang Eko Budihardjo, yang pernah menjabat Rektor Universitas Diponegoro.

“Sebuah kota tidak memiliki bangunan tua, ibarat manusia yang tidak memiliki ingatan. Ketika Magelang kehilangan bangunan tuanya, seperti kehilangan memori, ga punya jejak sejarah, ga punya masa lalu,"

"Bukan kita mewarisi sebuah sifat kolonialisme, tidak sama sekali. Justru kita belajar kepada sejarah masa lalu seperti apa,” Bagus menegaskan.

Baca juga: Belajar Toleransi dari Kampung Sudiroprajan

Teddy Harnawan kerap berkolaborasi dengan Bagus Priyana dan Komunitas Kota Toe untuk menulis sejarah Magelang. (Foto: dok pribadi).

Pengabdian Bagus merawat sejarah kota mendapat apresiasi dari Teddy Harnawan, penulis buku "Orang-Orang Indo di Kota Magelang pada Akhir Masa Kolonial". Sosok Bagus bisa mendekatkan warga dengan sejarah kotanya.

“Karena dia menggali sumber-sumber sejarah untuk mengangkat kembali atau menginformasikan kepada generasi-generasi muda untuk lebih mengetahui tentang sejarah Magelang secara spesifik,” kata Teddy.

Lulusan Pasca-sarjana Sejarah UGM ini menuturkan, Bagus bersama Komunitas Kota Tua merupakan representasi suara akar rumput untuk menjaga warisan budaya.

“Mereka tahu dan bahkan hidup dengan heritage itu dari kecil sampai sekarang, jadi dekat banget. Jadi kalau ada sedikit saja berubah kota itu, mereka sangat sensitif terhadap semua proyek pemerintah,” tutur Teddy.