Nasib Sawit

Menurut pasar Uni Eropa, kebanyakan lahan produksi minyak sawit merusak hutan dan gambut, serta menghasilkan emisi gas rumah kaca terus menerus.

OPINI | EDITORIAL

Kamis, 21 Mar 2019 00:25 WIB

Author

KBR

Perkebunan kelapa sawit

Ilustrasi: Perkebunan kelapa sawit (Foto: BUMN.go.id)

Presiden Joko Widodo belum lama menyarankan para petani berpikir ulang menanam atau meremajakan kebun kelapa sawit. Sebaiknya petani beralih ke durian, kata Jokowi, karena permintaan durian internasional tinggi. 

Produk sawit Indonesia saat ini sedang bermasalah, khususnya ketika berhadapan dengan pasar Uni Eropa. Eropa berencana mengeluarkan kebijakan baru terkait energi terbarukan bernama RED II. Aturan itu menyatakan minyak sawit atau CPO merupakan produk yang tidak berkelanjutan. 

Menurut mereka, kebanyakan lahan produksi minyak sawit merusak hutan dan gambut, serta menghasilkan emisi gas rumah kaca terus menerus. Karena itu impor CPO untuk bahan baku biodiesel hendak dikurangi. Mereka bakal memprioritaskan sumber-sumber energi berkelanjutan lain. 

Bagi Indonesia, rencana kebijakan itu jadi ancaman besar. Indonesia merupakan salah produsen CPO terbesar dunia, sedangkan Uni Eropa salah satu pasar ekspor CPO terbesar Indonesia. Di sisi lain, produk sawit Indonesia banyak yang tidak punya sertifikat berkelanjutan internasional RSPO. Bahkan banyak industri sawit mundur dari RSPO dan memilih menggunakan sertifikasi berkelanjutan dalam negeri yaitu ISPO. 

Energi berkelanjutan saat ini sudah menjadi gerakan global, sebagai bentuk tanggung jawab memenuhi kebutuhan energi saat ini tanpa mengorbankan generasi mendatang. Karena itu aturan Uni Eropa mesti dipandang sebagai ikhtiar menyelamatkan masa depan. Pemerintah, industri sawit serta industri pengguna CPO semestinya menyikapi aturan Uni Eropa yang bakal berlaku 2030 mendatang itu, secara positif dan bijak. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - OPINI

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Jokowi Diminta Pilih Menteri yang Jujur dan Bersih