Share This

TGPF Kasus Novel Baswedan

Ketika polisi tak kunjung menemukan siapa pelaku kekerasan tersebut. Novel sampai menyebut polisi seperti tak punya kemauan untuk mengusut kasusnya.

OPINI , EDITORIAL

Senin, 31 Jul 2017 05:39 WIB

Ilustrasi: TGPF Kasus Novel Baswedan

Ilustrasi: TGPF Kasus Novel Baswedan

Hari ini marilah kita arahkan perhatian ke Istana. Rencananya Presiden Joko Widodo akan bertemu Kapolri Tito Karnavian untuk membahas kasus Novel Baswedan. Tepatnya, kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK yang terjadi lebih dari 3 bulan lalu.

Ini kasus penting karena Novel Baswedan adalah orang penting. Dia adalah penyidik KPK yang banyak memegang kasus korupsi besar. Yang terakhir, mega korupsi KTP elektronik dengan dugaan kerugian negara sebesar Rp 2,3 triliun. Kasus yang ditangani Novel bukan yang ecek-ecek. Mulai dari kasus korupsi proyek simulator ujian SIM Polri, sampai kasus suap hakim MK Akil Mochtar serta korupsi yang melibatkan bekas Bendahara Partai Demokrat, M. Nazaruddin. Juga korupsi Wisma Atlet SEA Games Palembang, diduga merugikan negara sebesar Rp 25 miliar.

Serangan balik sempat juga menjegal Novel. Tapi yang terparah adalah kali ini, ketika ia disiram air keras oleh orang tak dikenal. Ketika mata kirinya putih dan tak bisa melihat lagi. Ketika polisi tak kunjung menemukan siapa pelaku kekerasan tersebut. Novel sampai menyebut polisi seperti tak punya kemauan untuk mengusut kasusnya.

Ketika Presiden Jokowi langsung memerintahkan Kapolri Tito Karnavian untuk mencari pelaku penyiraman air keras terhadap Novel, harapan publik langsung membubung tinggi. Apalagi Kapolri juga langsung memerintahkan Kepolisian Jakarta membentuk tim khusus untuk mengusut teror ini. Tapi habis itu seperti melempem.

Karena itu, sangat penting untuk segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta kasus Novel. Isinya mestilah orang-orang yang kredibel, independen dan punya integritas tinggi. Apalagi Novel sudah berjanji bakal blak-blakan memberi informasi yang ia punya terkait kasusnya. Dan ini adalah bagian dari ‘kerja-kerja-kerja’ yang digaungkan Presiden Jokowi sejak hari pertama menjabat. Indonesia sudah darurat korupsi; butuh cara dan kemauan politik yang lebih besar untuk menyelamatkan negeri ini. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.