'Sudah Biasa, Pelanggar HAM Dapat Promosi Jabatan di Negeri Ini'

Pengangkatan Hartomo sebagai Kepala BAIS menunjukkan negara tidak serius memenuhi keadilan korban dan keluarganya. Karena pelaku penjahat hak asasi manusia terus mendapat promosi jabatan.

BERITA | NASIONAL

Rabu, 21 Sep 2016 12:40 WIB

Author

Agus Lukman

'Sudah Biasa, Pelanggar HAM Dapat Promosi Jabatan di Negeri Ini'

Sejumlah orang menggotong jenazah tokoh Papua Theys Hiyo Eluay, usai ditemukan terbunuh, pada November 2001. (Foto: West Papua Media)



KBR, Jakarta
- Kalangan aktivis pegiat hak asasi manusia di Papua kecewa dengan sikap TNI yang mengangkat Mayjen Hartomo sebagai Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS). Padahal Hartomo merupakan salah satu terpidana kasus pembunuhan tokoh Papua Theys Hiyo Eluay pada 2001.

Direktur Aliansi Demokrasi Papua (ADP) yang pernah menjadi pengacara Theys, Latifah Anum Siregar mengatakan pengangkatan Hartomo menunjukkan negara tidak serius memenuhi keadilan korban dan keluarganya. Karena pelaku penjahat hak asasi manusia justru terus mendapat promosi jabatan.

"Ketika proses hukum sudah sampai pengadilan, sudah ada keputusan hukum tetap, tetapi belasan tahun kemudian karirnya terus menanjak. Kami tentu saja. Saya ingat ketika kejadian itu, Pak Ryamizard Ryacudu menyampaikan statemennya. Pembunuh Theys adalah pahlawan. Sekarang dia jadi Menhan. Jadi tidak ada yang berubah dari negara ini," kata Latifah Anum Siregar kepada KBR, Rabu (21/9/2016).

Baca: Terpidana Pembunuh Theys Eluay Diangkat Ka BAIS

Pada saat peristiwa pembunuhan Theys terjadi, Ryamizard menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad), dan kemudian ketika sidang pengadilan terhadap pembunuh Theys dijalankan, Ryamizard naik posisi ke Kepala Staf Angkatan Darat.

"Sudah biasa pelanggar HAM naik jabatan, dapat promosi jabatan. Walaupun Presiden Jokowi berjanji menyelesaikan berbagai kasus pelanggaran HAM, tapi kenyataannya tidak berubah... Janji dan fakta berbeda. Nggak ada yang percaya," kata Latifah.

Bekas pengacara Theys Hiyo Eluay, Latifah Anum Siregar mengatakan pada saat pembunuhan Theys Hiyo Eluay, Hartomo merupakan Komandan Satgas Tribuana 10 di Jayapura Papua. Ia diyakini mengetahui dan merestui penculikan dan pembunuhan yang dilakukan anak buahnya terhadap Theys Eluay.

"Dia harus diminta pertanggung jawaban. Logikanya tidak mungkin dia tidak tahu apa yang dilakukan anak buahnya. Ada tanggung jawab yang harus dituntut padanya sebagai komandan," kata Latifah.

Belakangan, karir Hartomo terus menanjak, hingga menduduki Gubernur Akademi Militer (Akmil) atau pemimpin tertinggi di sekolah militer Angkatan Darat. Latifah menambahkan selain Hartomo, pelaku pembunuhan Theys lainnya juga mendapat promosi jabatan meski sudah divonis bersalah oleh Pengadilan Mahkamah Militer.

Diantaranya Donny Hutabarat, yang justru menjadi Komandan Batalyon Infanteri 731 Kabaresi pada 2008. Donny sempat dicopot dari Komandan Yonif karena kasus penyerangan ke markas Polres Maluku Tengah. Namun pada 2011 ia diangkat menjadi Komandan Kodim di Medan Sumatera Utara.

Baca: Imparsial Tolak 5 Purnawirawan Jenderal dan 1 Sipil Jadi Menteri Jokowi

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Aplikasi LAPOR Dinilai Tidak Efektif Tanggapi Laporan Masyarakat

Kabar Baru Jam 15