Bagikan:

Cegah Penyebaran Hoaks, AMSI Gelar Training Prebunking

"Itu adalah jurnalistik yang salah, bukan hoax. Media hanya mewawancarai narsum tanpa memverifikasi."

NASIONAL

Senin, 07 Nov 2022 14:20 WIB

Author

Eka Jully

berita hoaks

Ilustrasi (Antara)

KBR, Jakarta- Prebunking menjadi salah satu tindakan proaktif untuk mencegah, mengantispasi, sebelum mis/disiformasi menyebar luas. Hadirnya prebunking, bukan sekadar untuk koreksi fakta dan data, namun juga mengajak audiens untuk berpikir kritis dan memberdayakan kepercayaan  pemirsa.

Untuk itu, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) menggelar pelatihan prebunking, selama tiga hari (5-7/11/2022), di Bandung, Jawa Barat. Praktik jurnalisme prebunking diharapkan akan memperkuat kemampuab media melakukan pengecekan fakta.

Kegiatan ini melibatkan awak media di AMSI Jawa Barat dan juga media-media nasional di Jakarta.

Pelatihan pre-bunking adalah pembuatan berita atau konten berupa naskah/artikel, gambar, grafis, dan video. Tujuannya untuk mencegah informasi bohong atau hoaks yang kerap berulang pada momen-momen tertentu, seperti hoaks berulang saat mendekati momen pemilu, bencana, kesehatan, politik, hingga lowongan kerja.

Salah satu pemateri atau mentor, Anastasya Andriarti mengatakan, sebelum prebunking, yang harus dilakukan adalah memetakan defisit data, mengecek kebenaran, atau bisa juga mengecek percakapan di media sosial untuk dijadikan tema yang akan diangkat.

Dosen Universitas Bakrie itu mencontohkan salah satu gangguan informasi yang muncul yang langsung dipercaya masyarakat dan diangkat oleh media. Pada 2017 lalu, muncul sosok anak muda Dwi Hartanto yang dilabeli sebagai "The Next Habibie" dalam bidang teknologi.

Pemuda tersebut mengaku lulusan Tokyo, mendapat penghargaan dan memenangkan kompetisi antarbadan antariksa di Jerman, dan lain sebagainya. Pengakuannya yang bombastis itu, membuat masyarakat percaya, media-media pun mulai mengangkatnya. Ternyata, setelah ditelusuri, hanya sekedar klaim Dwi Hartanto saja.

"Menurut saya itu adalah jurnalistik yang salah, bukan hoax. Media hanya mewawancarai narsum tanpa memverifikasi. Tidak mencari tahu, soal benar tidak penghargaan yang dia dapat dan ternyata penghargaan itu tidak ada," jelas Anas.

Anas  menyebut ada tiga  3 jenis prebunking, yakni berbasis fakta (mengoreksi klaim atau narasi palsu tertentu), berbasis logika (menjelaskan taktik yang digunakan utk memanipulasi), dan berbasis sumber (menunjukkan sumber informasi yang buruk).

Baca juga:

Sementara itu Ketua Umum AMSI, Wenseslaus Manggut mengatakan, banyak orang yang mengira dengan membaca informasi di media sosial, sudah merasa membaca sebuah berita. 

"Padahal, yang ia baca itu info yang ada di medsos, bukan di media online. Hal tersebut bisa menimbukan mis/disinformasi jika apa yang ia baca di medsos adalah info keliru." ujarnya di acara pembukaan Training Prebunking AMSI Jawa Barat, di Bandung, Sabtu (5/11/2022).

Ia juga menambahkan, di ekosistem media oline, media hanya sedikit menguasai hulu hingga hilirnya. Di hulunya, semua bisa memproduksi konten, sedangkan distribusinya dikuasai oleh platform.

Pelatihan pre-Bunking ini merupakan strategi baru yang dikembangkan koalisi cekfakta.com, yang terdiri dari AMSI, AJI, dan MAFINDO, dan didukung oleh Google News Initiative. Media jadi garda terdepan karena bisa memberikan bahasa yang egaliter kepada orang-orang yang berpendidikan rendah.

Dalam training prebunking ini, peserta tak hanya belajar bagaimana definisi, model dan cara informasi hoaks muncul dan menyebar, namun langsung belajar membuat konten pencegahannya atau prebunking. Ada yang membuat artikel, grafis dan juga video. Karya yang dibuat peserta langsung dikomentari, ditanggapi, dibantah dan diberi masukan oleh sesama peserta dan mentor.



Editor: Rony Sitanggang

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Kejar Tayang Pengesahan RKUHP