Bagikan:

KNTI: Nelayan Kecil Terbebani Mahalnya Ongkos Melaut

Kesulitan ekonomi para nelayan itu akibat beban ongkos melaut yang kian mahal.

NASIONAL

Selasa, 13 Sep 2022 16:47 WIB

ongkos melaut

Sepasang nelayan tua mengangkut hasil panen rumput laut di Pantai Kuri Caddi, Maros, Sulsel (26/7/2020). (Foto: ANTARA/Arnas Padda)

KBR, Jakarta - Kalangan nelayan kecil mulai mengalami kesulitan ekonomi, imbas dari kenaikan harga BBM subsidi. Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Dani Setiawan mengatakan, kesulitan ekonomi para nelayan itu akibat beban ongkos melaut yang kian mahal. Dani menyebut, harga Solar di lapangan kini sudah mulai berada di kisaran 8 hingga 9 ribu rupiah per liter.

"Otomatis dengan beban tambahan biaya melaut semacam itu, pengeluaran nelayan juga semakin meningkat. Tetapi dari sisi yang lain sebenarnya harga ikan belum ada tanda-tanda meningkat kalau dalam laporan anggota KNTI," ujar Dani saat dihubungi KBR, Selasa (13/9/2022).

Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Dani Setiawan menambahkan, saat ini nelayan kecil hanya bisa pasrah, dan berharap ada bantuan keuangan dari pemerintah. Apalagi para nelayan dijanjikan mendapat bantuan pemerintah daerah, melalui alokasi 2 persen dari dana alokasi umum dan dana bagi hasil.

Baca juga:

BBM Subsidi Naik, Pemda Segera Bentuk Program Bansos

Penaikan BBM, PP Muhammadiyah: Buat Rakyat Makin Melarat

Bantuan itu diharapkan bisa meringankan beban para nelayan, yang omzet pendapatannya kini terus menurun terdampak kenaikan harga BBM.

Editor: Fadli Gaper

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Komunitas Biboki Lestarikan Tenun Ikat Tradisional

Living Law, Apa Dampaknya Jika Masuk dalam RKUHP?

Kabar Baru Jam 10