Pengamat Ragukan Pengampunan Kelompok Teroris Santoso Bisa Sukses

Kepala BIN Sutiyoso menyebut, cara ini berhasil di Papua

BERITA | NASIONAL

Kamis, 21 Jul 2016 22:44 WIB

Author

Eli Kamilah, Ria Apriyani

Pengamat Ragukan Pengampunan Kelompok Teroris Santoso Bisa Sukses

Polisi rilis kelompok teroris Santoso yang berhasil dilumpuhkan (Foto: Antara)



KBR, Jakarta- Pengamat terorisme Al Chaidar ragu iming-iming pengampunan dari pemerintah bisa berhasil merangkul kelompok teroris Santoso yang belum menyerahkan diri. Menurutnya, tipikal kelompok akan menyerahkan diri jika kondisinya sudah terdesak. Sementara untuk saat ini, belasan anggota itu masih cenderung kuat.

"Akan ada efeknya, tetapi tingkat keberhasilannya tidak bisa diprediksi seratus persen, paling tidak 50 persen. Tetapi jangan juga terlalu berharap mereka akan memanfaatkan opsi ini untuk menyerah," kata Al Chaidar kepada KBR, Kamis (21/7/2016)

Meski menyambut baik upaya pendekatan lunak tersebut, pemerintah tidak boleh serta-merta menghilangkan hukuman pidana yang melekat karena kejahatan mereka kepada warga sipil. "Prinsip-prinsip hukum itu harus ditegakan. Karena ini negara hukum," ujarnya.

Kepolisian mencatat kelompok teroris Santoso tinggal 19 orang setelah dua orang tewas dalam baku tembak di hutan wilayah Tambarana, Poso, Sulawesi Tengah, Senin (18/7/2016). Kepolisian merilis, dua orang yang tewas itu adalah Santoso Abu Wardah dan salah seorang pengikutnya, Mukhtar.

Pengampunan Kelompok Santoso
Sebelumnya, Menkopolhukam Luhut Panjaitan mengatakan pemerintah sedang berusaha menyelesaikan masalah kelompok separatis dan teroris dengan pendekatan non represif.

"Ya kalau dia turun semua ya kita pertimbangkan untuk kita berikan pengampunan karena itu juga Warga Negara Indonesia. Tadi saya sampaikan pemerintah mendekati masalah ini dengan soft approach melalui agama dan budaya," kata Luhut, Kamsi (21/7).

Meski begitu, bukan berarti pendekatan represif ditinggalkan. Luhut mengatakan pendekatan represif akan dilakukan jika kelompok tersebut tidak lagi bisa diajak berdialog. Saat ini, menurutnya, pemerintah sedang berusaha berdialog dengan kelompok Santoso untuk menawarkan opsi tersebut.

Hal inilah yang ditawarkan pemerintah kepada kelompok Din Minimi. Pemerintah menawarkan pengampunan berupa amnesti ataupun abolisi selama kelompok tersebut bersedia koperatif.

Sementara, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso juga mengatakan pendekatan non represif akan diutamakan.

"DI/TII, Kahar Muzakar, Permesta, sampai OPM, kita selalu melakukan hard power. Kita lakukan perlawanan bersenjata itu kita lawan dengan senjata. Kita sudah hitung-hitung berapa korban kita, berapa cost yang harus kita keluarkan. Karena itu sekarang kita mengambil kebijakan untuk soft aprroach," jelasnya lagi.

Sutiyoso menyebut pendekatan ini telah berhasil menarik kelompok lain. Kata dia, 10 orang kelompok Goliat Tabuni di Papua sudah menyerahkan diri.

Editor: Dimas Rizky

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Jaksa Agung Diminta Klarifikasi Pernyataan bahwa Tragedi Semanggi I-II Bukan Pelanggaran HAM Berat