Bagikan:

Kejar Transformasi Kesehatan, Kemenkes Panggil Pulang Doktor WNI

Faktanya, Indonesia masih kekurangan sekitar 150 ribu dokter, dan 3000-an dokter spesialis

NASIONAL

Jumat, 18 Nov 2022 19:47 WIB

Kejar Transformasi Kesehatan, Kemenkes Panggil Pulang Doktor WNI

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, menjawab pertanyaan media secara daring terkait transformasi kesehatan. Selasa (26/07/22). Foto: Kemenkes

KBR, Jakarta- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memanggil dokter spesialis WNI lulusan luar negeri dalam program adaptasi. Menkes Budi Gunadi Sadikin mengatakan, ini adalah salah satu upaya untuk mewujudkan transformasi sumber daya manusia (SDM) kesehatan, untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas dokter spesialis yang merata di seluruh Indonesia.

"Sehingga dengan demikian bapak presiden juga memberikan arahan, harus dipikirkan cara-cara lain agar dokter spesialis dokter spesialis yang diutamakan warga negara Indonesia yang juga merupakan lulusan luar negeri juga bisa diberikan jalan. Kalau mereka ingin berbakti di Indonesia diberikan jalan tanpa mengurangi kualitas tapi jangan dipersulit," kata Budi dalam konferensi pers, Jumat (18/11/2022).

Menkes Budi mengatakan, saat ini kebutuhan dokter di Indonesia sekitar 270 ribu, sesuai standar WHO, yakni 1 dokter per 1000 penduduk. Namun faktanya, Indonesia masih kekurangan sekitar 150 ribu dokter, dan 3000-an dokter spesialis.

Selain itu, Budi mengatakan dari 92 universitas kedokteran di Indonesia, yang bisa mencetak dokter spesialis hanya 20 fakultas saja.

"Dan masing-masing 20 fakultas kedokteran itu tidak semuanya bisa memproduksi dokter spesialis. Misalnya yang besar aja kayak Universitas Gajah Mada itu belum bisa memproduksi dokter spesialis paru, Universitas Sriwijaya belum bisa memproduksi dokter spesialis jantung, ini perguruan tinggi besar. Belum ada perguruan tinggi yang bisa memproduksi dokter spesialis onkologi radiasi di luar Universitas Indonesia, padahal itu sangat dibutuhkan," imbuhnya.

Baca juga:

Deklarasi KTT G20 soal Perang Rusia-Ukraina Berjalan Alot

Perkuat Kesehatan Global, Jokowi: Perlu WHO yang Lebih Bertaring

Sebelumnya, Kemenkes telah meluncurkan Digital Platform Adaptasi Dokter Spesialis WNI Lulusan Luar Negeri, yang diberi nama Sistem Informasi Adaptasi pada 10 Juni 2022. Sistem Informasi Adaptasi ini merupakan platform digital yang disediakan untuk mempermudah serta mempercepat proses adaptasi dokter spesialis WNI lulusan luar negeri, yang akan melakukan praktik kedokteran di Indonesia.

Sistem ini dikelola oleh Kementerian Kesehatan bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Konsil Kedokteran Indonesia, Kolegium spesialis terkait, asosiasi perumahsakitan dan organisasi profesi dalam Komitmen Bersama.

Melalui platform ini, pendaftaran program adaptasi tidak lagi dilakukan secara manual melainkan online di website yang telah disediakan Kementerian Kesehatan. Dengan demikian, proses pengajuan adaptasi jadi lebih mudah, verifikasi dan penilaian pra-adaptasi juga jauh lebih cepat dengan estimasi waktu kurang dari 1 bulan.

Budi menjelaskan, saat ini sudah ada 35 dokter spesialis yang menjadi pemohon dalam program ini. Kata dia, 35 pemohon ini adalah lulusan dari 8 negara yakni Jerman, Jepang, Filipina, China, Malaysia, Nepal, Rusia, dan Ukraina, yang terdiri dari 9 spesialisasi.

"Nah kita bekerja sama dengan Kolegium dan Konsil kedokteran Indonesia dan Alhamdulillah sudah ada tiga orang yang dilihat oleh teman-teman di KKI dan Kolegium, bisa dilanjutkan untuk melakukan adaptasi," kata Budi.

Editor:Dwi Reinjani

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 7

Tergoda Perpanjangan Masa Jabatan Kepala Desa

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11

Most Popular / Trending