ADVERTORIAL

CHSE, Identitas Baru Pelaku Usaha Wisata Demi Bertahan di Tengah Pandemi

Dengan CHSE dapat menumbuhkan kepercayaan masyarakat dan mengedukasi protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah.

RAGAM

Kamis, 24 Jun 2021 19:05 WIB

CHSE, Identitas Baru Pelaku Usaha Wisata Demi Bertahan di Tengah Pandemi

Ilustrasi. Wisatawan mengunjungi kawasan wisata Tamansari, Kraton, Yogyakarta, Rabu (23/6/2021). ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/rwa.

Maulana Yusran, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), mengakui kondisi pariwisata tahun 2021 jauh lebih berat dibanding tahun 2020. Seperti dialami PT. Hotel Indonesia Natour, hotel milik BUMN yang pada tahun 2020 mengalami penurunan hingga 67%.

Pelaku industri pariwisata mulai beradaptasi dengan melakukan sertifikasi CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety, Environment Sustainability). Sertifikasi ini guna melakukan penguatan dalam standar kebersihan, kesehatan, keamanan, dan kelestarian lingkungan.

CHSE sudah jadi identitas industri hotel dan restoran di masa pandemi. Dengan CHSE dapat menumbuhkan kepercayaan masyarakat dan mengedukasi protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah.

“Kalau protokol kesehatan, kita di industri hotel dan restoran termasuk yang paling berkomitmen. Di awal Maret 2020 saja, kita sudah menyusun standar protokol kesehatan. Perubahannya sampai tiga kali menyesuaikan Surat Edaran Menteri Kesehatan dan standar WHO. Kami justru mendukung PPKM Mikro yang dijalankan saat ini,” ungkap Maulana Yusran di Dialog Publik yang diselenggarakan KPCPEN dan ditayangkan di FMB9ID_IKP, Rabu (23/6).

Penguatan lainnya dalam bidang pariwisata adalah adanya stimulus dari Kemenparekraf sejak 2020 berupa Hibah Pariwisata. Selain dapat membantu biaya operasional, stimulus ini juga bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas dengan pelatihan tenaga kerja.

Kondisi serupa juga dirasakan pelaku pariwisata di Bali. Cokorda Istri Julyana Dewi sangat merasakan dampak tersebut. Bisnis kerajinan perak dan tas kulitnya mengalami imbas yang cukup besar. Untuk bisa bertahan, Dewi melakukan inovasi dengan mengkombinasikan perak dan tas kulitnya supaya mudah diterima konsumen.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - RAGAM

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Melimpah Limbah Medis

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11