Mitos dan Fakta Kanker Payudara

Mitos berikutnya yang kerap ditemuinya adalah temuan benjolan di payudara sudah pasti kanker. Menurutnya, tidak semua benjolan di payudara itu tumor ganas, karena bisa saja itu merupakan hasil radang akibat shaving bulu ketiak.

BERITA | NASIONAL

Jumat, 05 Okt 2018 18:57 WIB

Author

Yogi Ernes

Mitos dan Fakta Kanker Payudara

Dr. dr Andhika Rachman, SpPD, KHOM, FINASIM menjelaskan mengenai kanker payudara kepada KBR

KBR, Jakarta - Badan Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi pada 2030 kelak jumlah penderita kanker payudara pada perempuan bakal meningkat 7 kali lipat. Peningkatan ini bisa dipicu akibat masih banyaknya masyarakat yang mempercayai mitos soal kanker payudara yang, tak semuanya benar.

"Jadi yang harus diperhatikan kanker payudara bagi perempuan itu bisa terjadi setelah menstruasi pertama. Lalu masa peak kemungkinan terkena bagi perempuan sendiri terjadi di usia 40-50 tahun, dengan faktor genetik mengambil peran penting dalam penyebabnya," jelas Andhika Rachman.

Andika Rachman yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam di RSCM mengungkapkan seluk beluk seputar kanker payudara bercerita di program Ruang Publik KBR, Jumat (5/10/2018). Misalnya soal gejala awal tumor ganas ini yang sebenarnya bisa kita deteksi sendiri.

Dalam penjelasannya, ia merekomendasikan bagi perempuan usia 17 tahun ke atas untuk memeriksa payudara sendiri tiap bulan. Waktunya saat sepekan setelah menstruasi. Sebab pada masa tersebut, payudara tidak sedang dikontrol oleh hormon.

Ketika saat pemeriksaan tersebut ditemukan benjolan pada payudara, maka hal yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi jenis benjolan. Apakah misalnya, benjolan tersebut tergolong benjolan jinak atau ganas--yang merupakan cikal bakal kanker payudara.

"Ciri benjolan jinak itu dia bakal menimbulkan nyeri dan berwarna kemerahan. Terus benjolan tersebut bisa digoyangkan dan kemungkinan bertambah besarnya itu kecil. Selain itu  benjolan jinak juga cirinya bisa tumbuh lebih dari satu," papar Andika.

"Jika benjolan ganas itu kebalikannya dari ciri benjolan jinak. Jadi kalau benjolan itu sama sekali tidak menimbulkan nyeri dan ukuran pembesaran benjolannya cepat serta lebih mudah mengalami luka, maka bisa dikategorikan benjolan ganas," sambungnya.

Lalu ketika kita sudah menemukan ciri-ciri benjolan jinak atau ganas di payudara kita, langkah apa yang selanjutnya diambil?

"Jika ada segeralah periksa ke dokter bedah onkologi atau medical onkologi. Bisa juga ke dokter radiologi untuk lakukan USG payudara."

Terkait mitos seputar kanker payudara yang selama ini beredar di masyarakat, Andika menjelaskan bahwa tak semua cerita itu benar adanya. Ia mencotohkan, pernyataan yang menyebut bahwa konsumsi daging merah akan menyebabkan kanker payudara. Ini termasuk mitos. Kata Andika, informasi itu keliru.

Yang benar, ia mejelaskan, pengolahan daging merah yang salah lah yang bisa memicu kanker. Misalnya saat proses pembuatan nugget yang salah akan menghasilkan senyawa nitrat yang merangsang sel pada individu-individu dengan risiko kanker terkena kanker usus, bukan kanker payudara.

Mitos berikutnya yang kerap ditemuinya adalah temuan benjolan di payudara sudah pasti kanker. Menurutnya, tidak semua benjolan di payudara itu tumor ganas, karena bisa saja merupakan hasil radang akibat shaving bulu ketiak.

Andika juga menjelaskan perihal mitos konsumsi mi instan yang bisa menyebabkan kanker. Andika menekankan, sebetulnya bukan mi instanlah yang menyebabkan kanker melainkan kandungan penyedap rasa seperti MSG yang memicu munculnya kanker.

"Jadi konsumsi MSG dalam mi instan yang terhitung kumulattif yang bisa mengakibatkan kanker, bukan hanya kanker payudara tapi juga kanker-kanker yang lain," kata dia.

Pada akhir perbincangan, Andika mengimbau para perempuan untuk rutin memeriksa payudara sendiri tiap bulannya setelah sepekan menstruasi. Ia mengatakan kegiatan tersebut terbukti mampu mengurangi risiko kanker payudara.

"Sebuah penelitian bilang, kalau pemeriksaan tersebut mampu mengurangi penyakit kanker hingga 40%. Hal tersebut karena ketika kita deteksi sedini mungkin, jadi penangangan dari dokternya juga lebih cepat dan mendorong mengurangi bahaya kanker payudara itu sendiri," ungkap Andika.



Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Pilkada Serentak Diwarnai Calon Tunggal