covid-19

Percepat Penurunan Stunting , Ini Strategi BKKBN

“BKKBN ingin menempatkan diri untuk menjadi pendamping keluarga (sebelum hamil/pra nikah, hamil dan masa interval) dengan dukungan dari Penyuluh KB, Kader, PKK serta bidan desa,"

BERITA | NASIONAL

Jumat, 03 Sep 2021 16:01 WIB

Author

Kurniati

 Percepat Penurunan Stunting  , Ini Strategi BKKBN

ilustrasi

KBR, Jakarta – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana menilai, pencegahan stunting atau kekerdilan pada bayi seperti layanan pemeriksaan kehamilan atau perawatan bayi baru lahir belum terasa gaungnya.

"Meski isu stunting di tingkat pusat hingga kabupaten/kota sudah cukup mendapat perhatian tinggi, namun di tingkat desa untuk perubahan perilaku pelayanan kesehatan terkait masih belum terasa," kata Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo ketika dihubungi KBR di Jakarta, Jumat (3/9/2021).

Hasto menjelaskan, BKKBN membuat rencana aksi nasional yang akan dilaksanakan untuk percepatan penurunan stunting melalui pendekatan keluarga berisiko.

Di antaranya, lanjut Hasto, melalui penyediaan data keluarga berisiko stunting; pendampingan keluarga berisiko stunting; pendampingan calon pengantin/pasangan usia subur (PUS); surveilans keluarga berisiko stunting dan audit kasus stunting.

“BKKBN ingin menempatkan diri untuk menjadi pendamping keluarga (sebelum hamil/pra nikah, hamil dan masa interval) dengan dukungan dari Penyuluh KB, Kader, PKK serta bidan desa," jelasnya.

Saat pertemuan dengan Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, Rabu (1/9/2021) lalu, BKKBN, kata Hasto, juga mengusulkan agar Kementerian Kesehatan menempatkan satu bidan di setiap desa di Indonesia.

"Apalagi menurut IBI (Ikatan Bidan Indonesia) masih ada desa yang belum memiliki bidan pemerintah,” ungkapnya.

Hasto menambahkan, upaya pencegahan stunting sudah banyak dilakukan melalui intervensi sensitif seperti sanitasi, air bersih, kemiskinan, pendidikan dan spesifik seperti pranikah, hamil, interval.

"Intervensi-intervensi ini masih terbatas, imbas pandemi covid-19, di mana anggaran lebih difokuskan untuk penanganan wabah virus korona," pungkas Hasto Wardoyo.

Baca juga:

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Tuberkulosis (TB) pada Anak