Share This

Duka Pidie Jaya

Hingga semalam, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut, ada 90an korban tewas, 120an luka berat, dan hampir 500 orang luka ringan.

OPINI , EDITORIAL

Kamis, 08 Des 2016 06:51 WIB

Masjid Jamik Nur Abdullah ambruk akibat gempa.

Warga menyaksikan Masjid JamIk Nur Abdullah yang ambruk akibat gempa di lintasan jalan nasional Desa Parue Keude, Kecamatan Bandar Baru Pidie Jaya, Propinsi Aceh, Rabu (7/12) (foto: Antara)

Hari masih gelap dan warga di Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, masih terlelap. Jelang pagi, goncangan kuat selama 30 detik membangunkan mereka. Gempa berkekuatan 6,4 skala Richter itu, menurut salah satu warga, sampai menjatuhkan barang-barang seperti lemari, televisi, juga perabotan rumah tangga. Beberapa rumah dan masjid roboh. Saat itu juga, warga berlarian keluar rumah, berhamburan di jalanan.

Hingga semalam, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut, ada 90an korban tewas, 120an luka berat, dan hampir 500 orang luka ringan. Sementara itu, dua ratusan rumah dan ruko rusak berat hingga roboh. Untuk korban yang luka ringan-berat, Rumah Sakit Umum (RSU) Pidie Jaya kewalahan. Belakangan mereka dirujuk ke Sigli, Bireuen, dan Banda Aceh.

Gempa juga membuat warga Aceh ketakutan, khawatir smong datang. Meski sudah 12 tahun berlalu, peristiwa gempa disusul smong pada 26 Desember 2004, masih membekas. Ketika itu, kurang lebih 500 ribu nyawa melayang -  tercatat sebagai bencana terbesar dalam sejarah.

Sebagai daerah yang rawan gempa, maka sudah semestinya pemerintah mencegah korban jatuh lebih banyak. Setidaknya menyarankan warganya membangun rumah yang tahan gempa. Di Desa Nglepen, Yogyakarta, misalnya, warga membangun rumah berbentuk kubah atau dome. Bentuk pondasinya melingkar sehingga ketika ada gempa, struktur pondasi bakal mengikuti gerakan tanah. Jepang, negara yang rawan gempa, yang memperkenalkan rumah ini. Peristiwa gempa Pidie Jaya mesti jadi alarm bagi pemerintah: tak hanya cepat tanggap yang dibutuhkan, tapi juga mitigasi. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.