Bagikan:

Polda Papua Buru Bupati Tersangka Suap yang Kabur ke PNG

KPK telah meminta Polda Papua mencari keberadaan tersangka. Akan tetapi belum ditemukan hingga kini. Polisi menduga, Ham Pagawak kabur ke Papua Nugini (PNG).

NUSANTARA

Senin, 18 Jul 2022 10:16 WIB

Polda Papua Buru Bupati Tersangka Suap yang Kabur ke PNG

Ilustrasi: Warga Mamberamo Tengah, Papua, saat berunjuk rasa menuntut kejelasan status bupati yang jadi tersangka di KPK, Sabtu, 9 Juli 2022. Foto: Nius Yikwa

KBR, Jayapura- Kepolisian Daerah (Polda) Papua masih mencari keberadaan Bupati Mamberamo Tengah, Ricky Ham Pagawak. Ricky Ham Pagawak telah ditetapkan sebagai tersangka kasus suap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Direktur Reserse dan Kriminal Khusus (Direskrimsus) Polda Papua, Faizal Ramadhani mengatakan Ricky Ham Pagawak ditetapkan sebagai tersangka suap sejumlah proyek di lingkungan Pemkab Mamberamo Raya periode 2013-2019.

Menurutnya, Ham Pagawak sudah dua kali tidak menghadiri panggilan penyidik KPK. Keberadaannya juga tidak diketahui sejak Kamis, 14 Juli 2022.

Menurut Faizal, KPK telah meminta Polda Papua mencari keberadaan tersangka. Akan tetapi belum ditemukan hingga kini.

Polisi menduga, Ham Pagawak kabur ke Papua Nugini (PNG). Sebab, sebelum menghilang, ia sempat terpantau berada di perbatasan Papua dan PNG, di Skuow, Kota Jayapura.

"Kita sebarkan jaringan, termasuk juga kontak-kontak kita yang ada di sebelah (PNG), untuk membuktikan apakah benar dia sudah ke sana (PNG) seperti itu," kata Faizal Ramadhani, Minggu, (17/7/2022).

Kabur Dibantu Ajudan

Direskrimsus Polda Papua, Faizal Ramadhani mengatakan KPK telah mengeluarkan status daftar pencarian orang atau DPO terhadap Ricky Ham Pagawak.

Kata dia, sebelum penetapan DPO, KPK juga mengeluarkan surat pencekalan terhadap tersangka, yang telah disebar ke semua kantor imigrasi.

Kaburnya Ricky Ham Pagawak diduga melibatkan anggota polisi yang selama ini menjadi ajudannya. Ketiganya polisi berinisial AI, JW, dan EW itu telah ditahan dan diperiksa oleh bidang profesi dan pengamanan Polda Papua.

AI diduga, membantu Ricky Ham Pagawak untuk kabur, dengan menyiapkan kendaraan dan alat komunikasi baginya.

Tiga Kompi Brimob Dikirim

Sebelumnya, Polda Papua mengirim tiga kompi Brimob Nusantara ke Kobakma, ibu kota Kabupaten Mamberamo Tengah, untuk mengamankan situasi di sana. Situasi di wilayah itu sempat bergejolak pascaunjuk rasa warga pada Sabtu, 09 Juli 2022.

Warga berunjuk rasa meminta kepastian status hukum terhadap Bupati Mamberamo Tengah, Ricky Ham Pagawak, terkait kasus dugaan suap yang kini ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Kapolda Papua, Mathius D Fakhiri mengaku telah mengirim satu kompi Brimob ke Mamberamo Tengah, Senin, 11 Juli 2022. Kemudian, pada Selasa, 12 Juli 2022, Polda Papua kembali menambah dua kompi pasukan Brimob ke wilayah tersebut.

"Kami Polri telah menyiapkan langkah-langkah pengamanan ekstra. Kami berharap, situasi Mamberamo Tengah itu bisa berjalan normal. Kami tidak mau ada hal-hal yang terjadi, yang berakibat pada ketidak stabilan daerah Mamberamo Tengah," kata Mathius D Fakhiri, Rabu, (13/7/2022).

Memberi Rasa Aman

Mathius beralasan, penambahan pasukan Brimob di sana untuk memberikan rasa aman kepada warga setempat.
Sebab, sejak Sabtu lalu, ratusan warga dan aparatur sipil negara (ASN) yang bukan anak asli Mamberamo Tengah telah mengungsi ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

Ratusan orang itu mengungsi karena khawatir dengan situasi yang terjadi di ibu kota Kabupaten Mamberamo Tengah.

"Dan apabila nanti ada memerlukan tambahan (pengamanan) kami akan kirim," kata Mathius D Fakhiri, Rabu, (13/7/2022).

Mathius menambahkan, ia juga telah mengirim empat pejabat utama Polda Papua ke Mamberamo Tengah, untuk mengevaluasi situasi di sana.

Menurutnya, aksi unjuk rasa massa akhir pekan lalu disertai pemalangan sejumlah kantor pemerintahan, akses jalan hingga Mapolres Mamberamo Tengah.

Kapolda Papua berharap, upaya penegakan hukum yang dilakukan KPK tidak digiring ke ranah politik, yang akhirnya menciptakan situasi tidak aman.

Ratusan Nakes Mengungsi 

Ratusan tenaga kesehatan (nakes) mengungsi dari Kobakma, ibu kota Kabupaten Mamberamo Raya, Papua ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya, sejak Sabtu, 9 Juli 2022.

Nakes itu mengungsi bersama warga dan Aparatur Sipil Negara (ASN) dari luar Papua dan warga asli Papua, yang bukan berasal dari Mamberamo Tengah. Mereka mengungsi karena merasa tidak aman.

Para nakes dan ASN khawatir dengan aksi unjuk rasa di sana akhir pekan lalu. Sebab, saat itu, massa memalang sejumlah kantor pemerintahan, dan meminta warga yang bukan asli Mamberamo Tengah meninggalkan wilayah tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Memberamo Tengah, Helda Wally mengatakan di antara ASN yang mengungsi adalah dokter dan tenaga kesehatan dari luar Papua dan asli Papua, namun dari daerah lain.

"Melihat situasi Kobakma hari ini, kelihatannya tidak aman. Saya sebagai kepala dinas, kami harus menyelamatkan teman-teman kami, petugas (kesehatan). Dokter, perawat, bidan dan sebagainya, karena ada peristiwa-peristiwa yang telah terjadi," kata Helda Wally, Selasa, (12/7/2022).

Helda mengaku, tidak ingin dokter dan nakes yang bertugas di sana terancam keselamatannya. Apalagi sekitar 65 persen tenaga kesehatan di Mamberamo Tengah, bukan orang asli setempat.

"Kita hanya mengantisipasi saja. Jangan sampai kami punya petugas itu nyawanya terancam dalam pelayanan," kata Helda Wally.

Pemicu Aksi Demo

Kepala Dinas Kesehatan Mamberamo Tengah, Helda Wally mengatakan jumlah tenaga medis di Mamberamo Tengah termasuk honorer adalah 313 orang.

Sebanyak 220 di antaranya merupakan berasal dari luar Papua, dan tenaga medis asli Papua, yang bukan anak asli Mamberamo Tengah.

Kata dia, saat ini yang masih bertugas dan berada di Mamberamo Tengah adalah tenaga medis yang merupakan anak asli setempat.

Unjuk rasa di Mamberamo Tengah akhir pekan lalu, berkaitan dengan kasus dugaan suap di lingkungan Pemkab Memberamo Tengah. Kasus dugaan suap itu yang kini sedang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Pengunjuk rasa meminta kejelasan status Bupati Mamberamo Tengah, Ricky Ham Pagawak, yang diduga terlibat dalam dugaan kasus suap.

Baca juga:


Editor: Sindu

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Laporan Temuan Ombudsman soal Penanganan Bencana

Most Popular / Trending