Bagikan:

Economic Outlook 2023, Airlangga: Waspadai Inflasi

"Indonesia masih harus mewaspadai risiko inflasi. Secara bulanan, kenaikan harga BBM, angkutan, masih tertahan oleh penurunan harga komoditas,"

NASIONAL

Senin, 17 Okt 2022 11:04 WIB

inflasi

Inflasi, Menko Airlangga Hartarto, Economic Outlook 2023 'Pertumbuhan Ekonomi di Tengah Inflasi Global, Senin (17/10/22). (Sinas Mas)

KBR, Jakarta- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut inflasi di tanah air kemungkinan besar masih akan naik. Kata dia, hal ini dipengaruhi oleh kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan fluktuasi harga bahan pangan.

"Indonesia masih harus mewaspadai risiko inflasi. Secara bulanan, kenaikan harga BBM, angkutan, masih tertahan oleh penurunan harga komoditas, bawang merah, dan aneka cabai. Sementara beras mengalami kenaikan di bulan September. Andil inflasinya walaupun mendekati nol, namun sedikit naik 0,04 persen," ucap Airlangga dalam acara Forum Dialog - Economic Outlook 2023 'Pertumbuhan Ekonomi di Tengah Inflasi Global, Webinar 100 Tahun Eka Tjipta Widjaja pendiri konglomerasi Sinar Mas, Senin (17/10/22).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan bahwa pada  September 2022 saja, komoditas bensin menyumbang inflasi sebesar 0,89 persen. 

Di sisi lain, inflasi harga pangan bergejolak,   beberapa komoditas khususnya hortikultura mengalami deflasi.

"Penurunan harga disebabkan tercukupinya pasokan seiring masih berlangsungnya musim panen raya di berbagai daerah sentra produksi," ucapnya.

Meski begitu, menurutnya Indonesia patut mensyukuri inflasi tanah air masih lebih terkendali di tengah tren kenaikan inflasi di tingkat global.

"Inflasi Indonesia saat ini sebesar 5,95 persen. Dan ini Indonesia bisa lebih rendah dari beberapa negara lain yang misalnya Amerika sudah 8 persen, EU (Uni Eropa) sudah 9 persen. Dan ini adalah sinergi yang baik, kebijakan fiskal dan moneter di Indonesia," tuturnya.

Baca juga: 

Tekan Inflasi, Jokowi Ingin Kerja Serentak Pusat dan Daerah

Survei: Mayoritas Masyarakat Tak Setuju Kebijakan Kenaikan Harga BBM

Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi September 2022 menembus 1,17 persen. Angka itu merupakan tertinggi sejak Desember 2014.

Ketua BPS Margo Yuwono mengatakan, tingginya inflasi September lalu salah satunya disebabkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

"Jika dilihat penyumbang inflasi di Bulan September ini, di antaranya berasal dari kenaikan (harga) bensin, tarif angkutan dalam kota, beras, solar, tarif angkutan antarkota, tarif kendaraan online, dan juga bahan bakar rumah tangga. Inflasi September tahun 2022 yang sebesar 1,17 persen, ini merupakan inflasi tertinggi sejak Desember tahun 2014," kata Margo dalam konferensi pers, Senin (3/10/2022).

Editor: Rony Sitanggang

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 7

Tergoda Perpanjangan Masa Jabatan Kepala Desa

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11

Most Popular / Trending