Tantangan Industri Pariwisata

Target industri pariwisata tahun depan sangatlah besar: 20 juta wisatawan dan devisa 240 triliun rupiah. Pariwisata bahkan ditarget untuk memberikan kontribusi 15 persen pada Produk Domestik Bruto.

OPINI | EDITORIAL

Senin, 31 Des 2018 01:31 WIB

Author

KBR

Tarian memperingati Galungan dan Kuningan di Bali

Pemuda menampilkan tarian saat Parade Ngelawang Barong di Denpasar, Bali, Minggu (30/12/2018) dalam peringatan Hari Raya Galungan dan Kuningan. (Foto:Antara/Fikri Yusuf).

Liburan akhir tahun ini mesti dilewati dengan prihatin. Kalau biasanya kita memilih liburan ke gunung atau ke pantai, sekarang dua-duanya susah. Bumi sedang bergejolak, berdampak tak hanya ke pantai tapi juga ke gunung. Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi  menyatakan, Gunung Agung di Bali meletus akibat tekanan berlebih hasil akumulasi gas vulkanik. Gunung tersebut sekarang ditetapkan berada pada status siaga. Suasana tak kalah prihatin datang dari pantai pasca tsunami di Selat Sunda. Hotel di Anyer dan sekitarnya yang biasanya panen wisatawan, kini harus gigit jari. Sejumlah hotel bahkan membatalkan perayaan tahun baru dengan musik dan pesta kembang api yang biasanya gegap gempita.

Tsunami di pesisir Banten dan Lampung serta sebelumnya gempa di Lombok ikut juga menyisakan PR pemulihan wisata di sana. Pengalaman erupsi Gunung Agung di Bali tahun ini memperlihatkan dampaknya yang serius pada pariwisata. Kementerian Pariwisata sudah mengatakan destinasi wisata bakal segera dipulihkan dari bencana. Begitu juga tenaga kerja dan pemasarannya. Karena itu patut diapresiasi langkah Kementerian Pariwisata yang bakal memberi relaksasi di Bidang keuangan bagi industri pariwisata ke bank. 

Target industri pariwisata tahun depan sangatlah besar: 20 juta wisatawan dan devisa 240 triliun rupiah . Pariwisata bahkan ditarget untuk memberikan kontribusi 15 persen pada Produk Domestik Bruto (PDB). Secara umum, masih banyak destinasi wisata yang butuh perbaikan di sana-sini dan ini akan ditopang dengan investasi sekitar 205 triliun rupiah. Ditambah lagi dengan situasi pasca bencana, tenaga dan biaya yang dikerahkan tentu mesti lebih besar lagi. Artinya, pengembangan 10 destinasi ‘Bali Baru’ harus juga menghitung aspek antisipasi bencana  supaya industri pariwisata betul-betul bisa jadi topangan.  

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - OPINI

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Koalisi Gemuk Pemerintah Dinilai Ancam Demokrasi