Pembangunan 'Jurassic Park' Terus Berjalan, KLHK: Jumlah Komodo Stabil

Jumlah biawak komodo pada 2018 sebanyak 2.897 ekor dan pada tahun 2019 bertambah menjadi 3.022. Konsentrasi populasinya berada di Pulau Komodo dan Pulau Rinca.

BERITA | NASIONAL

Kamis, 29 Okt 2020 06:00 WIB

Author

Ardhi Rosyadi, Dwi Reinjani, Sadida Hafsyah

Pembangunan 'Jurassic Park' Terus Berjalan, KLHK: Jumlah Komodo Stabil

Komodo di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo, NTT (Antara/ Muhammad Iqbal)

KBR, Jakarta - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut jumlah populasi komodo di Lembah Loh Buaya relatif stabil bahkan meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

KLHK merinci total jumlah biawak komodo pada 2018 sebanyak 2.897 ekor dan pada tahun 2019 bertambah menjadi 3.022. Konsentrasi populasinya berada di Pulau Komodo dan Pulau Rinca.

Sementara di Pulau Padar hanya 7 ekor, 69 ekor di Gili Motang, dan 91 ekor di Nusa Kode.

"Populasi biawak komodo di Lembah Loh Buaya adalah 5 persen dari populasi di Pulau Rinca atau sekitar 66 ekor. Bahkan populasi biawak komodo di Lembah Loh Buaya selama 17 tahun terakhir relatif stabil dengan kecenderungan sedikit meningkat di 5 tahun terakhir,” ujar Wiratno, dalam keterangan pers virtual KLHK, Rabu (28/10/2020).

Dari fakta tersebut Wiratno menyebut bahwa Komodo saat ini dilindungi secara serius dan konsisten.

Sementara itu, berkaitan dengan pembangunan proyek di Taman Nasional komodo khususnya di Pulau Rinca diklaim terus dilakukan dengan hati-hati tanpa mengganggu populasi komodo.

Ia tak menampik jika pembangunan 'Jurassic Park' yang ditargetkan ramung 2021 itu menggunakan alat berat.

"Untuk itu, kegiatan pengangkutan material pembangunan yang menggunakan alat berat harus dilakukan, karena tidak dimungkinkan menggunakan tenaga manusia," ujarnya.

Ia memastikan pembangunan ini sesuai dengan aturan konservasi yang berlaku. Pembangunan ini juga diawasi oleh para ranger.

Ranger atau pemandu yang berada di kawasan Taman Nasional Komodo dituntut untuk mampu menjelaskan segala hal mengenai satwa endemik tersebut serta menghalangi segala jenis interaksi langsung oleh pengunjung yang dinilai berbahaya.

“Setiap hari dipastikan 10 ranger untuk memastikan bahwa dia (Komodo) tidak masuk di wilayah proyek itu. Dengan saya akan hadir di lapangan untuk memastikan protocol lebih ketat atau bagaimana, pembangunan di daerah sensitif ini. Jadi Komodo dulu waktu kita membangun sarana prasarana itu juga di situ ada komodonya, jadi kita tidak memindahkan atau mengusir Komodo itu dari tempat itu," imbuhnya.

Penolakan Pembangunan

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menuding pengembangan wisata di Pulau Rinca, Nusa Tenggara Timur (NTT), tak berbekal Analisis Masalah Dampak Lingkungan (Amdal) ataupun Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RKL-RPL).

Direktur Walhi Nusa Tenggara Timur Umbu Wulang Tanaamahu Paranggi menilai pembangunan berskala besar di lokasi tersebut justru mengancam kehidupan komodo.

Ia mengklaim sudah menyampaikan penolakan terhadap proyek itu sejak tahun lalu, namun tidak membuahkan hasil.

Belakangan, justru viral foto di media sosial yang menunjukkan seekor komodo berhadap-hadapan dengan truk membawa perlengkapan konstruksi. 

Foto tersebut diduga berada di Pulau Rinca, NTT, Taman Nasional Komodo yang merupakan habitat hewan endemik, komodo.

"Katanya untuk melindungi heritage di sana. Kami di Walhi ini kan juga anggota komisi tim penilai Amdal provinsi. Sampai hari ini itu nggak ada Amdal-nya. Nggak ada RKL-RPL-nya. Padahal land clearing, pembersihan lahan sudah dilakukan," kata Umbu ketika dihubungi KBR, Senin (26/10/2020).

Umbu mengatakan aturan melarang ada kegiatan pembersihan lahan (land clearing) sebelum beres urusan izin lingkungan.

"Ini nggak ada pembahasan Amdal, nggak ada pembahasan RKL UPL. Tiba-tiba land clearing sudah berlangsung, tiba-tiba alat-alat berat sudah masuk, tiba-tiba truk sudah masuk ke sana gitu," jelas Umbu.

Direktur Eksekutif Walhi NTT Umbu Wulang Tanaamahu Paranggi curiga pemerintah tidak serius melindungi spesies komodo di habitatnya. Sebab cara kerja pemerintah tidak sesuai dengan kaidah lingkungan hidup atau secara khusus, perlindungan satwa ini.

Komodo (Varanus komodoensis) merupakan salah satu spesies kadal langka dan merupakan satu-satunya binatang purba yang masih bertahan hidup hingga saat ini. 

Sifat alaminya soliter, kecuali saat musim kawin. Menurut Umbu, kekhasan komodo ini membuatnya rentan terhadap perubahan besar.


Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Dorong Penggunaan Medis, PBB Hapus Ganja dari Daftar Narkotika Paling Berbahaya

Liburan di Rumah Aja! #coronamasihada

Eps9. Bijak Energi

Menanti Nasib Ekspor Benur

Kabar Baru Jam 7