Novel Musashi dan Cerita Eks Tapol 65

Bila Anda penggemar novel, tentu Anda tahu novel fiksi Musashi karya Eiji Yoshikawa. Tapi Apakah Anda tahu jika keberadaan novel ini di Indonesia tak lepas dari andil bekas tahanan politik di Indonesia?

NUSANTARA

Rabu, 01 Okt 2014 10:37 WIB

Author

Anto Sidharta

Novel Musashi dan Cerita Eks Tapol 65

Novel Musashi, Eks Tapol 65

KBR, Jakarta – Bila Anda penggemar novel, tentu Anda tahu novel fiksi Musashi karya Eiji Yoshikawa. Tapi Apakah Anda tahu jika keberadaan novel ini di Indonesia tak lepas dari andil bekas tahanan politik di Indonesia?

Cerita seorang samurai dan ronin yang sangat terkenal di Jepang pada abad pertengahan itu muncul kali pertama di Indonesia melalui cerita bersambung di Harian “Kompas” tahun 1983-1984.  Penerjemahnya adalah Koesalah Soebagyo Toer (79 tahun), adik sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. 

“Menerjemahkan Musashi saya mendapatkan order lewat abang saya. Saya mau saja karena gak ada kerjaan karena baru keluar (penjara). Honorariumnya kecil waktu itu 1 halaman Rp500. Tapi karena banyak halaman, (ada) 1800 halaman (itu) termasuk tawaran yang menggiurkan,” ujar Koesalah ketika ditemui KBR pertengahan September lalu di rumahnya yang asri di Kawasan Depok, Jawa Barat.

Koesalah bercerita, ia kaget ketika sekitar tiga bulan pemuatan cerita itu di “Kompas”, namanya dihilangkan sebagai penterjemah kolom cerita bersambung itu. Hal ini ia ketahui dari seorang pembaca.  

“Pada hari itu juga saya mendapat surat dari ‘Kompas’, kalau gak salah Hari Senin. (Saya) diminta datang segera (ke kantor ‘Kompas’). Diajak bicara (oleh staf) redaksi, (katanya) ada telepon dari Departemen Penerangan. Karena penerjemahnya orang Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat, red.), pemerintah minta cerita itu hilangkan,” ujar Koesalah.

Saat itu, kata dia, Harmoko menjabat sebagai Menteri Penerangan. Soal Lekra, Koesalah menyatakan dia bukan anggota Lekra. Namun, abangnyalah yang menjadi anggota organisasi budaya bentukan PKI itu.

Atas informasi "Kompas" itu, Koesalah mengaku tak ambil pusing.

“Ini urusan pemerintah, bukan saya. Yang penting saya dibayar,” ujar Koesalah.

Dalam perkembangannya, kata dia, Redaksi “Kompas” meminta kompromi ke Departemen Penerangan.

“Cerita sudah banyak penggemarnya, dan ‘Kompas’ tidak punya persediaan untuk mengantinya. Bagaimana kalau nama penterjemah dicoret, cerita dilanjutkan pemuatannya. Rupanya Depen (Departemen Penerangan, red.) setuju, jadi seterusnya cerita dimuat tanpa nama saya,” lanjut Koesalah.

Sejak saat itu, kata Koesalah, namanya tidak dicantumkan ketika cerita bersambung yang ia terjemahkan itu dicetak ke dalam buku. Menurut dia, pencantuman namanya dalam buku novel Musashi baru beberapa tahun terakhir ini. Ini ia ketahui ketika istrinya mengunjungi Toko Buku Gramedia di Depok. Koesalah pun tak menerima cetakan buku hasil terjemahannya itu.

Imbas Kasus “Musashi

Imbas kasus ini, kata Koesalah, penerbit lain enggan berikan dia pesanan untuk menerjemahkan.

“Saya waktu itu menerjemahkan untuk beberapa penerbit, Gunung Agung, Panca Simpati, Sinar Harapan, Pustaka Jaya. Saya kehilangan order. Orang takut berikan order. Malah nama saya dicabut dari buku-buku yang telah terbit,” ujar Koesalah. 

Kondisi itulah yang mendesaknya untuk menjadi pengajar privat bahasa Indonesia untuk orang asing seperti Jerman, Swiss dan Amerika Serikat. Pekerjaannya ini tak asing baginya, karena sebelum ditahan ia pernah mengajar bahasa Indonesia untuk orang Rusia selama tiga tahun. 

“Dapat orang asing dari lewat Yayasan Friedrich Nauman Stiftung (yayasan asal Jerman). (Juga) dari abang saya,” cerita Koesalah.

Di usia senjanya kini ia masih mampu mengoreksi buku hasil terjemahan dari bahasa Rusia ke bahasa Indonesia yang dilakukan orang lain. Buku yang sedang ia koreksi adalah Karya-Karya Terpilih Maxim Gorky Jilid III 1912-1931 tentang Cinta Pertama.

“Mencocokkan dengan teks asli, karena kalau ada perbedaan tafsir akan jadi masalah,” ujar Koesalah.

Koesalah yang menguasai empat bahasa asing yakni Jerman, Belanda, Rusia, Inggris dan sedikit bahasa Perancis itu kini sudah banyak menerjemahkan banyak buku bermutu  seperti Jiwa-jiwa Mati karya Nikolai Gogol, Ruang Inap No. 6 karangan Anton Chekhov dan Anna Karenina buah karya Leo Tolstoi.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Tanda Kekuasaan Allah di Mesir

Siapa Nama Firaun pada Masa Nabi Musa

Kabar Baru Jam 7

Prokes Buat Objek Wisata, Mungkin Diterapkan?

Surat At-Tin: Ayat-ayat Berupa Fakta Arkeologi