NTB Tetapkan Siaga Darurat Bencana Kekeringan

Nusa Tenggara Barat NTB ditetapkan sebagai daerah siaga darurat bencana kekeringan.

BERITA | NUSANTARA | NUSANTARA

Kamis, 02 Jul 2015 17:32 WIB

Author

Zaenudin Syafari

Ilustrasi musim kemarau. Foto: Antara

Ilustrasi musim kemarau. Foto: Antara

KBR, Mataram - Nusa Tenggara Barat NTB ditetapkan sebagai daerah siaga darurat bencana kekeringan. Pemerintah Provinsi NTB memprediksi musim kemarau tahun ini bakal lebih parah. Ini disebabkan gelombang panas elnino yang lebih kuat dari tahun sebelumnya.

Gubernur  M. Zainul Majdi juga membentuk tim Satuan Tugas (Satgas) untuk menangani dan menyelesaikan masalah kekeringan. Satgas terdiri dari unsur Pemprov NTB, pemerintah Kabupaten Kota serta instansi pertikal. Baik itu TNI, Polri, SAR dan PMI.

Satgas ini dikomandoi oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, Wedha Magma Ardi. Ia mengatakan, bencana kekeringan ini harus segera diatasi sehingga tidak berdampak terhadap masalah sosial, politik dan idilogi.

“Musim kemarau sekarang karena elninonya lebih kencang, berarti intensitas hujannya menurun. Dan kekeringannya akan semakin dalam. Kita harus antisipasi dan upaya penanganan kita tidak boleh ad hock tapi juga ada perspektif jangka menengah dan jangka panjang. Jadi memang perlu penanganan yang tidak bersifat sementara. Jadi dari rapat ini menurut saya sudah cukup alasan untuk di NTB ditetapkan siaga darurat bencana kekeringan," kata Gubernur.

Kekeringan di NTB tahun ini diprediksi akan lebih parah dari tahun sebelumnya. Dalam 10 hari ini sejumlah wilayah di NTB telah mengalami kekeringan ekstrem. Yakni seluruh wilayah pulau Sumbawa, Kabupaten Bima dan Dompu. Begitu pula dengan seluruh wilayah pulau Lombok.

Diperkirakan kekeringan terparah adalah di Lombok Tengah dan Lombok bagian selatan. BPBD memprediksi jumlah jiwa yang akan terkena dampak kekeringan tahun ini sebanyak 1,9 jiwa lebih. Tersebar di 76 kecamatan dan 378 desa. Meningkat 143 persen dari tahun lalu, yakni sebanyak 1,3 juta jiwa di 53 kecamatan dan 232 desa.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 10

Samoa Menetapkan Status Darurat Campak

Laporan Prakiraan Cuaca Sepekan Ke Depan Dari BMKG

Bakal Eksklusif, Masuk Pulau Komodo Mesti Pakai Membership?

Kabar Baru Jam 8