Konsumen Enggan Beli Daging Beku, Ini Siasat Pemerintah

Sementara itu ia juga menambahkan, kekhawatiran tidak lakunya impor daging beku telah disiasati dengan mengimpor daging karkas

BERITA | NASIONAL

Minggu, 05 Jun 2016 09:24 WIB

Konsumen Enggan Beli Daging Beku, Ini Siasat Pemerintah

Pedagang melayani pembeli di Pasar Badung, Bali. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta - Pemerintah mengklaim telah mendapat dukungan dari para pedagang, terkait kebijakan impor daging beku. Hal tersebut menanggapi kekhawatiran pedagang tradisional, dengan kebijakan impor tersebut. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Muladno menjelaskan, para pedagang sudah diberikan sosialisasi mengenai kebijakan yang akan diambil. Dalam sosialisasi itu kata dia, para pedagang juga diberi arahan bagaimana menyikapi kebijakan impor yang dilakukan pemerintah.

"Sebelum mengimpor daging sapi beku, kami sudah melakukan sosialisasi. Kami sudah mengumpulkan para pedagang pasar, para tokoh-tokoh, kami juga memberi tahukan barang yang diimpor seperti apa, siapa supliernya, kami juga minta supaya mereka harus membantu pemerintah, kami juga meminta mereka agar tidak memanfaatkan situasi, tetapi harus tetap pada aturan pemerintah sebab untung sudah diperhitungkan," katanya.

Sementara itu ia juga menambahkan, kekhawatiran tidak lakunya impor daging beku telah disiasati dengan mengimpor daging karkas. Daging karkas yang diimpor klaimnya, hanya memiliki perbedaan sekira lima jam sejak dipotong dan diterbangkan ke Indonesia.

"Daging karkas itu diimpor dari Australia. Jadi daging itu diterbangkan setelah dipotong. Itu masih segar, bahkan saat sampai di pedagang," ujarnya.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia, Ngadiran mengaku khawatir dengan kebijakan impor daging beku yang dilakukan pemerintah. Sebab kata dia, para pembeli lebih memilih daging segar yang baru saja dipotong lalu dijual, daripada membeli daging yang sudah beku. 

Editor: Sasmito

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Tengah Tersiksa tapi Tampak Tegar

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7