covid-19

Perkara Spiritualitas dan Penerimaan Hindu Terhadap LGBTIQ+

Perkara Spiritualitas dan Penerimaan Hindu Terhadap LGBTIQ+

BERITA | NASIONAL | RAGAM

Jumat, 15 Okt 2021 16:35 WIB

Perkara Spiritualitas dan Penerimaan Hindu Terhadap LGBTIQ+

Love Buzz Season 4 : Agas dan Dedy. (FOTO : KBR)

KBR, Jakarta - Penerimaan kadang-kadang jadi perkara yang rumit, baik penerimaan terhadap diri sendiri terhadap orang lain, atau penerimaan oleh lingkungan sekitar.

Dalam Love Buzz kali ini saya akan ngobrol perkara penerimaan ini bareng Agas dan Dedy yang sudah saling menerima satu sama lain. Agas dan Dedy yang tinggal di Bali ini biasa membagi keseharian mereka di media sosial dari perkara ibadah, berderma, hingga bermesra. Bareng mereka berdua saya ngobrol perkara spiritualitas dan penerimaan Hindu terhadap LGBTIQ+, ada juga perkara keseharian, arti menjadi bahagia, dan cerita cinta mereka berdua tentunya.

Anda mendengarkan Love Buzz bersama Saya Asrul Dwi.


QnA

Asrul :Situasi di Bali kayak gimana sekarang, kalo liat di IG anak-anak Jakarta dah mulai banyak yang liburan kesana ya?”

Agas : “Iya betul. Udah mulai ramai wisatawan domestic, rame orang kerja juga. Cuman kalo bule sisa yang ekspat doang,”

Dedy : “Sama bule-bule yang nggak tau dapat akses darimana tau-tau muncul aja di Bali. Atau bisa jadi beberapa influencer yang kita liat kemarin sempat bermasalah, dan memanfaatkan hak tinggalnya dengan seenaknya di Bali, bisa jadi mereka tinggal long stay. Mereka aja sih yang tersisa,”

Asrul :Aktifitas pariwisata belum terlalu normal ya?”

Dedy : “Secara umum belum pulih banget. Kalo temen-temen lihat di Kuta, Legian, itu sepi banget. Toko-toko tutup,”

Agas : “Iya, prihatin banget liat kondisi Bali saat ini. Canggu, sebagian daerah Ubud. Tapi kalo Denpasar kota teteup rame, rame orang kerja,”

Asrul :Kalo kalian, kerjaan terpengaruh nggak selama pandemi?”

Agas : “Puji Tuhan, Alhamdullillah nggak terlalu,”

Dedy : “Kerjaan yang sebelumnya kan memang berhubungan sama pariwisata. Kita punya biro pariwisata, ‘Holi Baliday’ itu mati total. Januari 2020 kita baru switch dari pangsa pasar turis lokal ke pangsa European market. Eh ada Covid, bisa bayangin kan? Terus yayasan paduan suara yang didirikan Agas nggak jalan padahal mau ikut lomba ke luar (negeri). Bisa dibilang selesai, sampai sekarang terus kita nemu satu bisnis yang jalan, bisa survive,”

Agas : “Pinter-pinter muter otak lah. Kalo kemarin masih hanya mengeluh dan meratapi nasib. Tapi sekarang Puji Tuhan secara umum, bisnis aman,”

Asrul :Kalian kerjaan bareng atau beda-beda?”

Dedy : “Yes. We build our business together,”

Asrul :Itu nggak mempengaruhi dinamika hubungan kalian?”

Agas dan Dedy : “Sangat! Haha..”

Agas : “Ada titik bosannya ya ada. Terus misal ada masalah di kerjaan kadang salah paham, tu juga jadi masalah,”

Dedy : “Kata orang nih, dalam sebuah bisnis tidak dianjurkan ada matahari kembar. Sedangkan kita basic personality-nya sama-sama keras dan idealis. Keduanya alpha. Ketika idealisme yang satu ketemu dengan yang lain, jadinya tengkar. Tapi untungnya kita selalu mencoba komunikasikan segala sesuatu. Walaupun bisa dibilang rebut mulai dari ribut ringan sampe berat ya kita selesaikan,”

Agas : “Kita termasuk yang jarang banget berantem. Kadang bete-betean ya ada sih. Cuma berantem nggak. Untungnya dari awal banget kita hubungan emang udah selalu komunikasi, penting banget,”

Dedy : “Betul. Jangan dibawa tidur,”

Agas : “Jangan sampe kebawa. Ada temen nanya ‘enak ya kalian kalo berantem, pasti setelahnya ada duduk berdua ngobrol’ ya udah kebiasaan sih ya,”

Dedy : “Ngomongin soal bisnis berdua itu tadi nggak enaknya ya. Tapi enaknya, ketika salah satu lagi down, butuh motivasi. Saling menguatkan. Atau misal aku yang lagi capek, demotivasi, Agas yang motivasi aku. Kayak pemain bulutangkis ganda gitu, salah satu di-smash ada yang siap namplok balik,”

Asrul :Selama pandemi ini punya pengaruh juga nggak, tapi kalian selalu bersama sih ya. Jadi nggak ngaruh ya?”

Agas : “Sempet sebulan tuh pas aku ambil sertifikasi yoga tapi masih di Bali sih,”

Dedy : “Di Singaraja, sekitar 2 jam dari Denpasar. Aku nggak bisa ikutan kan jadi separate tapi ya sisanya bareng terus,”

Asrul :Cuman sebulan dalam waktu berapa tahun bareng?”

Agas : “Kita baru tiga tahun kok,”

Dedy : “And still counting,”

Agas : “Tiga tahun jadi tiga puluh tahun, amin,”

Asrul :Kalian kan cukup terbuka dengan status hubungan kalian dan di sosmed juga di-share. Kalau di lingkungan sekitar kalian, keluarga, sudah tau atau bahkan menerima?”

Agas : “Udah aman sih. Kalau lingkungan kerja, keluarga, aman termasuk di bisnis kita yang dilihat ya etos kerja bukan orientasi seksual. Aku juga ngajar kan, nggak pernah sih aku declare aku gay, nggak perlu juga kan ngomong ke orang. Nggak menutupi tapi juga nggak gembar gembor. Misal aku ngajar di lingkungan baru, karena sambil freelance ngajar.

Aku nggak perlu bilang aku gay tapi kalau mereka liat Instagram-ku dan follow ya berarti udah tau. Terus aku liat respon mereka dan ternyata biasa aja. Selama aku kerja aku nunjukin sikap profesional aja, ndak ada yang aneh. Misalkan Dedy nemenin aku ngajar, ya nunjukin aja bahwa dia jadi support system yang baik. Jadi kita tunjukkin side yang positif aja,”

Dedy : “Kita nggak pernah yang nunjukkin mesra-mesraan, justru sewajarnya aja,”

Agas : “Orang laki sama perempuan berhubungan aja nggak segitunya ya, kita juga,”

Dedy : “Cuma misalkan nih mau nyebrang jalan, ya gandingan biasa. Truk aja gandingan, masa kamu nggak? Haha…”

Asrul :Buat orang-orang di luar Bali, apalagi temen-temen gay, persepsinya soal Bali itu kesannya lebih bebas dan bisa menerima. Kenyataannya seperti itu nggak sih?”

Dedy : “Ini yang perlu diluruskan,”

Agas : “Aku yang orang Bali jawab duluan ya Kak. Sebetulnya orang Bali itu bukan lebih bebas, tapi lebih ke nggak suka nyampurin urusan orang lain. Lu mau kayak gimana asal nggak ngerugiin siapapun ya udah. Itu berlaku untuk orang gay dari luar Bali.

Tapi kalau misalkan dalam satu keluarga Bali ada laki-laki yang gay, apalagi disini laki-laki sangat apa ya…patriarki nya masih kuat lah. Itu akan jadi masalah. Jadi laki-laki Bali, gay, come out itu nggak gampang juga. Apalagi kayak aku, anak cowok satu-satunya di keluarga, itu sangat nggak gampang. Butuh proses untuk keluarga bisa nerima. Apalagi kalau orangnya aktif banget di Banjar, wah apalagi itu. Sebenarnya nggak bebas banget cuman temen luar Bali yang ke Bali, dibanding daerah lain ya agak lebih safe,”

Dedy : “Aku juga bisa diterima sama keluarga Agas itu anugerah banget. Gak semua keluarga di Bali bisa menerima hal seperti ini. Terbukti dari banyaknya orang nge-DM kita di sosmed baik Twitter maupun IG. Misal yang baru nih, satu sisi keluarga nuntut untuk nikah, meneruskan garis keturunan, akhirnya penerimaan diri juga belum bisa muncul. Coming in nya belum. Orang-orang selalu melihat coming out nya yang dilihat padahal before coming out, coming in nya terlebih dulu. We accept who we are, kita terima diri kita yang seperti ini. Cintai diri kita apa adanya. Aku percaya energi itu exist. Aku percaya ketika kita sudah bisa mencintai diri kita, orang di sekeliling kita juga bisa melakukan hal yang sama kok,”

Agas : “Aku dulu ngerasa aku waktu SD, SMP, SMA nggak punya banyak teman. Setelah kuliah hampir selesai dan menerima diri, kalau dibilang self-love banget sih masih belum sepenuhnya, masih ada yang perlu diselesaikan. Cuma untuk urusan itu, aku dah terima diriku sejak 2016-2017. Dan aku rasain sejak aku bisa menerima diri, justru aku punya banyak teman sejak itu sampe sekarang,”

Asrul :Aku tertarik soal penerimaan tadi. Kalo keluarga Agas kan udah menerima, kalau Dedy kan belum ya. Nah, sementara di kita, kalau keluarga nggak setuju atau nggak terima, itu jadi semacam beban buat kita. Lu punya cara nggak untuk ngelepasin itu, artinya lu bisa menerima diri tapi nggak harus menggantungkan penerimaan itu karena eksistensi lu nggak sebatas keluarga lu juga kan?”

Dedy : “Kalau keluarga, dari 2010 ketika aku memutuskan coming out ke keluarga, awalnya mana ada ortu yang terima? Jarang lah. Tapi untuk keluarga yang dari background religious, I was a Muslim, pasti waktu itu menentang keras tapi ndak lama bahkan sempat diusir dari rumah. Tapi kita juga membiarkan orang tua untuk healing untuk menerima kita. Kita juga jangan egois, jangan kita paksakan. Kemudian, jangan paksakan untuk coming out jika terutama secara finansial belum siap,”

Agas : “Kan kondisi kita beda-beda,”

Dedy : “Intinya dipertimbangkan. Keluarga sih sudah menerima walaupun secara disampaikannya gini, ‘It’s your life, it’s your choice. Kalau kamu bahagia, kami pun bahagia.”

Agas : “Intinya saling punya empati. Kita posisikan diri juga jadi orang tua kita. Orang tua kita kan sebelumnya ndak pernah berpikir kita akan seperti ini. Jadi ketika coming out atau ketahuan gay, pahami posisi mereka, gak gampang juga menerima kita kayak gini. Biarkan mereka healing dulu. Aku yakin namanya keluarga pasti balik ke kita, kita balik ke mereka. Asalkan selama proses penerimaan, jangan menekan mereka juga.

Kejadian kemarin ada temen deket kami, ketahuan sama orang tuanya karena mantannya ngaku kalau dia pacar anaknya. Di depannya langsung, ya marah besar. Terutama papa-nya, kalau mama-nya ya mungkin udah ada feeling. Anaknya pergi dari rumah, ndak nyampe sehari, di malam itu juga papanya suruh balik, ngobrol, mungkin belum bisa terima sepenuhnya tapi ya sudah. Dia bilang sekarang tugasmu nunjukin even kamu gay, kamu bisa jadi anak yang baik, berbakti,”

Dedy : “Balas hal itu dengan hal yang baik, yang membanggakan orang tua. Terus tadi soal bahagia, apa iya bahagia kita tergantung dari keluarga atau orang tua. Sebenarnya bisa dibilang idealnya nggak. Bahagia itu kita sendiri yang ciptakan. Tapi tak bisa dipungkiri, kita tidak bisa hidup sendiri. Di rumah ada orang tua, saudara, teman-teman. Kalau cuma egois dan bodo amat, ya nggak bisa gitu juga. Intinya kita saling komunikasi, jelaskan baik-baik. Menjadi seperti kita pun tidak mudah. Ini bukan masalah pilihan, ndak ada orang yang mau memilih hidup seperti ini,”

Agas : “Untuk hidup jadi beda, dan bermasalah dengan masyarakat itu sebenarnya nggak ada yang mau,”

Dedy : “Makanya, pilihan darimana? Misal tuh yang temen-temen yang straight bilang lu belum nyoba? Ayo kita balikin pertanyaannya. Lu straight, coba jadi gay. Nyaman gak? Ya karena itu dah bawaan orok. Misal orang bilang temen gue straight terus jadi gay. Kalau sejauh yang kita tahu ya dari pengalaman, mungkin dah ada bibitnya nunggu mletek aja belum nemu yang pas aja,”

Asrul :Atau bisa jadi ya biseksual gitu kan?”

Dedy dan Agas : Nah betul…”

Asrul :Tadi sempat nyinggung soal keluarga. Dedy sempet sebut soal agama. Kalau di Indonesia kan selalu dibenturkan dengan itu ya. Gue ke Agas dulu ya. Di Bali yang jadi mayoritas kan Hindu. Rasa-rasanya gue nggak pernah dengar persepsi Hindu terhadap LGBT seperti apa,”

Agas : “Kalo bicara Hindu di ranah agama ya pasti ada yang pro dan kontra, karena kita masih dipengaruhi kuat oleh budaya meskipun kita nggak sulit di Indonesia terutama Bali untuk melihat peran perempuan yang dimainkan oleh laki-laki dalam sebuah tarian misalnya. Aku yakin budaya itu dah dari lama. Cuma aku nggak mau terlalu jauh ke ranah itu karena yang aku pahami Hindu lebih ke sisi spiritualitasnya. Dari beberapa guru yang bicara tentang Hindu di ranah spiritual yang aku temuin, ya memang atman atau jiwa, roh itu tidak punya gender. Dan di Hindu, homoseksual juga tidak dipandang sebagai sebuah dosa selagi perilaku seksualnya, maaf, tidak melakukan anal. Compassion-nya, Love-nya ya nggak masalah.

Kalo dari yang kontra ya udah lah ndak usah kita bahas karena gampang nyarinya. Yang pro ini aku tahunya dari, aku pernah dapet sumber yang menyatakan gay, lesbian, transgender itu di Hindu dinamai Tritia Prakerti atau gender ketiga. Diakui. Dari jaman dulu banget dah ada, dari jaman Sri Rama nama kaum itu Hijra yang dipercaya sebagai pemimpin spiritual,”

Dedy : “Mirip seperti Bissu di Sulawesi Selatan ya,”

Asrul :Kalau di Bali, praktik keagamaan semacam itu nggak ada ya berarti? Di India kan masih ada sampai sekarang,”

Agas : “Hindu akarnya sama ya Kak. Cuma karena Hindu itu sifatnya menyesuaikan dengan tempatnya, waktu, keadaan, jadinya Hindu itu beragam sekali. Hindu di Bali akan beda sekali dengan Hindu di Sumatera Utara, akan beda juga dengan Hindu di Jawa, dll. Bisa jadi apa yang kita temukan di Bali belum tentu kita temukan di India, dan sebaliknya,”

Asrul :Gue sempet baca juga soal spiritual equality di Hindu. Dan bagi temen-temen LGBT itu kan dijadikan semacam pintu untuk Hindu tidak mengecualikan temen-temen LGBT untuk beribadah. Menurut Lu, bagaimana melihat spiritual equality dalam Hindu? Dan pengalaman pribadi Lu seperti apa?”

Agas : “Ketika kita sudah paham ketika spirit tidak punya gender, berarti semua gender sama. Apapun orientasi seksualnya. Daging ini adalah kendaraan kita hidup di dunia, tapi ketika mati kita tidak akan lagi menggunakan tubuh laki-laki atau perempuan ini lagi. Kalau dari yang aku pahami sih ya nanti setelah mati kita ndak akan dibedakan lagi antara laki-laki dan perempuan tapi energi maskulin dan feminin. Yang sekarang ada di tubuh laki-laki belum tentu full energi maskulin bisa jadi energi feminin lebih banyak. Kalau aku sih sadar betul sisi feminin ku lebih besar dari maskulin-ku,”

Dedy : “Kalau kita berdua, ber-spiritual itukan ranah yang sangat pribadi dan kita menikmati proses itu. Aku sama kayak Agas, perjalanan spiritual kita panjang sampai akhirnya aku belajar semua agama dan akhirnya berlabuh di Hindu. Bukan karena Agas tapi karena pencarian ku sendiri.

Kami menikmati proses spiritual itu, menikmati kedekatan kami dengan Sang Pencipta, Sang Pemilik Atman dan tubuh ini. Tapi kita tidak bisa mengindahkan dengan serta merta…

Ada teman kami, laki-laki selalu berpenampilan perempuan, tapi ketika datang ke pura, dia tetap pake pakaian adat laki-laki, gak pake kebaya Bali. Artinya apa? Dia berspiritual dengan caranya sendiri, dia terima keadaan dirinya. Tuhan pasti tahu apa yang terjadi dalam dirinya, dia merasa dia wanita tapi ketika harus bermasyarakat, beribadah di depan semua orang ndak mungkin dia pake kebaya, karena dia masih memikirkan hubungan dengan keluarga, lingkungan, karena belum semua terima keadaannya.”

Agas : “Tapi kalau mau pake pakaian perempuan pun sebenarnya nggak masalah. Kita di Hindu, misal sembahyang sendiri, ibarat ndak pake sehelai benang pun nggak masalah. Di Hindu itu tidak ada cara yang mutlak dan pasti untuk cara bagaimana beribadah. Karena ada satu sloka (ayat) di kitab pun yang bilang ‘Dengan cara apapun engkau menemui aku, dengan cara itu pula aku menemui kau,’ Aku menemui engkau tanpa membeda-bedakan. Tuhan itu ya nggak mandang bahkan orang-orang spiritual menafsirkannya ya misal orang Islam akan ditemui Tuhannya dengan cara orang Islam percayai, begitu juga dengan Kristen, dll. Jadi sebenarnya universal banget.

Kalo soal praktik keagamaan, aku pribadi nggak pernah sama sekali ada masalah. Bahkan aku nyaman banget di lingkungan ashram, entah mereka tau aku gay atu nggak, aku merasa sangat diterima,”

Asrul :Berarti Hindu itu lebih fluid ya sebenarnya?"

Dedy : “Iya betul. Sampai akhirnya aku jatuh cinta menjadi Hindu tuh aku nyaman aja tanpa melihat agama sebelumnya begini begitu. Itu cukup aku aja yang tahu karena gimana pun itu sangat personal,”

Agas : “Di Hindu juga banyak kok yang kontra sama kita, jadi balik lagi urusan sama orang lain udah deh, yang penting keluarga udah terima tinggal hubungan kita dengan Tuhan-nya gimana. Aku yakini, kalau kita nggak bahagia sama diri kita, mau nyari kebahagiaan sejati itu sulit ya. Gimana kita mau mencapai Tuhan sedangkan di Hindu itu, Tuhan adalah kebahagiaan sejati. Nah bagimanakita menyatu dengan kebahagiaan sejati kalau kita ndak bahagia dulu dengan apa yang kita punya sekarang?”

Asrul :Kalau orang Jawa kan ada Wali Songo. Ada Syekh Siti Djenar dengan ajarannya, Manunggal Ing Kawula Gusti. Waktu Agas ngomong itu gue jadi keinget,”

Agas : “Sama. Karena tujuan umat Hindu adalah menyatu dengan Tuhan atau Moksa. Di Hindu itu kan ada dilahirkan kembali ya, jadi surga bukan tujuan akhir. Tujuannya menyatu dengan Sang Brahma. Sepengetahuanku yang dangkal ini ya, yang hidup didalam kita adalah Atman, sebetulnya Tuhan itu sendiri. Tapi karena kita terlahir begini, terikat dengan kedagingan, jadi kita lupa jati diri kita padahal kita sebenarnya menyatu dengan Tuhan. Bahkan di Hindu sendiri, yang hidup di dalam hewan, tumbuh-tumbuhan itu sama dengan kita, atman juga. Yang membedakan adalah karma kita makanya kita terlahir sebagai manusia.

Bahkan aku sempet dengar konsep Sufisme dalam Islam, intinya ‘kemana aku melihat, aku melihat Tuhan’. Sebenarnya konsep itu sama,”

Dedy : “Kalo kita lihat sebenarnya akar cinta kasih sumbernya dari situ. Gimanapun juga kalau kita melihat ada Tuhan di tubuh orang lain, di hewan, tumbuhan, logikanya kita ndak akan menyakiti mereka. Karena kita sama dengan mereka,”

Agas : “Itu teorinya ya Kak, praktiknya sulit banget. Kadang kita suka bermasalah sama sesama manusia,”

Dedy : “Kadang sama diri sendiri juga tengkar, haha..”

Agas : “Konsep yang di Hindu tadi itu namanya ‘Atman Brahman Abikiam’. Artinya sesungguhnya atman dan brahman adalah satu. Atman itu kita, Brahman itu Tuhan,”

Asrul :Soal bahagia. Bahkan mendefinisikan kebahagiaan ketika kita mengalami itu kan susah bahkan nggak nyadar. Tapi ketika terlewati, baru ngeh. Dalam konteks soal spiritualitas dan kebahagiaan, kalian sendiri proses yang kalian lewati gimana? Dan ketemu nggak definisi itu?”

Agas : “Pertama. Aku pernah ada di fase ketika aku bisa hidup di present moment ternyata bahagia se-simple itu. Tidak perlu pikir jauh ke belakang atau ke depan, bahagia itu sudah aku rasain. Kedua, jujur aku bersyukur punya perasaan kayak gini. Dulu kami di jok motor itu selalu ada dog food sama cat food untuk anjing atau kucing liar. Bahagia ternyata se-simple itu.

Aku sama Dedy dah pasti nggak punya anak, dan pasti juga tidak adopsi anak. Sementara ini begitu, karena aku berpikir masa depan si anak. Orang yang di Amerika sana terima gay aja masih di bully apalagi di Indonesia. Gimana kita harus kasi pengertian ke mereka kalo punya daddy dua tapi ndak punya ibu. Itu yang sulit. Mungkin kalo secara materi masih bisa diupayakan, cuman kebahagiaan kami tuh untuk yang jangka panjang yaitu punya panti asuhan dan panti jompo. Itu goals kita. Itu definisi bahagia kami. Kesannya gimana gitu kalo diomongin tapi ya memang begitu,”

Dedy : “Kalo aku sih secara garis besar sama karena kita untungnya ketemu dengan banyak kesamaan terutama konsep bahagia tadi. Aku dulu sempet membenci kehidupan ini dan capek. Terlalu banyak masalah. Kemudian aku pengen jadi biksu, enak kali yak nggak mikir apa-apa lagi. pokoknya hidup buat Tuhan. Sampai aku di momen aku tersadar, Agas yang menyadarkan sih, kalo kita bisa hidup bahagia dengan membahagiakan orang lain juga, kenapa tidak. Akhirnya kita punya niatan, final goal bukan soal materi tapi main goal adalah itu yang bener-bener kita urusin, panti asuhan dari mereka baby sampai 18 tahun, kita pengennya tidak terlalu mengandalkan bantuan dari luar,”

Agas : “Soalnya aku dah rasain sendiri, kerja di yayasan untuk biaya makan butuh donasi kan gak bisa terus-terusan. Kenapa ndak kita yang biayain kalo financially stable gitu. Pikiran kayak Dedy tadi pengen jadi biksu, itu menurut ku pemikiran pengecut,”

Dedy : “Bukan semua orang yang jadi biksu begitu lho ya..”

Agas : “Oh nggak, nggak. Pikiran yang muncul begitu ketika kita punya masalah, tidak punya apa-apa. Yang menjadi hebat adalah ketika kamu punya segalanya dan tetap berpikir untuk jadi biksu. Tapi kalau lagi miskin, hidup banyak masalah, dah mengasingkan diri dari orang-orang, mengabdikan diri untuk Tuhan. Padahal sebenarnya jalan melayani Tuhan itu banyak. Menyantuni orang miskin, ngasi makan hewan liar, balik lagi ke konsep Hindu bahwa Tuhan ada dimana-mana.

Orang bilang nyari rejeki secukupnya aja yang penting makan cukup untuk hari ini. Menurutku, itu agak egois nggak sih? Menurut aku, karena mereka berpikir Tuhan itu cuman ngasi rejeki buat mereka sendiri, dihabisin sendiri. Padahal Tuhan ngasi rejeki itu kan ada sebagian yang dititipin untuk ngasi ke orang lain. Sama dengan goal panti kita, butuh duit, besar. Makanya pengen sejahtera. Ketika Tuhan ngasi kekayaan, Tuhan sedang menitipkan rejeki buat jadi berkat buat orang lain,”

Dedy : “Bahagia ketika melihat orang lain bahagia,”

Asrul : “Kalo cerita bahagia kalian ini dulu mulainya kayak gimana?”

Agas : “Dari tahun 2014, aku gampang tersentuh, cengeng, melankolis banget. Ikut jadi relawan satwa. Bergaul dengan orang-orang yang bukan memperjuangkan diri tapi juga hak hidup makhluk lain, itu jadi ngebentuk hati dan aku tahu ini bahagia-ku. Bisa jadi orang sudah menemukan bahagianya tapi cuma bertahan sampai pada saat itu saja. Contoh, ada orang yang happy dengan dugem, selesai dugem ya bahagianya selesai. Bisa juga karena belum tahu aja moment happy banget mereka itu. Tapi kalo aku mulai kapan, ya munculnya halus banget sih, dan tidak dibuat-dibuat.

Satu lagi. Bahagianya kita bedua itu adalah pengennya hidup mengasingkan diri. Rumah yang bagus, di pegunungan. Bangun pagi terus berkebun, kalau dibayangin sekarang tuh kayak bulu kuduk merinding,”

Dedy : “Aku beruntung dipertemukan dengan orang yang sama. Mungkin kalo temen-temen liat story medsos kita belakangan berhubungan dengan materi ya karena kita realistis, Kita hidup dimana materi itu bisa mengusahakan semuanya. Apa-apa butuh duit. Kenapa tidak kita jadi sejahtera dengan tujuan bisa berbagi,”

Asrul :Kalian sinkron banget ya. Kan udah tiga tahun nih. Untuk sampe kesana, kan kalian klop banget. Mungkin orang liat bagian itu aja, tapi kan ada proses yang dilewati. Kayak gimana?”

Agas : “Pada dasarnya kita suka ngobrol. Jadi dulu awal jadian, aku tanya Dedy alasan milih aku. Kalau udah tua kan kita udah jelek nggak kayak dulu lagi, satu-satunya yang bisa bikin bertahan adalah obrolan. Kita bisa ngobrolin banyak hal, berjam-jam. Even lagi berantem, akhirnya ngobrol. Kalo bosen aja ya ngobrol. Eh tapi jangan ujug-ujug ditiru ya, kalo misalnya nggak biasa diomongin gitu. Dulunya aku takut pisah sama pasangan, nempel banget. Cuman belakangan aku sadar, kita butuh ‘me time’ kan Dedy suka nulis, atau ke pantai kek, atau tiduran yang penting sendiri.

Itu ternyata dibutuhkan at least seminggu sekali. Kalau urusan ranjang, lagi bosan, ya staycation kek cari suasana baru,”

Dedy : “Kalau aku dulu pas awal kenal, tukeran nomer hp telponan bisa empat jam. Ngobrolnya soal perjalanan spiritual. Nggak romantic, mungkin terlalu berat untuk sebagian orang,”

Agas : “Bukan berat, tapi ngebosenin,”

Dedy : “Iya ngebosenin. Bahkan kadang cuma ngobrolin bintang, kan kita senang astronomi. Lagi nabung buat beli teleskop. Kita pengen kalau nanti punya rumah di rooftop nya tuh ada spot untuk ngamatin bintang. Itu makanya kita nggak berusaha dicocok-cocokin. Bunda Anne Avantie pernah bilang ‘dalam pernikahan itu ndak ada orang yang 100 persen, tapi dicocok-cocokkin’. Tapi emang udah ada beberapa yang emang cocok, itu yang makin melekatkan kita. Kalo nggak cocok ya dicocokkin aja,”

Agas : “Kalau dicari nggak cocoknya, banyak lho kak. Kita sama-sama keras kepala, temperamen parah. Aku kalo marah deskruktif,”

Dedy : “Dulu aku lebih galak, sekarang dia lebih galak hehe..”

Agas : “Soalnya udah ku serahkan kepemimpinan hubungan ini padanya. Karena balik lagi, di suatu hubungan nggak bisa ada matahari kembar. Kalau kita gontok-gontokan, ya susah sama-sama keras. Aku tadinya berpikir, Dedy kan 11 tahun lebih tua daripada aku. Aku pengen dia yang mimpin. Tapi kalau misal aku rasa ada yang gak sesuai, biasa lah idealisnya aku, jadi nggak enak ya dia biarkan aku jadi yang lebih dominan,”

Dedy : “Tapi bener sih. Untuk dua orang yang keduanya alpha awalnya susah, tapi ada satu momen dimana aku sadar, aku sedang bertumbuh ke dalam. Kalo nggak ketemu dengan Agas, aku tidak dibenturkan dengan orang yang sifatnya sama, bisa jadi aku jadi sosok yang keras kepala, egois selamanya. Tapi aku dipertemukan dengan sosok yang jadi cerminan diriku, aku belajar oh ini aku harusnya bisa lebih sabar, menjaga emosi, bisa lebih bijaksana. Bisa jadi orang bilang ‘gue emang kayak gini, lu mau terima gue apa nggak’. Tapi apakah gue kayak gini itu baik buat kita atau justru itu bisa menghancurkan kita secara tidak sadar? Ternyata aku bisa.

Dan efeknya itu bagus. Misalkan aku dulu tuh kalo ngantri ada yang nyerobot, aku emosi langsung keluar, ta omelin abis-abisan didepan orang, tapi sekarang nggak. Jadi lebih berdialog dengan diri sendiri dan itu nyaman banget,”

Asrul :Kapan itu liat di sosial media kalian disebut sebagai as a ‘power couple of the internet’. Artinya orang melihat kalian pasangan yang ideal. Kalian melihat hubungan yang ideal tuh yang gimana sih? Kayak sekarang ini ataukah adakah titik-titik yang masih ingin kalian capai?”

Agas : “Kalau aku sih jalanin aja,”

Dedy : “Menurutku sih hubungan ideal tuh nggak ada. Itu cuma ada di ide kita. Yang ada tuh hubungan yang kita usahakan agar mendekati ideal. Kita pengen apa ya kita usahakan,”

Agas : “Tapi pertanyaannya adalah, yang kayak gimana?”

Dedy : “Masing-masing punya idealisme-nya sendiri. Ada yang orang ingin idealnya itu nggak berantem sama sekali, ada yang idealnya kalo punya masalah nggak usah lah terlalu panjang, dsb. Menurutku ya, idealnya kita ya ada apa-apa dikomunikasiin,”

Agas : “Kalau kayak siapa, aku belum nemu tapi aku pribadi bukan tidak bahagia dengan hubungan yang sekarang. Aku happy banget, cuman ideal ato belum aku ngerasa belum. Kita tuh kayak bercermin ternyata kayak gini menghadapi Agas kayak gini. Bener-bener persis, cuman bisa kita nge-rem, apalagi kalo misalnya Dedy lagi nggak bisa dingertiin, berantem terjadi. Bisa jadi di kepala, ini bentuk rasa tidak bersyukur, pengen nggak berantem, nggak mood-moodan tapi kenyataanya masih ada. Tapi di dunia ini susah banget nyari yang kayak gitu, plus hambar banget nggak sih kalau di dunia ini nggak ada masalah sedikit-sedikit, malah nggak ideal. Kayak Andrew White sama Nana Mirdad kali yak haha..Mungkin orang lain ngeliat kita, atau kita liat mereka kayak couple idaman,”

Dedy : “Rumput tetangga akan terlihat lebih hijau…”

Agas : “Padahal nggak tahu kan dalamnya kayak gimana, proses yang mereka lalui juga gimana,”

Asrul :Cinta menurut kalian, maknanya apa?”

Agas : “Ini yang jawaban yang selalu aku pegang. Cinta itu adalah saling mendengarkan, saling menghormati, saling menerima, saling mengampuni, dan saling mengasihi,”

Dedy : “Menurutku, cinta itu apa ya? Gila sih nggak bisa aku jelasin. Tapi esensinya, cinta itu adalah sesuatu yang bisa membuat kita bahagia, apapun itu. Bagi itu kepada diri sendiri, ke dalam mau pun ke luar. Kalau kita bisa merasakan bahagia dengan apa yang kita lakukan, bahagia dengan kondisi kita maka kita artinya ada dalam tahapan cinta ke diri kita. Ketika kita keluar, kita bisa melihat orang lain bahagia dan kita ikut bahagia, ya itulah cinta,”

Baca juga : Boya dan Xandra : Media Sosial Jadi Ruang Representasi Yang Tepat Bagi LGBTIQ+

Kalau kamu punya saran, komentar, atau ingin berbagi cerita boleh banget email ke podcast@kbrprime.id dan tulis ‘Love Buzz’ untuk subject email-nya.

Tuhan itu nggak memandang gender atau jenis kelamin. Cuma ya kita-nya aja kali ya, manusia ini yang demen pandang memandang lalu membeda-bedakan. Bahkan kemudian mengecualikan.

Kunjungi kbrprime.id untuk menyimak beragam podcast lainnya dari KBR.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Toilet Sehat untuk Semua, Sudahkah Terpenuhi?